“Tolong jangan libatkan kekasihku dalam situasi yang membingungkan ini. Kasian dia gak tahu apa-apa dan kalian malah memarahinya,” ujar Juan dengan senyum sinis dan angkuh. Ia lalu beralih pada Ferry yang masih mengernyit bingung dengan pengakuan soal pacaran itu.
Tangannya mengulur pada Ferry hendak menjabat tangannya dan memperkenalkan diri, “Anda pasti Ayahnya Dira. Perkenalkan namaku Juan Del Luca. Aku adalah kekasih Dira,” ujar Juan masih dengan senyuman di bibirnya. Ferry melongo menatap Juan, tak percaya dengan keberaniannya mengakui hubungan dengan Indira.
Rama ikut terdiam mengernyit. Ia sedang mencoba membaca pergerakan Juan kali ini. Entah apa lagi yang sedang ia rencanakan. Sementara itu, ia tidak bisa membiarkan besannya, Ferry melihat masalah tersebut dalam keluarganya.
Sedangkan Juan tahu betul caranya mengail dalam air keruh. Sekarang ia punya Indira di sisinya sebagai jaminan.
“Namaku Ferry Wijaya ... tapi Indira tidak pernah mengatakan apa pun soal ... Anda ....”
Ferry masih mengernyit. Meski bingung ia tetap mengulurkan tangannya pada Juan.
“Maaf, jika hal ini sangat mendadak. Aku pikir ... Dira mungkin belum bicara karena masih malu-malu.”
Kini Juan mengalihkan perhatiannya menoleh pada Indira dengan senyuman yang membuat gadis itu merona. Sungguh, Indira merasa ia seperti berada dalam mimpi.
“Oh ya?” Ferry masih sulit mempercayainya. Ia menoleh ke arah Indira, berharap penjelasan darinya.
“Beneran kamu pacaran sama ... Tuan Juan?” ucapnya bertanya pada Indira.
Indira tampak pucat, kegusarannya terlihat jelas. Ia begitu ketakutan untuk bicara. Ketika Juan ikut menatapnya, tubuh Indira langsung kaku. Ia bingung harus menjawab apa. Juan tersenyum licik, lalu mendekat seolah hendak mencium pipinya. Padahal ia tengah berbisik sesuatu.
“Kalau kamu buka mulut, aku akan bilang pada ayahmu soal kejadian di antara kita di hotel semalam. Dia akan kecewa,” bisik Juan, lalu bibirnya singgah di ujung telinga Indira dan mengecup kecil. Indira langsung paham, ia sedang diancam. Juan bukan pria yang bisa dipercaya.
“Y-Ya…” jawab Indira lirih, nyaris tak terdengar. Ia terpaksa mengaku jika Juan adalah kekasihnya.
“Apa!?” Alex terbelalak, tak percaya. Ia ikut mendengar kenyataan jika Indira ternyata pacaran dengan Pamannya, Juan.
Indira ikut menatap Alex dengan rasa bersalah tapi ia kemudian membuang muka. Entah dorongan dari mana, Indira seperti sedang membalas Alex atas sakit hatinya. Alex tampak kecewa dan hal itulah yang seharusnya menjadi kemenangan bagi Indira.
“Ya. Dan kami juga akan segera menikah.” Indira menambah kebohongan yang lebih besar dengan berani. Ia melirik Juan, yang hanya menanggapi dengan senyum tenang. Indira meniru kebohongan itu, lalu menoleh pada ayahnya yang kebingungan dan mantan kekasihnya yang makin kesal serta marah.
“Kalau begitu semuanya sudah jelas. Mari kita lanjutkan pestanya,” sahut Juan mengejek sinis.
Alex begitu kecewa. Rahangnya mengeras, lalu ia berpaling dengan amarah sebelum kembali menoleh pada Merina yang kemudian. Indira mencoba beranjak, tapi Juan lebih dulu merangkul pinggangnya.
Rasanya Alex ingin sekali mengamuk, tapi tentu saja ia tidak akan berani menghadapi Juan yang lebih tua darinya.
“Kita lanjutkan pembicaraan ini setelah pesta selesai,” ucap Rama akhirnya sekaligus memperingatkan Juan agar tidak semakin pamer. Juan hanya diam tersenyum licik sekaligus menaikkan kedua alisnya mengolok kakak tirinya itu.
Indira tak kuasa menolak saat Juan menggenggam tangannya dan menariknya ke tengah aula keluarga Vendrino. Celin hanya bisa menatap tanpa mampu berbuat apa-apa. Anehnya, Juan memperlakukan Indira bak seorang putri. Ia bahkan menarik kursi untuk Indira dan menunggu hingga ia duduk. Indira menurut, tetap diam.
“Jangan cemas. Aku tidak akan menyakiti kamu,” bisik Juan pelan, seolah ingin menenangkannya. Indira hanya menoleh, menatapnya polos, dan Juan membalas dengan senyuman yang lembut.
Sementara itu, Alex tak bisa mengalihkan pandangan dari mereka. Baginya, kenyataan bahwa Indira pacaran dengan Juan merupakan tamparan keras. Ternyata Indira telah mengkhianatinya.
Kini semua mata di pesta tertuju pada Juan dan Indira. Bahkan Merina mulai diliputi rasa cemburu. Ia tak pernah membayangkan Indira punya pacar setampan dan semenarik Juan Del Luca. Tiba-tiba, ia segera menggenggam lengan Alex agar tidak lagi menatap Indira.
“Ngapain kamu liatin dia terus?” gerutu Merina memarahi Alex. Alex yang tidak peka, malah mengeraskan rahangnya dan mendengus kesal. Kentara sekali jika dia terlihat cemburu.
“Ternyata dia selingkuh sama Om-ku sendiri,” balasnya sinis.
“Jadi benar dia Om kamu? Kok aku gak pernah ketemu?” Merina makin curiga, menambah kekesalan Alex.
“Gimana caranya mereka saling kenal?” desak Merina lagi.
“Aku gak tahu, oke! Kamu berisik banget tanya terus!” hardik Alex malah memarahi istrinya.
Merina akhirnya terdiam. Saat ia melirik Indira lagi, rasa kesal itu makin besar. Merina mengira jika Alex adalah pria paling tampan dan kaya daru keluarga Vendrino. Ternyata dia salah besar.
“Namamu Indira, ya?” tanya Juan ringan sambil meliriknya. Indira mengangguk pelan.
“Kalau gak salah, istrinya Alex adalah anak dari Ayahmu. Jadi dia adik atau kakak?”
Indira menunduk, lalu menjawab pelan, “Kakak.”
Juan mengulurkan tangan lalu menyentuh dagu Indira. Ia mengangkatnya sampai mata mereka saling bertautan. Juan sempat melirik Alex yang terus menatap ke arahnya penuh kekesalan. Matanya lalu kembali menatap Indira.
“Angkat wajahmu, cantik,” ucapnya sambil mengangkat dagu Indira dengan ujung jarinya. Senyum Juan begitu menawan, tatapannya tajam, seolah menjerat kepolosan Indira yang tergambar jelas. Indira hanya diam memperhatikan pesona itu, seperti tak mampu melawan.
“Jika kamu sedang bersamaku, kamu gak perlu takut. Dia bukan siapa-siapa dibanding dirimu.”
Indira tertegun. Bagaimana mungkin Juan bisa membaca pikirannya? Bagaimana ia tahu bahwa Merina merebut Alex darinya?
Bulu kuduk Indira meremang. Ia tak tahu harus membalas apa pada Juan. Seakan drama itu mengambil alih hidupnya, ia pasrah memainkan peran sebagai pacar Juan.
Meskipun selera makannya lenyap, Indira berusaha tampak tenang. Ia hanya menyentuh kudapan kecil, bukan hidangan utama. Juan pun tak lagi banyak bicara setelah kalimat beberapa menit lalu.
Setelah kurang dari 30 menit, Rama Vendrino berdiri. Ia menatap Juan dengan dingin. Juan hanya menyeringai seolah sudah tahu langkah berikutnya. Ia menyeka sudut bibir, lalu bangkit mengikuti Rama meninggalkan Indira tanpa sepatah kata pun.
Alex yang kesal malah memilih minum, seolah ingin mabuk. Merina jadi kesal melihat sikap suaminya yang mengabaikannya dari tadi. Ia pun berbisik pada ibunya. Tak lama, Vonny lalu berdiri dan berjalan menghampiri Indira dengan wajah penuh kekesalan.
“Ikut Mama!” desisnya tajam di telinga Indira. Ferry menoleh pada istrinya yang menyeret Indira keluar. Ia pun terpaksa mengikuti, begitu pula Merina. Alex tak peduli dengan istrinya yang baru saja dinikahi. Ia lebih memilih menenggelamkan diri dalam alkohol.
“Apa yang kamu lakukan? Gimana caranya kamu bisa pacaran sama Juan Del Luca?” Vonny menghardik Indira begitu sampai di taman samping.
Nafas Indira terengah, ia menoleh pada Ferry yang mendekat. Ferry langsung menegur istrinya. Ia mencoba melindungi putrinya meski dalam hati pun ia penasaran tentang Juan.
“Ma, ngapain kamu ke sini?” Ferry berusaha menenangkan.
“Itu, Pa. Liat anak kamu. Udah berapa kali aku bilang, jangan bawa Dira kemari!” Vonny membalas sekaligus melotot pada suaminya. Ferry hanya menarik napas panjang, menatap istrinya dengan tenang.
“Kita bicarakan di rumah nanti, ya? Dira pasti punya penjelasan.” Ferry mencoba membela Indira. Tapi tatapan Vonny kesal dan terus menuduh Indira hendak menghancurkan pernikahan kakaknya.
“Gak, Ma. Aku gak ....”
“Diam kamu!”