Mayang berbaring di sebelah Anjani. Kepalanya bersandar di secarik kain yang ia sebut sebagai bantal sementara tubuhnya berbaring di lantai kayu yang keras, tanpa selimut maupun alas tidur. Anjani memerhatikan wajah murung Mayang. Atma merah yang mengalir keluar dari tubuh wanita itu tampak bergetar dan lesu. Nyala cahayanya redup dan jumlahnya sedikit. Aroma darah tercium dari tubuh wanita itu. Anjani mengernyit sedikit. Tidak ada aroma lain selain aroma darah dan debu. Tidak ada aroma lelaki, bir murahan, apalagi arokma sisa-sisa pergumulan. “Ada masalah apa?” Anjani menghampiri Mayang, duduk bersimpuh di sebelahnya. “Kamu mau cerita?” Anjani kemudian menyadari bahu Mayang gemetar. Wanita itu berbalik memunggunginya. “Banyak….” gumam wanita itu dengan pelan. Hampir terlalu pelam ba

