Bab 3. Tamu Tak Diundang

1105 Kata
Indira berjalan keluar dari mobil dengan wajah muram. Hari ini ia harus menghadiri pernikahan kakak tirinya, Merina, dengan pria yang dulu pernah mengisi hatinya yaitu Alex Vendrino. Di hari yang cerah, pesta pernikahan itu digelar di kebun luas dan megah di kediaman keluarga Vendrino. Para tamu sudah berdatangan dari berbagai kalangan, termasuk Indira yang baru saja tiba bersama ayahnya, Ferry Wijaya. “Apa kamu gak pa-pa, Sayang?” tanya Ferry tiba-tiba ketika Indira berhenti melangkah. Ia baru menyadari putrinya tertinggal beberapa langkah di belakang. Indira terlihat gugup, lalu memaksakan tersenyum. “Pa, aku mau cari Celin dulu. Mungkin dia masih di parkiran,” ujar Indira memberikan alasan untuk menunda masuk ke dalam. Ferry tersenyum kecil. Ia sepertinya mengerti. Ferry pun mengangguk. “Papa tunggu di dalam ya.” Indira kembali mengangguk. Ia menelan ludah dengan gelisah sebelum berbalik ke arah parkiran. Nafasnya terasa sesak, seolah gaun yang ia kenakan melilit pinggang rampingnya terlalu ketat padahal sebenarnya tidak. Sesungguhnya, Indira ingin sekali pulang, lalu menangis sepuasnya, ketimbang harus menyaksikan pernikahan itu. Ia hampir memutuskan untuk benar-benar pulang, ketika seseorang memanggil. “Dira!” Indira sontak berhenti, lalu berbalik. Celin baru saja memarkir mobil dan berlari ke arahnya. Begitu bertemu, Indira langsung memeluk sahabatnya itu. Ia tak sanggup lagi menahan tangis dan akhirnya malah meledakkan isakan di bahu Celin. “Aku nggak bisa … Aku nggak sanggup, Cel,” lirihnya di sela isak yang menyakitkan. Celin mengusap punggung Indira dengan lembut. Ia tahu betul jika Alex memang bukan pria setia. Tapi yang paling menyakitkan, dia malah mengkhianati Indira dengan pacaran dengan Merina yang masih saudara Indira meski hanya saudara tiri. Celin begitu marah sampai memanggil Alex dengan sebutan pengecut. “Jangan nangis lagi. Kamu nggak pantas menangisi dia, Dira.” Celin lalu mengusap air mata Indira sambil memegang pipinya. “Dengerin aku, dia itu pengecut. Dia gak pantas buat jadi suamimu. Kamu itu cantik, Dira. Percaya deh, suatu saat kamu akan bertemu dengan pria yang jauh lebih tampan dan kaya, seseorang yang seratus kali lebih baik dari si pengecut itu,” ujar Celin terus memberikan semangat pada Indira. Indira menggeleng lemah, air mata nyaris merusak riasan cantiknya. Celin buru-buru mengambil tisu dari tasnya, berusaha menyelamatkan sisa makeup sahabatnya itu. “Udah jangan nangis lagi,” ucap Celin lembut. Ia pun ikut terluka dan sedih. Siapa pun pasti kecewa dengan pengkhianatan Alex yang malah menikahi kakak tiri Indira padahal hubungan cinta dengan Indira sudah bertahun-tahun lamanya. “Aku nggak bisa, Cel. Aku mau pulang,” rengek Indira sambil terisak. “Aku tahu. Aku juga gak mau datang ke sini. Tapi kamu harus memperlihatkan sama mereka kalau kamu gak rugi kehilangan Alex. Biar dia tahu, Alex-lah yang gak pantas buat kamu. Jangan biarin mereka menginjak harga dirimu. Kamu harus tunjukin kalau kamu kuat dan hebat,” jelas Celin dengan emosi yang jelas. Indira mencoba mengatur nafas. Ia sadar bahwa menangis untuk pria seperti Alex hanya akan membuatnya tampak konyol. “Dia gak pantas untukku.” Indira akhirnya menggumam seolah sedang merapal mantra untuk menenangkan diri. “Ya! Itu baru Indira yang aku kenal,” seru Celin dengan semangat. Indira menelan ludah getir lalu mengangguk. Celin lantas meraih tangannya, dan mereka berjalan menuju taman tempat upacara pernikahan itu berlangsung. Indira menggenggam erat tangan sahabatnya, berusaha menegakkan dagu dan menghadapi kenyataan pahit. Saat memasuki deretan bangku tamu, Indira sempat menoleh pada Celin. Sahabatnya membalas dengan senyum menenangkan, lalu memintanya duduk. Ferry yang sempat kebingungan mencari putrinya, akhirnya menemukan Indira duduk di barisan belakang. Ia hendak menghampiri, tapi istrinya, Vonny, buru-buru menahan lengan Ferry. “Kamu mau ke mana?” desis Vonny seraya mendelik tajam. Ferry jadi gelisah, namun matanya tetap menoleh ke belakang. “Tunggu sebentar, aku mau ajak Indira ke depan,” katanya berasalan. Tapi tangan Vonny tidak melepaskan lengan suaminya sama sekali. “Apa? Buat apa!” desisnya makin melotot kesal. Vonny jelas tidak suka keberadaan Indira yang hanyalah anak tiri. Ia tidak ingin gadis itu terlihat sebagai bagian keluarga. Namun Ferry tetap bersikeras. Ia lalu berjalan mendekati Indira. “Ayo, Nak. Kamu harus duduk di depan, jangan duduk di belakang. Ajak Celin juga.” Indira langsung meringis dan menggeleng. Ia pun menolak halus. “Gak pa-pa, Pa. Aku di sini aja.” Tapi Ferry tak menerima alasan itu. Ia menarik lembut tangan putrinya. Indira menoleh pada Celin. Celin hanya tersenyum dan mengangguk, memberi isyarat agar ia menuruti ayahnya. Akhirnya, dengan terpaksa, Indira duduk di barisan depan bersama Celin. Ferry tampak lega, sedangkan Vonny melirik Indira dengan tatapan menusuk. Indira memilih menundukkan kepala, meremas tangan Celin erat-erat untuk menguatkan diri. Saat musik pernikahan terdengar, Alex masuk dengan wajah datar, berjalan pelan menuju altar. Indira hampir menangis melihatnya. Alex sempat melirik ke arah Indira, meski ia cepat-cepat mengalihkan pandangan kembali ke arah lain. Ia seperti salah tingkah. Kemudian Merina datang dengan senyum bahagia. Upacara dimulai, janji suci diucapkan, cincin dipasangkan. Indira tak kuasa lagi. Ia menitikkan air mata yang cepat-cepat disekanya. Celin yang sempat melihat langsung meraih tangannya lalu menggenggamnya agar Indira kuat. Namun, tepat ketika pasangan itu hendak berciuman, sebuah suara lantang memecah suasana. “Selamat untuk pernikahanmu, Alex!” Semua kepala menoleh. Seorang pria berwajah tampan dengan senyum sinis melangkah masuk. Tangannya terselip santai di saku celana, langkahnya penuh percaya diri. “Om Juan?” Alex tertegun melihat sosok Juan Del Luca—paman termuda dalam keluarganya yang terkenal bermasalah tiba-tiba ia muncul di hari pernikahannya. “Maaf aku terlambat. Apa acaranya sudah selesai? Jadi, ini pengantinnya? Selamat ya ... keponakanku.” Merina melotot dan tercengang, begitu juga para tamu yang terperangah. Ia tidak pernah bertemu dengan Juan sebelumnya. Apa lagi ternyata Juan adalah paman dari Alex. Dari penampilannya, ia tidak tampak tua, bahkan tampak seumuran dengan Alex. Tidak hanya Merina yang kaget, tapi juga Indira. Matanya melebar tak percaya. Bukankah dia pria yang kemarin malam berada dengannya di kamar hotel? Bagaimana mungkin orang itu sekarang berdiri di sini, sebagai pamannya Alex? Juan hanya menyeringai licik dan pandangannya nakal mengarah pada Merina seolah sengaja merusak suasana. Seorang pria yang lebih tua dari pihak keluarga Vendrino maju dengan raut murka menantang Juan. “Juan, apa yang kamu lakukan di sini?” Juan mengangkat alis dengan raut angkuhnya yang menganggap remeh. “Selamat siang, Kakek. Seharusnya kalian mengirimiku undangan. Bukankah ini acara besar keluarga kita?” “Diam kamu. Jangan membuat masalah di sini, Juan ....” “Untuk apa aku membuat masalah? Aku hanya ingin menghadiri pesta pernikahan keponakanku, Alex.” Juan memotong cepat dengan percaya diri. Kini, semua tamu memperhatikannya termasuk Indira. Celin yang duduk di samping Indira masih terperangah. Ia mendekat lalu berbisik. “Siapa itu?” Indira menoleh padanya dengan wajah pucat, ketakutan masih menguasai dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN