*** Cukup lema hening menemani Jeni dan Dafa. Bukan Dafa tak mengerti maksud dari perkataan Jeni, tetapi Dafa kesulitan membalasnya. Dari tempatnya berada, Jeni terkekeh demi memecah keheningan yang membelenggu mereka. "Khawatir karena aku sahabat kamu, kan, Daf?" tanya yang sejak tadi dirinya abaikan akhirnya terlontar jua. Dafa pun merasa canggung. Memang benar ia hanya menganggap Jeni sebagai seorang sahabat, tetapi Dafa paham Jeni memiliki perasaan yang lebih dari itu. Dafa tidak ingin menghancurkan perasaan Jeni, tetapi dirinya juga tak ingin membuat Jeni berharap lebih. Kekhawatiran yang ia tunjukan beberapa saat lalu murni karena ia menganggap Jeni sebagai sahabatnya. "Bodohnya aku, tentu saja sebagai sahabat," terlanjur, pikir Jeni. Mereka terlanjur membahas kedekatan hubungan

