Sudah menjelang larut malam dan Orion masih berdiam diri di kafe kaki lima. Entah berapa kopi yang sudah ia teguk agar matanya tetap terang tanpa redup. Di atas meja, ponselnya menyala menampilkan walpaper di mana foto Kanaya terpampang secara nyata. Sangat manis. Ya, sejak tadi Orion memperhatikan wajah manis Kanaya dalam foto. Jika ponselnya gelap, maka Orion kembali menekan tengah layar agar kembali menyala. Sudah Sepantasnya ia disebut kehilangan akal! Ah, apa cinta membutakan segalanya? Orion menghela napas kasar lantas mengusap wajahnya frustrasi. Bagaimana dirinya bisa terluka separah ini hanya karena seorang perempuan? Apa pengaruh Kanaya dalam hidupnya sampai ia seperti ini? Apa hebatnya Kanaya sampai memporak-porandakan hati seorang Orion? Kanaya tidak secantik Bae Suzy,

