“Kamu gak boleh datang kemari!” Rama Vendrino mendesis kesal seraya berani menghadang kegilaan Juan. Adiknya itu bisa saja mengacaukan pesta pernikahan anak semata wayangnya dan malah menimbulkan masalah besar.
“Lho, apa yang salah? Aku hanya ingin berkumpul dengan keluargaku─”
“Jangan konyol, Juan. Kamu gak diundang!” Rama menegaskan.
Merina bisa mendengar percakapan yang seharusnya menjadi urusan internal itu. Alex sudah melirik ke kanan dan kiri merasa tidak enak.
Sedangkan Juan menatap saudara tirinya dengan seringai tenang. Ia memang tidak diundang, tapi datang dengan sengaja untuk mengusik ketenangan keluarga itu. Sekian lama ia disingkirkan, sekarang dia kembali untuk membuat perhitungan. Hanya saja, terlihat jelas semua anggota keluarga itu ingin menendangnya pergi.
“Ayolah, Ram. Alex itu keponakanku. Tentu saja sebagai Pamannya ... aku harus datang,” jawab Juan masih dengan rasa angkuhnya mengolok jelas.
Sekarang semua tamu terdiam. Walau sebagian besar mengenal Juan Del Luca, tetap saja keberadaan ahli waris tak sah keluarga itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Juan hanyalah anak di luar pernikahan Steven Vendrino.
Kini, kakak tiri Juan yaitu Rama sengaja berdiri untuk mempermalukan adik yang paling ia benci. Ia tidak pernah mau memberi ruang sedikit pun untuk Juan di keluarga besarnya.
“Kalau kamu gak pergi sekarang, aku akan mengusirmu dari sini!”
Juan tersenyum dengan sedikit kekeh. “Jangan begitu. Lagian aku datang untuk nemenin seseorang juga, pacar baruku.”
Mendadak Juan menoleh ke kanan. Tatapannya lurus langsung mengarah pada Indira. Indira seketika menahan napas saat Juan malah melangkah ke arahnya.
“Gak mungkin. Gak mungkin dia inget aku. Gak!” jerit Indira dalam hati.
Di sampingnya, Celin semula tampak bingung, lalu mulutnya terbuka lebar saat Juan tiba-tiba berhenti di depan Indira. Para tamu di sekitar mereka pun ikut terperangah. Indira tak mampu melepaskan pandangannya saat Juan menyunggingkan senyuman padanya.
“Sayangku, ternyata kamu ada di sini. Maaf aku terlambat.”
Ucapan Juan membuat Indira nyaris tak bisa bernapas. Yang lebih mengejutkan, Juan tiba-tiba mendekat lalu mengecup pipi kirinya. Indira benar-benar membeku di tempat. Tak ada kata yang bisa keluar, semuanya tersangkut di tenggorokan.
Dagu Juan terangkat lalu menoleh sinis pada Rama dan keluarga Vendrino lainnya. Ia berhasil membuktikan alasannya datang. Sementara Indira, justru semakin kebingungan. Ia tidak bisa berbuat apa pun saat Juan menggenggam tangannya dan menariknya perlahan keluar dari barisan tamu.
“T-Tunggu!” bisik Celin ikut kebingungan. Ia tidak berani bersuara keras.
Indira, bagai boneka hidup, hanya bisa melangkah tanpa protes. Sekilas ia melirik Celin, berharap temannya akan menolong, tapi Celin hanya diam saja bengong karena bingung.
Begitu pula dengan Ferry dan Vonny yang hanya bisa terperangah melihat seorang pria asing mengaku Indira adalah kekasihnya. Tanpa rasa bersalah, Juan langsung membuat pengakuan mengejutkan yang membuat Indira seperti orang bodoh tak bisa melawan.
Juan membawa “pacar dadakan”-nya itu ke barisan keluarga Vendrino. Ia mengangkat alis pada Alex dan Meri yang sedang menatapnya. Tangannya lalu memberi isyarat agar mereka melanjutkan prosesi pernikahan.
Sementara Alex menatap Indira tak percaya. Bagaimana mantan kekasihnya bisa pacaran dengan Juan yang merupakan anak haram dari kakeknya?
“Silakan dilanjutkan, Pak Pendeta.” Juan memberi isyarat pada Pendeta. Lelaki tua itu berdeham, mencoba mencairkan suasana yang kian canggung.
“Ehm, Alex Vendrino, Anda boleh mencium mempelai wanitamu.” Pendeta tersenyum kikuk melanjutkan seremonial yang tadi sempat tersendat.
“Apa!” Alex memekik kaget. Merina sampai mengernyit melihat ekspresi Alex yang aneh. Ia langsung mendelik pada Alex yang baru sadar beberapa saat kemudian.
“Ah, maaf. Iya, tentu.”
Alex buru-buru memperbaiki sikapnya. Tatapannya sempat tertuju pada Indira kembali menatap Merina lalu mendekat untuk menciumnya. Merina bahkan sedikit menarik Alex karena ia tidak ingin suaminya malah memperhatikan Indira. Dalam hatinya, Merina yakin jika sekarang Alex hanya miliknya.
Indira hanya bisa diam dan membuang muka ke samping. Sayangnya, kebingungannya terendus Juan yang juga menoleh padanya.
“Ayo pergi,” perintah Juan tanpa menunggu semua tamu selesai bertepuk tangan. Juan menarik tangan Indira tepat setelah ciuman itu usai.
Indira seperti orang bodoh yang tak bisa membela diri. Ia hanya diam saja saat tangannya digandeng Juan. Otaknya belum bisa berpikir jernih atas apa yang harus ia lakukan. Celin buru-buru bangkit dari kursinya sebelum pengantin baru berjalan melewati para tamu. Suasana pernikahan pun semakin kacau.
Keluarga Vendrino tidak sudi dihina dengan sikap Juan. Rama segera pergi segera setelah prosesi pernikahan itu untuk menghadang Juan. Bahkan Alex berniat mengejar, tapi Merina menahan lengannya.
“Kamu mau ke mana?” desis Merina jengkel.
“Sebentar, aku harus bicara dengan Om Juan!”
Alex tidak peduli dan tetap melepaskan diri, mengikuti ayahnya untuk menghampiri Juan. Merina tidak kuasa menahan. Ia sampai kesal dan mengentakkan kakinya melihat Alex yang ngotot.
Vonny yang melihat putrinya ditinggalkan Alex, lantas mendelik pada suaminya, Ferry. Ia merasa Indira adalah penyebab dari kekacauan itu.
“Lihat anak kamu itu. Seharusnya kamu gak bawa Dira ke sini!” bentak Vonny. Sementara Ferry seperti tidak menggubris istrinya. Ia terus melihat ke belakang, mengikuti ke mana pria bernama Juan membawa Indira.
“Kok Dira punya pacar baru tapi gak ngasih tahu Papa?”
Ferry terlihat lebih cemas daripada marah. Sementara itu, Juan menarik Indira ke arah meja buffet. Ia melepaskan tangannya lalu menuangkan segelas sampanye untuknya.
“Minum.” perintahnya dingin. Indira menggeleng cepat.
“Saya gak minum alkohol. Tuan ini ... siapa?” tanya Indira dengan suara yang lembut dan kecil.
“Kenapa kamu pergi tanpa pamit padaku?” Juan balik bertanya dengan suara baritonnya yang tegas.
Indira terpaku, matanya nyaris melotot. Juan ternyata mengingatnya, bahkan mengejarnya. Ia menatapnya tajam tanpa senyuman.
“A-Aku tidak mengenalmu,” ujar Indira mengulang dengan rasa gugup. Juan makin mendekat, seolah bisa menelanjangi kebohongannya.
“Tamu atau keluarga?” tanya Juan dengan dagu terangkat. Indira tidak menjawab. Sebaliknya, ia mundur perlahan dan Juan terus mendekatinya.
Sebelum ia mengaku apa pun, Rama, Alex, dan Ferry datang bersamaan.
“Dira!” panggil Ferry. Indira terkejut melihat ayahnya datang. Refleks ia ingin mendekat, tapi Juan buru-buru meraih pergelangan tangannya.
“Apa yang kau lakukan?” geram Rama marah pada Juan. Juan hanya tenang menjawab dengan senyuman liciknya.
“Aku hanya datang untuk bertemu keluarga sekaligus untuk memperkenalkan calon istriku,” ucapnya santai.
“Apa?” Rama memekik kaget. Untung ayahnya cepat menahan lengannya.
Juan semakin puas melihat mereka terpancing. Ia menambah sandiwara dengan merangkul pinggang Indira agar semakin menempel padanya.
Sedangkan Alex yang ikut mendengar, menggeleng tak percaya. Ferry pun hanya bisa menatap bingung dari jarak yang tak jauh dari sana
“Gak mungkin ....” Alex bergumam.
Indira sempat melirik pada Alex sekilas sebelum membuang pandangannya ke arah lain.
“Seperti yang kukatakan, dia pacarku … sekaligus calon tunanganku.”