Bab 6. Penolakan

1096 Kata
Merina bergegas menghampiri ibunya. Wajahnya terlihat murka, penuh amarah. Kekesalannya makin besar karena melihat saudara tirinya dengan berani membuat kekacauan di hari pernikahannya. Bagaimana mungkin dia bisa nekat menjalin hubungan dengan Om-nya Alex? Kali ini Indira tidak bisa diberikan ruang lagi sama sekali. Ia sudah membuat keluarga Wijaya menjadi bahan pembicaraan di keluarga Alex Vendrino. Saat Merina melihat Ibunya, Vonny sedang menyeret Indira menjauh dari meja, ia segera mengikuti. Napasnya memburu, gaunnya terangkat sedikit saat ia berjalan cepat. Ia menunjuk pada Indira sambil memekik kesal. “Meri?” Vonny terkejut saat melihat putrinya mendekat. “Sini lo, lo sengaja mau bikin gue malu, ya?!” bentak Merina keras pada Indira. Suaranya membuat beberapa tamu menoleh. Indira terdiam, satu langkah mundur, tak menyangka Merina akan meneriakinya seperti itu. “Merina, jangan teriak begitu sama adikmu,” tegur Ferry mencoba menenangkan, tapi juga memberi isyarat agar Merina menurunkan nada suaranya. Bagaimanapun, para tamu akan menganggap aneh kalau keluarga pengantin ribut di pesta. “Dia itu bukan adikku, Pa! Dia selalu benci aku!” Merina makin memekik dan menolak menurunkan nada suaranya, bahkan ia sengaja membentak Ferry. Indira menggeleng, hatinya panas. Dari awal pesta ini sudah menenggelamkannya dalam kesedihan, dan kini ia justru disalahkan. “Kakak bilang apa? Aku nggak pernah benci sama Kakak! Justru Kakak yang selalu mengambil semua hal yang paling berharga buatku!” Indira akhirnya balik melawan. Ia sudah tidak tahan lagi. Dipojokkan oleh seorang kakak yang merebut kekasihnya bahkan berselingkuh sampai hamil, membuat Indira akhirnya meledakkan kemarahannya. Napasnya tersengal dengan mata berkaca-kaca. Kesabarannya sudah habis menghadapi Merina. Ferry menatap Indira sambil meraih lengannya, khawatir keadaan makin ricuh. Vonny jelas kesal, karena untuk pertama kalinya Indira berani memarahi Merina. Merina sampai melotot tak percaya melihat sikap Indira yang begitu berani padanya. “Beraninya kamu teriak-teriak sama Kakakmu?! Kamu sendiri yang selalu bikin masalah. Sekarang pake nyalahin Kakakmu lagi!” Vonny membalas keras, membela anak kandungnya, Merina. Merina yang tersulut emosi ikut mendorong bahu Indira, menegaskan dominasinya. Nyaris saja pertengkaran fisik benar-benar pecah kalau Vonny dan Merina terus memojokkan Indira. “Apa-apaan ini?! Jangan berkelahi di sini!” Ferry buru-buru berdiri di depan Indira, menghadang Vonny dan Merina. Vonny tidak terima sikap Ferry, ia bahkan menarik lengannya kasar agar suaminya itu menyingkir. “Kamu harus berhenti belain dia, Pa!” bentak Vonny menunjuk pada Ferry. Ferry ikut terengah dengan d**a sedikit sesak. Ia tidak bisa membiarkan keluarganya mendapatkan cemoohan gara-gara hal seperti ini. “Ma, jangan kayak gini. Malu diliat orang,” ujar Ferry berusaha menengahi. Ia memelas seolah meminta Vonny agar lebih menahan diri dan sikapnya. Merina baru saja menikah dengan anggota keluarga Vendrino. Harusnya mereka tidak membuat malu. “Kamu lebih malu sama sikapku atau sama sikap anak kamu yang gak tahu diri itu? dia uda mempermalukan kamu dengan menyabotase pernikahan Meri, dan kamu masih belain dia?” sahut Vonny makin kesal dan melotot tajam pada Ferry. Seperti biasa, Ferry akhirnya diam, memilih mengalah. Ia jadi serba salah dan seperti biasa, Indira tidak ada yang membela. “Sekarang lo pergi dari sini! Gak seharusnya lo ada di pesta pernikahan gue! Gue gak mau liat lo malah bikin masalah dengan pacaran sama Om-nya Alex. Lo bener-bener gak tahu diri!” hardik Merina menuding Indira dengan penuh amarah. Ia mengusirnya pergi dengan wajah merah. Indira menahan napas, hatinya perih. Sejak awal, pesta ini memang bukan untuknya. Tanpa banyak bicara, Indira berbalik dan pergi begitu saja. Ferry panik, mencoba menghalangi, “Tunggu Dira, Sayang!” Namun Vonny langsung menahan lengan Ferry sebelum ia bisa menyusul. “Kamu di sini aja, Pa! Ngapain kamu nyusulin dia?!” “Kamu bagaimana sih, Ma? Dira itu anak kita. Seharusnya dia ada di pesta ini!” Ferry memohon putus asa. Tapi tatapan Vonny membuatnya tak berani melawan. “Enak saja kamu bilang dia anakku,” gerutu Vonny makin judes. Ferry hanya bisa meringis sedih tak bisa berbuat apa pun. Pada akhirnya, ia harus rela melepaskan Indira pergi dari pesta itu begitu saja. Merina menyeringai puas, lalu kembali masuk bersama ibunya, seolah tidak peduli Indira yang sudah pergi meninggalkan pesta. Indira berjalan cepat kembali ke mobil Celin. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel dan menelpon sahabatnya itu agar segera pulang bersamanya. Kesedihan bercampur marah menyesakkan dadanya. Ia tidak mau lagi sedetik pun berada di tempat itu. Celin buru-buru datang setelah mendapatkan telepon dari Indira. Ia separuh berlari dengan heels-ya masuk ke dalam mobil. Tanpa banyak tanya langsung menyalakan mesin. Ia tidak menanggapi atau bertanya apa pun karena tahu jika Indira sedang kusut. Sementara itu, di dalam mansion, Juan Del Luca berdiri berhadapan dengan Rama Vendrino. Aura permusuhan kental di antara mereka. Rama tak pernah rela berbagi warisan pada anak haram seperti Juan. Tapi Juan sudah terbiasa dengan kebencian itu—senyumnya tetap sinis, tatapannya penuh ejekan. “Jangan coba-coba ganggu pesta anakku, Juan! Kamu nggak pernah jadi bagian keluarga ini,” ujar Rama mendesis penuh amarah. Juan malah terkekeh pelan, senyum liciknya semakin melebar. “Aku nggak peduli jadi bagian keluarga kalian. Aku cuma mau ambil apa yang seharusnya jadi milikku. Kamu nggak baca wasiatnya Papa?” Rama menggeram keras rahang. Wasiat almarhum Kevin Vendrino memang masih jadi duri di hatinya. Baginya, mustahil ayahnya menyamakan anak dari selingkuhannya dengan dirinya sendiri. “Jangan bawa-bawa mendiang Papa dengan mulut kotor kamu, Juan. Ini bukan saatnya ngomongin uang!” Juan tertawa terbahak, tangannya masuk ke saku celana, wajahnya sinis. “Jadi kamu nggak akan pernah kasih bagianku, kan? Oke, baiklah. Tapi ingat, pernikahanku akan menjadi awal dari kehancuranmu. Aku akan sanga senang melihat keluarga ini hancur pelan-pelan … dan aku akan menikmatinya.” “Kamu cuma sampah!” Rama mendengus penuh benci. Juan tetap tersenyum tipis, lalu perhatiannya beralih ketika Alfandi Vendrino, kakek mereka, melangkah mendekat. Rama ikut menoleh. “Juan, aku harap kamu nggak datang dengan niat buruk. Aku tahu kamu bukan anak seperti itu,” ucap Alfandi mencoba menengahi. Meski ia kecewa pada masa lalu putranya, Kevin, sebenarnya Juan tak bersalah. Juan tidak menjawab, ia hanya menatap datar. “Nanti kita bicarakan soal bagian warisanmu setelah kamu menikah dengan pacarmu. Sekarang nikmati dulu pesta keponakanmu dan jangan bikin keributan. Kita ini keluarga.” Juan kembali menyunggingkan senyum sinis, menatap Rama penuh ejekan. Rama hanya bisa menggeram kesal, tak bisa melawan di depan ayahnya. “Para tamu sudah menunggu. Mari kita lanjutkan makan malam,” ujar Alfandi, berusaha menutup perselisihan. Reputasi keluarga tidak boleh jatuh di depan umum. Juan akhirnya kembali ke mejanya dengan wajah tegang. Namun ia sadar jika pacar pura-puranya sudah menghilang entah kemana. Ia mencari Indira dengan raut cemas, tapi tak menemukannya. “Om Juan!” terdengar sebuah panggilan memecah pikirannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN