Aldan tidak menyangka jika berdua dengan Zevanya membuat jantungnya semakin tidak stabil. Ini untuk pertama kalinya ia merasakan hal yang sedikit aneh itu. Meresahkan! Apalagi melihat Zee di dapur dengan celemek warna cokelat susUu itu. Luar biasa sangat cantik. Aldan tidak bisa memungkiri itu! “Aw!” pekik Zee. “Ada apa?” Aldan langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Zee. Syukur saja jarak antara dapur dan ruang makan hanya beberapa langkah sehingga Aldan sigap menolong Zee. “Ada apa?” tanya Aldan lagi dan jelas dengan mimik khawatir. Ada apa dengan lelaki itu. Mengapa menjadi khawatir pada Zee seketika? Apa ia sudah gila? Zee menunjuk pada tangannya yang memerah. “Kenapa?” tanya Aldan lagi. Lelaki itu bawel seketika. Zee menahan tangis layaknya bayi kecil. ekspresinya sa

