bc

Om, Manjain Aku!

book_age18+
22
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
contract marriage
HE
age gap
friends to lovers
powerful
boss
heir/heiress
bxg
office/work place
like
intro-logo
Uraian

“Jangan, Pak ....”

“Panggil aku, Daddy Juan. Di luar ... aku bukan Om-nya, Alex.”

Karena sakit hati dan putus cinta, Indira memilih ke klub malam untuk bersenang-senang dengan sahabatnya, Celin. Tak disangka saat ma buk, Indira salah masuk ruangan dan malah dijebak dan dijual pada seorang pria─yang tidak bukan adalah Juan Del Luca, biliuner muda sekaligus Paman termuda di keluarga Alex. Akibatnya, Juan menjerat Indira dengan sebuah kontrak untuk memuaskannya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Membuang Pengkhianatan
"Apa beneran kita mau ke sini?" tanya Indira terus-menerus pada sahabatnya, Celin yang sedang menariknya menuju klub malam terkenal, The Excellent. Celin mendengus dan berbalik menghadap Cathy sambil manyun. “Kenapa sih kamu penakut banget?” Indira hanya tersenyum kecut sembari mengedikkan bahunya. Ia memang bukan gadis yang suka dengan kehidupan malam. Apa lagi ini kali pertama ia pergi ke tempat seperti itu. Itulah mengapa dia tampak ragu untuk masuk ke sana. Apa ide bagus menghabiskan malam di tempat itu setelah sakit hati pada mantan yang akan menikahi kakaknya? Indira hanya ingin melupakan kenyataan bahwa besok, mantan pacarnya Alex akan menikahi kakak tirinya, Merina. Alex Vendrino sudah memilih, dan bukan Indira yang menjadi pilihannya menghabiskan sisa usia dalam pernikahan yang bahagia. Rasanya menelan ludah pun berat dan sulit. “Ayolah, cuma buat malam ini aja. Kita ke dalam, cari cowok ganteng, dan joget sampai puas. Biar kamu gak merasakan patah hati itu lagi. Lupain dia ... lupain si Alex b******k itu!” ucap Celin dengan semangat membara, berniat membuat Indira melupakan Alex. Indira menoleh pada Celin dengan raut wajah cemas. Senyuman kecil terukir di bibirnya tapi ia memang tampak sangat ragu. Setelah melepas napas panjang, Indira pun mengangguk. “Oke.” Akhirnya Indira menyerah juga. Celin langsung memekik senang dan menarik tangan sahabatnya itu untuk masuk ke klub malam tersebut. The Excellent adalah salah satu klub malam paling terkenal di pusat kota. Sepanjang hidupnya, Indira tak pernah segila ini. Keluar tengah malam dan masuk ke klub malam untuk bersenang-senang, tidak pernah masuk ke dalam daftar hidupnya sama sekali. Sejak SMA, ia hanyalah siswi teladan yang pintar dan rajin. Orang-orang menyebutnya kutu buku, tapi dia tak pernah ambil pusing. Dia tak suka cari masalah dengan siapa pun, termasuk kakak tirinya, Merina, yang senang sekali mengerjai Indira. Bahkan saat ibu tirinya membuat hidupnya seperti neraka, Indira selalu bisa menemukan cahaya di setiap kesulitan. Hanya satu orang yang membuat dunia Indira terasa berwarna yaitu mantan kekasihnya, Alex Vendrino. Dia adalah salah satu cowok populer kaya raya di sekolah mereka. Menjadi pacar Alex adalah impian banyak gadis, dan Indira berhasil mewujudkannya. Sekalipun Alex yang memang memiliki perasaan lebih dulu, tapi Indira tetap sangat mencintai Alex. Gayung bersambut, Alex pun merasakan hal yang sama. Bahkan hubungan itu bertahan lebih dari enam tahun. Saat Indira mengira mereka akan menikah, semua harapan itu runtuh dalam semalam. Tanpa ada tanda apa pun, Merina tiba-tiba mengaku jika dirinya hamil dari Alex, dan mereka harus segera menikah. Indira hanya bisa menangis sekaligus syok berat. Ia tidak menyangka jika Alex bisa berselingkuh dengan kakak tirinya di belakangnya selama ini. “Ayo kita party!” seru Celin saat Indira malah terus menenggak minumannya. Semula, Indira hanya ingin mabuk dan merasakan kenakalan yang belum pernah terpikir sebelumnya. Rasanya ia bosan menjadi gadis baik-baik jika pada akhirnya dia selalu disakiti. “Aku nggak nyangka ternyata seseru ini,” ujar Indira dengan pekik kesenangan. “Aku belum pernah minum sebelumnya.” Celin tertawa keras begitu bahagia lalu mengangguk. “Tuh kan! Aku udah bilang juga apa. Pergi ke klub itu menyenangkan.” “Apa yang selama ini aku lakuin, sih? Bertahun-tahun aku berusaha jadi anak baik dan pintar, dan lihat apa yang Tuhan kasih ke aku,” ucap Indira sambil tertawa miris. Celin ikut tertawa dan mengangguk setuju. “Tapi ini bukan salah Tuhan, ya. Yuk, kita cari cowok keren di lantai dansa. Malam ini milik kita, wohoo!” Indira pun ikut tertawa dan menari bersama Celin. Meski mereka sama sekali tidak bisa menari, tapi tidak ada peduli. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Indira tertawa riang dan terus berdansa, meski kepalanya mulai berputar. Ia mengabaikannya rasa pusing akibat mabuk yang mulai dirasakannya. Saat Celin akhirnya menemukan seorang pria yang mau menari dengannya, ia pun pergi. Ia lupa pada Indira yang sedang ma buk untuk pertama kalinya. “Celin!” panggil Indira celingukan kanan dan kiri kebingungan. Ia tak bisa melihat sahabatnya lagi. Celin telah menghilang di antara kerumunan banyaknya orang yang bergoyang dengan suara musik yang begitu keras. Bahkan suara panggilan Indira tenggelam bersaing dengan suara musik. Para pengunjung yang berdesakan membuat Indira akhirnya terdorong ke sudut lantai dansa. Dengan kesal, Indira berjalan mencari Celin. Musik yang terlalu keras membuatnya makin pusing, dan ia malah naik ke lantai atas klub dengan langkah yang oleng. “Hei, cantik!” terdengar suara seorang pria menyapanya. Indira menoleh dengan tatapan polos. Ia menggeleng cepat karena pandangannya mulai kabur. Perutnya mulai merasa tidak nyaman. “Kamu lagi cari teman, ya?” tanya pria itu lagi. Indira dengan cepat mengangguk pada pria itu. “Kamu liat Celin gak?” tanyanya mengira jika pria itu adalah teman Celin. Pria itu sempat terkekeh lalu mengangguk. Jelas ia akan mengambil kesempatan baik dari gadis mabuk seperti Indira. “Kamu temannya Celin, kan?” “Iya!” jawab Indira tersenyum lebar. Harapannya bertemu Celin akan terjadi. “Ayo ikut aku. Celin ada di dalam,” ajaknya masih dengan sikap yang ramah. Indira yang terlalu mabuk untuk berpikir jernih, langsung mengikutinya. Pria itu membawanya ke sebuah ruangan VIP yang lebih sepi. “Tunggu di sini, ya. Aku panggil Celin dulu.” Indira tersenyum mengangguk dengan kepala pusing, ditinggal sendirian di ruangan itu. Ia hanya bisa terdiam, tak tahu apa yang sedang terjadi. Dengan langkah limbung, Indira malah mulai berkeliling mencari Celin. “Celin, kamu di mana sih? Aku takut … ayo pulang aja yuk,” gumamnya memanggil Celin dan berharap temannya itu ada di balik pintu di depannya. Saat Indira membuka pintu tersebut, ia terbelalak. Di dalamnya, dua gadis sedang menari tanpa busana di sebuah tiang besi. Nafasnya tercekat. Perasaan buruk langsung menghampirinya. “Tempat apa ini,” gumamnya pada diri sendiri. Namun sebelum sempat menutup pintu, sebuah tangan meraihnya. Indira seketika kaget. “Masuk, sini. Kamu cewek baru, kan?” Indira menggeleng cepat. “Nggak, aku—” “Eh, nggak usah malu. Masuk aja,” ujar wanita lain yang seakan mengenalnya, ikut menarik Indira masuk ke ruangan itu. Ruangan itu bercat merah. Indira baru menyadari jika semacam mini teater dengan tiga tiang di tengah dan sofa empuk di sekeliling. Tiga pria duduk menonton gadis-gadis itu menari erotis. Indira setengah dipaksa duduk di salah satu bangku bar. Seorang wanita memberinya minuman. Indira langsung mengernyit seakan bertanya dengan ekspresinya. “Minum saja. Aku yang traktir,” ucap si wanita yang tak dikenal itu seraya tersenyum. Indira tak berpikir panjang dan malah menurut saja. Ia meminum minuman itu, lalu kembali menatap wanita itu dengan bingung. “Ini ada di mana?” bisiknya pelan. Wanita itu hanya tersenyum dan menuangkan minuman lagi ke gelas Indira. “Nikmatin aja.” Tiga tegukan cukup untuk membuat Indira benar-benar mabuk. Ia tak lagi memperhatikan sekitar. Tubuhnya terkulai di meja bar, wajahnya tertumpu pada lengannya. Ketika salah satu wanita menarik Indira ke sofa, ia ditolak dan jatuh ke pangkuan seorang pria yang sedang duduk di sofa. “Tuan Del Luca, ini gadis yang Anda pesan. Silakan dinikmati,” ujar wanita itu sambil tersenyum. Indira hanya membuka mata sedikit saat pria itu mendekat. Ia menaikkan wajahnya dan mengernyit saat menatap wajah pria yang samar-sama terlihat karena mabuk. Pria itu tersenyum dan membiarkan Indira tetap berada di pelukannya. “Aku beli dia.” Pria itu berujar. Indira tidak mengerti tapi kepalanya terlalu pusing dan semuanya gelap seketika.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.1K
bc

Kali kedua

read
221.6K
bc

TERNODA

read
201.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook