Bab 2. Kesalahan

1171 Kata
Mata indah Indira perlahan terbuka. Kepalanya berputar hebat, membuatnya kesulitan membedakan mana kenyataan dan mana sisa mimpi buruk. Ia butuh waktu cukup lama untuk benar-benar sadar sembari mencoba bernapas teratur, meski dadanya masih terasa sesak. Beberapa kali ia merngjapkan mata dan barulah ia menyadari dirinya berada di sebuah kamar mewah. Tapi itu bukanlah kamarnya. Indira menoleh ke sisi kiri. Seketika matanya membelalak, nyaris seperti hendak meloncat keluar. Ia sontak bangun dan buru-buru menjauh dari pelukan seorang pria. Dengan gemetar, tangannya menutup mulut. Ia tak percaya, semalaman ia tidur dengan pria asing itu. Ketakutan membuat Indira meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Gerakannya yang tergesa membuat ia akhirnya terjatuh ke lantai. Rasa perih di antara pangkal pahanya membuatnya sulit berdiri. Apa pun yang terjadi semalam, jelas sesuatu yang tidak ingin dipikirkan Indira. Dengan tertatih ia bangkit tanpa suara. Sementara pria tampan itu masih terlelap, tidak sadar bahwa ia telah merenggut sesuatu yang sangat berharga dari seorang gadis polos seperti Indira. Dengan selimut masih melilit tubuh, Indira menoleh panik mencari pakaiannya. Ia buru-buru mengumpulkannya, lalu berganti baju di koridor kamar. Tak lagi peduli pada rasa sakit di kulitnya, yang penting ia bisa segera pergi sebelum pria itu terbangun. Nafasnya tersengal saat ia meraih tas di dekat pintu, lalu kabur keluar kamar. Begitu masuk lift, Indira tampak kebingungan. Tangisnya pecah di antara helaan napas yang tak beraturan. Beberapa tamu hotel melirik aneh, tapi ia memilih menunduk diam. Tangan gemetarnya menggenggam tas erat-erat. Ia hanya ingin pulang. Setiap langkah terasa berat karena rasa perih yang ditahannya. Namun Indira memaksa dirinya terus berjalan, menembus lobi hotel berbintang lima, The Blue Sphere yang ternyata berdekatan dengan klub malam, The Excellent. Beberapa saat kemudian, Indira baru ingat jika ia menghabiskan waktu semalam di klub malam itu dan kini malah terdampar di hotel mewah yang bahkan belum pernah ia dengar. Dengan air mata, Indira berusaha keluar dari hotel itu. “Celin … kamu di mana?” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. Ingatannya kembali ke malam tadi, ketika ia tersesat saat mencari sahabatnya. Akhirnya justru berakhir di ranjang seorang pria asing. Indira menoleh ke belakang, memandang hotel megah itu dengan mata basah penuh air mata. Ia ingin sejauh mungkin pergi dari tempat itu. Sambil merapatkan tas ke tubuhnya, ia mencari bangku untuk duduk. Tergesa, Indira merogoh ponsel dari dalam tas. Karena mabuk semalam, ia sama sekali tak menelepon Celin dan malah mencarinya sendiri. “Celin?” gumamnya lagi ketika nama itu muncul di layar. Ternyata Celin sudah berkali-kali menelponnya. “Oh Tuhan, Dira! Kamu di mana? Aku cari-cari kamu semalaman. Aku bahkan harus bohong sama Papamu,” sahut Celin yang terdengar panik sekaligus menangis. “Cel … jemput aku,” ucap Indira hampir tak terdengar, tercekat oleh isak dan tangis. “Kamu di mana sekarang?” “Di hotel ...The Blue Sphere,” jawabnya terbata. “Aku ke sana sekarang, tunggu aku!” Celin bisa mendengar isak Indira lewat ponsel. Dengan tubuh lemas, Indira duduk di bangku dekat trotoar sembari menahan sakit. Ia hanya bisa meremas tasnya sambil menangis. Begitu mobil Celin tiba, Indira segera masuk. “Indira, apa yang terjadi semalam?” tanya Celin panik. Indira hanya diam, menempelkan sisi kepalanya ke jendela. “Kamu bilang apa ke Papaku?” sahut Indira justru balik bertanya. Ia tahu, Ayahnya pasti mencarinya. Hanya Ayahnya satu-satunya orang yang selalu menjaganya. “Tadi malam Papa kamu nelpon. Aku bilang kamu menginap di rumahku. Kalau aku bilang kita ke klub, dia pasti marah.” Indira mengangguk pelan. Pahit sekali rasanya menerima kenyataan. Terlebih saat, tiba-tiba ia terbangun di ranjang seorang pria asing. Celin masih cemas sambil menyetir. Ia terus menoleh ke arah Indira yang hanya diam saja. Matanya tampak merah seperti baru menangis. “Kenapa kamu tidur di hotel itu?” tanya Celin masih penasaran. Indira menahan tangisnya di depan sahabatnya. Tidak seorang pun boleh tahu apa yang terjadi. Semuanya harus terkubur. Ia telah kehilangan segalanya, dan itu akan menjadi rahasia. “Aku mabuk dan capek banget semalam. Jadi aku sewa kamar hotel aja, soalnya aku cari kamu gak ketemu,” jawab Indira dengan nada rendah. Ia tidak berani menatap Celin karena terlalu kentara jika dia berbohong. “Maafin aku, Dira. Aku pikir kamu ngikut aku waktu aku ke bar. Aduh, aku nyesel banget ninggalin kamu. Maafin aku ....” Celin tampak makin meringis menyesali semuanya. Harusnya ia tidak mengajak Indira ke klub malam seperti itu. Untungnya tidak terjadi apa pun, pikir Celin. “Terus apa yang terjadi semalam? Kamu nginep di hotel itu?” Celin bertanya lagi. Indira hanya diam awalnya lalu mengangguk. “Untungnya gak terjadi apa pun. Ya uda sekarang aku anterin kamu pulang. Atau kamu mau ikut ke rumahku dulu? Apa kamu beneran mau ke pesta pernikahan itu?” tanya Celin menoleh dengan ekspresi meringis cemas. Indira tak menjawab, tapi ia tahu dirinya harus datang. Meski hatinya hancur, ia tak bisa menghindar. “Iya. Aku harus datang,” jawab Indira dengan nada rendah. “Kamu yakin?” Celin kembali bertanya ketika mobil berhenti di depan rumah. Indira hanya mengangguk pelan. “Kamu akan temenin aku kan?” Indira bertanya lirih. Celin mengangguk cepat, tak tega menolak permintaan sahabatnya, meski ia benci melihat Merina, kakak tiri Indira. Setelah berpelukan, Indira masuk rumah dengan wajah tertunduk. Rumahnya tampak lengang, seperti tak ada orang. Seperti biasa, ia masuk lewat pintu dapur. Indira tak ingin bertemu siapa pun, jadi lebih baik langsung berlari ke kamar. “Dira?” Suara ayahnya membuat Indira seketika tersentak kaget. Ferry turun dari tangga dengan wajah terkejut melihat anaknya baru pulang dan ia tampak kusut. “Papa?” “Ya Tuhan, kamu dari mana saja, Nak?” ucap Ferry dengan raut cemas langsung memeluk Indira. Hampir saja Indira runtuh menangis di bahunya. Tapi ia menahan diri. Terlalu menyakitkan jika ayahnya melihatnya hancur. Saat Ferry melepaskan pelukan untuk menatap wajahnya, Indira tersenyum sekuat tenaga. “Maaf, Pa. Aku baru pulang. Celin yang anter tadi.” “Kenapa kamu gak bisa dihubungi? Semalaman Papa telepon, tapi ponselmu mati.” Raut khawatir tak bisa disembunyikan. Ferry bertanya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Indira hanya bisa menunduk dan menyesal pada tindakannya. “Cuma ada acara reunian sama teman-teman SMA, Pa. Kami makan-makan di rumah Celin. Maaf sudah bikin Papa khawatir,” jawab Indira tersenyum sambil berbohong. Ferry menarik napas lega dan mengangguk. Ia akhirnya tersenyum juga. “Ya udah, tapi cepat ganti baju, Sayang. Kita harus ke pernikahan Meri. Mama dan kakakmu sudah berangkat pagi tadi. Papa sengaja tunggu kamu pulang.” Indira hanya mengangguk getir seraya menggigit bibir bawahnya dan berusaha menyembunyikan rasa sedihnya. “Gaunmu sudah Papa taruh di kamar. Jangan lupa pakai make up yang cantik ya.” Ferry menepuk pipi Indira lembut seraya tersenyum, mencoba menyemangati. Indira hanya tersenyum tipis, lalu bergegas masuk ke kamarnya di dekat dapur. Begitu pintu tertutup, tubuhnya langsung merosot di pintu dengan air mata yang jatuh tak terbendung lagi. “Tuhan, tolong aku,” lirih Indira berdoa sambil menahan sakit. Ia menangis beberapa menit sampai sedikit lega. Saat menatap wajahnya di cermin, ia mencoba menguatkan diri. “Aku harus bisa melewati ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN