Begitu Alex melihat Juan kembali ke mejanya, ia langsung berdiri dan menghampirinya. Ia tak tahan dengan apa yang baru saja terjadi di hari pernikahannya. Seperti ada bara yang sedang membakar kepalanya.
“Om Juan?”
Tatapan Juan berbalik ke belakang lalu berhadapan dengan Alex yang datang menghampirinya. Ia tampak resah seperti memendam kekesalan. Juan bisa menangkap keresahan jelas di wajah Alex.
“Apa yang sedang Om lakukan? Dari mana Om kenal dia?” Alex melemparkan pertanyaan tanpa basa-basi. Juan sempat mengernyit, lalu akhirnya tersenyum tipis.
“Maksud kamu ... pacarku? Oh ya, Om sedang cari Dira. Kamu lihat dia gak?” jawab Juan santai, sengaja membuat kesal. Alex mendengus, geleng kepala tak percaya.
“Kenapa Om melakukan ini padaku?” tekan Alex penuh emosi.
“Apa maksudmu? Om gak ngerti,” balas Juan tetap menjawab dengan raut menyebalkan. Alex hampir terpancing, tapi ia menahan diri. Amarahnya membara melihat sikap dingin Juan. Ia memang tidak memiliki hubungan yang baik dengan Juan karena ayahnya, Rama. Tetapi sekarang semua jadi makin lebih buruk.
“Jangan nipu, Om. Indira bukan pacar Om!” sergah Alex tanpa sadar. Juan malah tersenyum miring, semakin membuat Alex jengkel.
“Alex, ngapain kamu repot-repot menuduh Om seperti itu? Sebenarnya apa hubunganmu sama dia?” Juan balik menyerang dengan pertanyaan menusuk tapi masih tenang dan dingin. Alex terdiam, tak bisa mengungkapkan kebenaran. Tapi dorongan itu terlalu kuat untuk ditahan.
“Indira adalah pacarku!” akhirnya Alex blak-blakan. Juan terdiam sejenak, wajahnya datar. Keningnya lalu perlahan mengernyit. Kini ia mengerti alasan kehadiran Indira di pesta ini. Menarik, pikirnya. Gadis itu bukan sekadar tamu biasa. Tapi sebelum Juan sempat bicara lebih jauh, Rama datang menyela.
“Ada apa ini?” tegurnya setengah menghardik. Alex langsung gugup dan membuang muka sedangkan Juan malah menyeringai.
“Gak ada, Pa,” balas Alex dengan nada rendah berbohong pada ayahnya. Juan membalas dengan dengusan sinis pada sikap pengecut Alex.
“Kembali ke mejamu,” perintah Rama dengan nada rendah pada Alex. Alex pun mundur, sementara Juan masih melirik dengan sudut matanya.
“Sepertinya aku harus pergi sekarang. Selamat atas pernikahanmu, Alex. Semoga kamu bahagia,” ucap Juan sambil menepuk punggung keponakannya. Rama hanya mengerutkan kening melihatnya.
“Om mau pamit dulu sama istrimu,” lanjut Juan, lalu melangkah menuju meja Merina. Rama dan Alex tak bisa menahannya karena ia tetap menunjukkan sikap sopan.
“Selamat datang di keluarga. Senang akhirnya bertemu anggota baru keluarga Vendrino,” ucap Juan dengan senyum lebar menyapa Merina dengan ramah. Merina membalas dengan senyum kikuk, lalu mengulurkan tangan meraih jabat tangan Juan. Ia sampai berdiri dan Juan sedikit menariknya dengan sikap yang membuat Merina terperangah.
“Semoga kamu tidak cepat bosan. Laki-laki itu … uhm, selamanya tetaplah anak-anak,” sindir Juan dengan senyum sinis. Merina langsung merengut.
“Apa maksud, Om?” tanyanya polos. Juan mendekat, sorot matanya tajam dan mengintimidasi sekaligus memikat. Wangi parfumnya menusuk, membuat Merina hampir kehilangan napas.
“Kalau kamu penurut, dia akan setia,” bisik Juan serak di telinganya, lalu mengedipkan matanya dengan genit.
Mata Merina membesar, napasnya tercekat. Begitu Juan mundur, ia buru-buru menghela napas panjang. Ia ditinggalkan dengan rasa penasaran yang menyesakkan, sementara Juan sudah tak mempedulikannya lagi.
Tak lama, Vonny menghampiri Merina yang masih terdiam menatap punggung Juan pergi meninggalkan mereka dalam perasaan yang canggung.
“Dia bilang apa?” tanya Vonny ikut berbisik penasaran. Merina tergagap, lalu tersenyum kaku.
“Gak ada, Mama. Dia hanya memberi selamat,” jawabnya setengah berbohong. Vonny mengangkat alis, lalu mengangguk. Tapi tatapannya sempat melirik Juan dengan kagum.
“Ma! Ngapain sih diliatin terus?” protes Merina sambil menyikut halus.
“Kenapa!? Dia ganteng banget, kok. Jauh lebih ganteng dari Pak Rama,” sahut Vonny menyeplos ringan.
“Ih, Mama. Jangan genit deh. Dia itu Om-nya Alex!” Merina semakin mendesis dengan rasa kesal. Vonny hanya tersenyum dan tidak menjawab lagi. Merina pun kembali ke kursinya meski ia masih melirik ke arah Juan yang sudah tidak terlihat lagi. Rasa penasaran itu tertinggal di hati Merina. Mungkin saja Juan bercanda mengatakan jika Indira adalah kekasihnya. Merina tidak akan bisa menerima jika Indira malah memiliki posisi lebih tinggi di keluarga Vendrino jika bersama Juan Del Luca.
Sementara itu, Juan berjalan menuju mobilnya. Yang ada di kepalanya hanyalah Indira. Ia harus menemukan gadis itu lagi. Hubungan mereka harus segera dipertegas, apalagi statusnya sebagai pacar Juan Del Luca sudah diketahui publik. Foto mereka akan segera tersebar, gosip pasti akan membuat segalanya jadi makin jelas.
Di dalam mobil, Juan tidak langsung menyalakan mesin. Tangannya meraih ponsel dan menelepon asistennya, Nico Huda, orang kepercayaan sekaligus tangan kanannya.
“Ada yang harus kamu cari. Seorang gadis bernama Indira Wijaya. Dia target barumu,” perintah Juan sambil menggenggam erat setir. Ia menghidupkan mesin dan bersiap untuk keluar dari parkiran.
“Oke. Ada info dasar tentang dia, Pak? Biar aku gampang melacak,” jawab Nico.
“Aku tidur dengannya. Dia cantik… dan dia pacarnya Alex Vendrino,” ujar Juan enteng.
“Apa? Maksud Bapak, Bapak tidur dengan pacar keponakan Bapak sendiri?” Nico menekankan ulang.
“Ya. Dan aku butuh dia malam ini juga.”
“Tapi, Pak—”
“Lakukan yang aku perintahkan, Nico. Jangan banyak membantah,” potong Juan, lalu mematikan telepon. Senyum licik terukir di wajahnya. Ia pun melajukan mobil menuju penthouse. Malam ini, Indira harus kembali padanya.
Di sisi lain, Indira enggan pulang. Ia lebih memilih tinggal di rumah kontrakan Celin daripada bertemu keluarganya lagi.
“Makasih ya,” ucap Indira lirih saat menerima segelas jus dari Celin. Mereka duduk di sofa, masih mengenakan gaun pesta dan baru saja pulang.
“Mau cerita?” tanya Celin pelan. Indira hanya tersenyum pahit, menunduk.
“Aku seharusnya gak datang, Cel. Aku gak pantas ada di sana,” bisiknya sembari menyeka air mata. Celin meremas tangannya, mencoba menguatkan.
“Kamu bisa hidup tanpa mereka. Ini saatnya keluar dari bayang-bayang keluarga kamu. Kamu udah dapat kerja di Lotus kan ... Itu awal yang baik,” ujar Celin mencoba menyemangati.
“Aku juga mikir seperti itu. Tapi butuh waktu cari rumah. Boleh aku tinggal di sini dulu sampai nemu rumah kontrakan?” tanya Indira malu-malu.
Celin tertawa kecil, lalu memeluknya. “Ah, Dira sayang, aku udah lama minta kamu tinggal bareng. Kok sekarang kamu masih nanya? Aku sayang banget sama kamu.”
Indira tersenyum dan membalas pelukan itu. Celin bukan sekadar sahabat, tapi sudah seperti saudara yang tak pernah ia punya.
Namun kehangatan itu buyar saat bel di depan berbunyi. Mereka berdua saling pandang dengan dahi berkerut.
“Siapa ya?” Celin berbisik. Indira juga bingung, tapi akhirnya memutuskan untuk mengecek.
“Tunggu, mungkin itu Papamu. Kamu mau ketemu dia?” Celin menahan Indira dengan ragu. Tapi Indira tersenyum tipis.
“Gak apa-apa. Kita lihat saja siapa yang datang.” Celin akhirnya mengangguk. Mereka berdua berjalan ke pintu. Saat Indira membukanya, wajahnya langsung berubah bingung.
Di depan pintu berdiri seseorang yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
“Selamat siang, Nona Wijaya,” ucap pria itu.