Kesiur angin mencumbu mesra dedaunan, menyulamkan diri pada lika-liku ranting dan dahan. Dedaunan mungil di perkebunan teh senantiasa berirama kecil dengan bantuannya. Akhir pekan menjadi waktu yang nikmat untuk menikmati seutuhnya keindahan alam Desa Semanggi. Kabut menyelimuti pagi, anak-anak tak kenal rasa malas. Mereka berbondong menuju rumah joglo di kebun teh—rumah seni yang dikelola oleh pemuda bersahaja, Biru. “Kamu lihat dia nyari tau alamatmu?!” seru Yuli heboh. Sementara Dinan hanya mengangguk santai sambil memasukkan dua bungkus mi ke dalam air yang sudah mendidih di atas kompor gas portable. “Trus?! Apa lagi yang kamu lihat?!” “Nggak ada. Aku salamin dia karena formalitas aja.” Dinan menunggu sampai mi-nya matang dengan baik. “Jadi, aku cuma liat cuplikan sekilas.” “Harus

