"Tidak!" kata Maya sambil mundur perlahan dan menggelengkan kepalanya. Ia berniat untuk memutari pagar rumah megah tersebut. Azam, dimana kamu? Sambungnya tanpa suara. Saat ini yang ada di dalam pikiran Maya hanyalah Azam. Ia tidak memiliki kenalan lain di sekitar kediaman Wibowo. Ditambah lagi dengan jejeran rumah elit pada setiap rumah, memiliki pagar tinggi dan hubungan orang satu dengan yang lainnya tidak baik. "Di mana dia?" suara kasar itu terdengar di telinga Maya yang semakin berlari cepat ke arah jalanan besar. Jika masih ada taksi atau apa pun, Maya pasti akan ke kantor polisi atau kemanapun yang bisa menyelamatkan jiwa Akbar. "Di sana!" teriak yang lainnya, lalu mereka mengejar Maya bersama-sama. Seraya berlari dan berpikir, Maya memperhatikan sekitar. Rasanya tidak mungki

