Suara tawa anak-anak yang terdengar ceria tanpa cela itu bergema di seluruh ruang antara yang mereka tempati. Suara itu tidak ada bedanya dengan suara tawa anak kecil pada umumnya di Marcapada. Suara tawa yang bisa didengar di mana saja. “Aku dengar Jayagiri cukup kacau hari ini.” Pria di depan Damastra angkat bicara. “Bagaimana kamu bisa menjelaskannya, Damastra?” Damastra menunduk lebih dalam. “Kamu boleh mengangkat kepalamu, Damastra.” Suara anak kecil itu berubah serius. Menunjukkan terang-terangan bahwa suara anak kecilnya dan tingkahnya sama sekali tidak cocok. “Dan katakan pada kami segera. Jangan buat kami menunggu.” Damastra mengangguk, menuruti perintah itu dan segera mendongakkan kepala. Menatap dua orang di hadapannya yang sudah menanti. Sang penghuni singgasana yang sebe

