*** Vivian duduk termenung di atas tempat tidurnya. Kedua lutut ia tekuk untuk menyangga kepalanya yang terkulai lemas. Sudah sejak setengah jam yang lalu ia bangun dari tidurnya. Matahari pun sudah mulai naik. Semalam, gadis itu lama menangis hingga tidur tanpa disadari. Matanya tampak membengkak, tetapi wajah cantik itu masih saja elok dipandang mata. "Apa yang harus kulakukan?" tanyanya sudah untuk yang kedua kali. Suaranya yang parau betul-betul menjadi tanda sesering apa ia menangis malam tadi. Pagi ini, duduk sambil melipat kaki, Vivian sedang berpikir keras. Hatinya meminta untuk menjelaskan apa yang terjadi akhir-akhir ini pada Dafa, tetapi logikanya menolak dengan keras karena Dafa sudah menyakitinya berkali-kali. Vivian sungguh tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Apakah ia

