“Kadang kehadiran diri tak selamanya membuat lingkungan merasa senang.” Tama Wijaya Bagaimana rasanya hatiku, saat sebuah hinaan kembali kudengar. Siapa juga yang ingin menjadi yatim piatu. Tanpa ayah dan tanpa ibu. Aku seakan terlunta tanpa arah dan tujuan. Seseorang yang baik, seperti memungutku dari tumpukan sampah. Namun, tak berselang lama, seseorang ingin mengembalikanku lagi di tempat sampah. Sungguh, rasanya getir sekali hatiku. Aku bukan wanita yang dengan mudahnya meneteskan air mata. Tapi aku tak memungkiri, bahwa jika dadaku sudah mulai sesak, aku pun selalu menghadirkan kristal bening dari kedua pelupuk mataku. Dan kini, aku kembali tercengang dengan setiap kata yang dilontarkan bu Yanti padaku. Aku tak kuasa menahan sakit di d**a. Keberadaanku hanya membuatnya terus

