*** Dafa menolehkan kepalanya saat mendengar Jeni memekikan namanya. Lelaki itu mengangkan tangannya sebagai bentuk dari sapaan. Makan siang kali ini, Jeni sengaja datang ke restoran di mana Dafa mendedikasikan dbakatnya. Restoran milik sang pujaan hati yang mungkin cintanya telah terbagi. Mengingat itu Dafa menghela napas berat. Tck. Sebisa mungkin Dafa melupakan kejadian semalam. Ia masih memiliki harapan untuk kembali memiliki Vivian, terlepas apapun yang telah terjadi pada sang pujaan hati bersama kekasih barunya itu. Dafa yang sedikit lenggang menghampiri Jeni setelah mendapat izin dari Georgeo. Senyum Dafa terbit untuk teman barunya itu. "Ketemu, kan?" maksud Dafa adalah restoran ini. Jeni mengangguk singkat. "Ini milik temanmu, kan?" tanyanya. Dafa tidak tahu harus me

