Akku pikir, pernikahanku dan Ran cuma mimpi. Tapi, ini kenyataan. Buktinya, rasa jengkelku yang tadi malam masih terasa sampai sekarang. Bisa-bisanya dia tidur malah peluk guling, bukan peluk aku yang lebih aduhai ini. Pengin rasanya, aku dorong sampai terjungkal. Tapi, mengingat perjuangan cinta kami amat sangat sulit mana tega melakukannya. Lagi pula, dosa juga durhaka sama suami. Aku bergeser, meraba tempat tidur. Oh My god! Suamiku ke mana? Kok, tidak ada di tempat tidur. Jangan bilang dia kabur setelah sadar dari kekhilafannya. Ya, buakn apa-apa, sih, aku masih merasa dia khilaf bisa jatuh cinta denganku. Mataku terbuka cepat dengan jantung yang berdebar. Langsung bisa bernapas lega waktu lihat Ran ternyata lagi duduk di kursi sambil sibuk buka komputer tabletnya. Terima kasih oh

