*** Stev memperhatikan Dafa dengan seksama. Ada yang janggal dari tatapan mata Dafa. Seperti kegelisahan yang tiada ujung. "Jadi, besok kau akan kembali ke Jakarta?" tanya Stev membuka obrola, sebab sejak tadi yang Dafa lakukan hanya mengerutkan dahinya. Dafa terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia mengangguk pelan setelah balas memperhatikan Stev. "Iya om, aku ke sini untuk berpamitan. Entah kapan kita bisa bertemu lagi," ucapnya. Stev ikut menganggukan kepalanya. "Kau pada akhirnya menyerah," sedikit kecewa, Stev menggenggam tangannya. "Sudah saatnya Dafa nyerah, Om," balas Dafa. Keputusan yang ia miliki sudah final. Tak mungkin ia tarik lagi ketika Vivian saja tidak peduli. Gadis itu tampak ceria di matanya. Sekalipun tak pernah merasa kehilangan. Lalu untuk apa Dafa menyesali perp

