Di dalam pikiranku, tidak ada apa pun saat itu. Kosong melompong. Mungkin memang biasanya isi kepalaku yang tidak berguna ini memang tidak ada bedanya dengan ruang kosong, tapi ketika kekosongan itu berisikan kilat putih membutakan yang siap membunuh, kekosongan yang ada di kepalaku terasa benar-benar berbeda. Dan akibat yang ditimbulkan pun berbeda. Sebelumnya aku hanya terus membiarkan isi kepalaku kosong. Kebanyakan kesempatan, aku membiarkan tanda tanya memenuhi kepalaku. Kemudian aku akan bertanya dan terus bertanya dalam kebingungan. Aku meminta jawaban, pada Anjani, Markandra, dan semua orang yang bisa aku tanyai tanpa pandang bulu. Aku akan menghabiskan waktu untuk mencari jawaban dari semua tanya itu. Tapi tidak lagi. Tidak sekarang. Rasa sakit di kakiku menjadi hal pe

