Tidak mudah merelakan seseorang yang pernah menjadi bagian dari hari-harimu untuk menjadi bagian dari hari-hari orang lain... *** Shenin duduk di bangkunya sambil mengetukkan jemarinya pada meja. Ia baru saja tiba, tapi perasaan tak nyaman itu juga begitu saja muncul ke dalam hatinya. Shenin menggigit bagian dalam bibirnya dan menolehkan kepala ke arah pojok belakang kelas. Dia mendapati Angkasa di sana, bersenda gurau bersama murid-murid cowok yang lain, terlihat biasa seolah tak terjadi apa-apa dengan mereka kemarin. Kalau begitu, Shenin juga harus bisa bersikap biasa saja. Bel berbunyi, Shenin mendengar seseorang menyapanya. “Hay, Shen.” Shenin menoleh ke sampingnya. “Lo duduk di sini?” tanyanya pada seseorang yang kini menempati bangku di sebelahnya. Dimas. “Iya, Angkasa mau dudu

