bc

Akad yang Dicuri

book_age16+
181
IKUTI
3.5K
BACA
forbidden
family
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
serious
city
substitute
like
intro-logo
Uraian

Ayesha terpaksa hidup berpura-pura sebagai Asmira—kembarannya yang koma setelah mengalami kecelakaan. Ayesha menjadi pengantin pengganti dan mencuri akad yang seharusnya diucapkan untuk saudara kembarnya. Hanya perkara waktu sampai Praya mengetahui kebohongan tersebut.

chap-preview
Pratinjau gratis
1 : Identitas yang Dicuri
Ayesha POV Hujan deras mengguyur ketika mobil yang dikendarai oleh Asmira—kembaranku—melaju memasuki tol Jagorawi. Suasana di dalam mobil sebanding dengan atmosfer dingin dan mendung di luar sana. Tadinya aku, ibu, dan Asmira berniat untuk mengambil gaun pengantin Asmira yang telah selesai. Kebetulan butik tempat gaun dibuat terletak di sekitar kawasan Bogor. Hanya saja, begitu mobil memasuki tol Asmira mendadak mengatakan sesuatu yang membuat ibu naik pitam. “Kita akan putar balik begitu bertemu rest area,” kata Asmira untuk yang kedua kalinya. “Pernikahan ini … harus batal.” “Kamu enggak bisa membatalkan pernikahan yang sudah di depan mata. Tinggal 30 hari lagi sampai kamu menjadi pengantin, Asmira!” Ibu membalas dengan nada tinggi. Perempuan yang telah melahirkan kami itu duduk di kursi penumpang, tepat di samping Asmira. Kuliha Asmira menggeleng. Melalui view rear mirror aku dapat melihat ekspresinya yang gusar. “Aku enggak mau mencuri Mas Praya dari keluarganya. Sejak awal hubungan kami memang enggak pernah mendapatkan restu dari keluarga Respatika.” “Hanya kamu harapan kita satu-satunya. Kita bisa bebas dari jerat utang begitu kamu menikah kelak.” “Aku bisa kerja lebih keras demi melunasi semua utang kita.” “Ayahmu mati dengan meninggalkan utang miliaran. Ibu membesarkan kalian dengan sistem gali tutup lobang ke rente-nir. Uang sebanyak itu mustahil bisa dilunasi hanya dengan mengandalkan gajimu yang sedikit di atas UMR Jakarta.” Nada bicara ibu terdengar bergetar. “Kita bisa jual mobil ini. Harganya masih tembus di angka seratus juta.” Ibu tak membalas lagi. Hal tersebut membuatku yang duduk sendirian di belakang mulai merasa gugup. Sejak ayah meninggal, ibu menjadi tulang punggung satu-satunya. Kondisi ekonomi kami baru membaik sejak Asmira diangkat sebagai karyawan tetap di Respati Group. Pernikahan yang ditawarkan oleh Abhipraya Respatika menjadi angin segar bagi ibu. Di dalam bayangan ibu putra kedua dari direktur utama Respati Group itu pasti akan membawa perubahan ekonomi bagi mereka. Akan tetapi, kini harapan-harapan itu harus sirna. “Lebih baik Ibu mati daripada harus hidup dengan menanggung beban sebesar itu.” Tanpa kami duga ibu membuka pintu mobil. Melaju di jalan tol tak sama dengan melaju di jalan raya biasa. Asmira yang tak bisa meminggirkan mobilnya begitu saja berusaha untuk mencegah tangan ibu dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya digunakan untuk mengemudi. Fokusnya pecah. Aku yang duduk di belakang juga berusaha melakukan hal serupa selama mobil masih melaju. “Ibu, jangan!” pintaku dengan suara memohon. Ibu menepis tangan kami. Pintu semakin terbuka lebar. Asmira yang kehilangan fokus tidak menyadari bahwa mobil yang dia kendarai melaju keluar arah. “Asmira, awas!” Aku berteriak panik sewaktu melihat sebuah truk yang melaju dari arah sebaliknya berada di jalur yang sama dengan mobil yang sedang kami naiki. Seketika itu juga ketegangan terjadi. Aku tidak tahu apa yang sedang Asmira pikirkan, tetapi satu-satunya strategi yang saudarku pilih adalah membanting setir sekuat mungkin. Hal terakhir yang aku lihat sebelum gelap menyergap adalah adegan ketika mobil menghantam pembatas jalan dengan kekuatan besar yang membuat tubuh Asmira terhempas ke depan. Aku tak bisa melihat apapun untuk beberapa saat. Pemandangan di sekitarku berubah menjadi kilasan cahaya dan bayangan gelap. Walaupun begitu, panca inderaku yang lain masih berfungsi dengan baik. Aku dapat dengan jelas mendengar suara logam melengking memenuhi udara bercampur dengan bunyi kaca pecah yang berserakan. “Ayesha, bangun!” Aku dapat mendengar suara ibu. Vokalnya terdengar dekat denganku. “Kita harus keluar.” Aku berusaha mengedip dalam rangka menyingkirkan gelap. Usahaku tak sia-sia sebab perlahan aku dapat melihat dengan jelas. Aku dengan panik berusaha mencari keberadaan Asmira. Napasku seakan berhenti selama beberapa detik ketika melihat tubuh Asmira terjepit. Kondisinya jelas lebih mengenaskan daripada aku dan ibu. “Asmira bagaimana?” Kengerian terdengar jelas dari suaraku. “Selamatkan diri kita dulu.” Walau sengatan rasa sakit terasa menjalar di kakiku, aku tetap memaksakan diri untuk bergerak. Dengan tangan yang bergetar akibat shock, aku membuka pintu mobil. Ibu menyusul keluar tak lama kemudian. Waktu seakan berjalan dengan lambat ketika akhirnya sirene polisi mulai terdengar mendekat bersama sinar lampu biru yang berkedip-kedip. Di titik mobil kami kecelakaan sejumlah mobil mengurangi kecepatan demi melihat apa yang baru saja terjadi. Di bawah guyuran hujan yang semakin deras proses evakuasi Asmira berjalan alot. Butuh waktu sekitar 15 menit sampai akhirnya tubuhnya dapat dibawa keluar dari mobil yang ringsek. Pada saat itulah aku merasa seperti duniaku berhenti berputar. Ketika tandu Asmira dibawa aku dapat melihat darah di wajah saudaraku. Darah segar itu berasal dari robeknya daging di bagian pipi kiri. Luka memanjang yang tampaknya terjadi karena benda berujung tajam itu membuat penampilan Asmira terlihat mengerikan. Kecantikannya seakan ikut tersapu bersama air hujan yang mengguyur serta aroma amis khas darah. *** Aku terbaring di brankar dengan tubuh akibat dingin dan sengatan rasa sakit. Suasana IGD sore itu terasa sangat mencekam. Para tenaga medis berlarian mengerubuni sebuah brankar tempat di mana kembaranku berbaring tak berdaya. Di dalam genggamanku cincin milik Asmira terasa begitu dingin. Benda itu jatuh ketika tubuhnya sedang dimasukkan ke dalam ambulans. Wajah ibu yang pucat memandanganku tajam. Beruntungnya luka ibu tak parah, yakni hanya sebuah robekan ringan di pelipis. “Sebulan lagi Asmira akan menikah dengan Praya. Hanya pernikahan ini yang bisa menyelamatkan kita dari kemiskinan. Seandainya Asmira benar-benar mati maka, bukan hanya jasadnya yang akan dikubur. Tapi, juga jasad kita berdua.” Tenggorokanku terasa kering ketika harus menimpali ucapan Ibu, “Maksudnya?” “Asmira berhasil memikat hati Abhipraya Respati. Kita bisa lepas dari jerat kemiskinan. Kita berdua bisa lepas dari lintah darat yang akan merongrong habis uang kita sampai kiamat! Jadi, sebelum kita berdua menyusul Asmira ke alam baka di sini peranmu dibutuhkan. Jadilah Asmira. Gantikan kakakmu. Dan, Ibu akan mengurus sisanya.” Aku menatap ibu dengan ekspresi terpukul. “Asmira akan hidup.” “Kalau pun hidup belum tentu Praya masih sudi menikah dengannya. Kamu enggak lihat tadi luka besar di wajah Asmira? Wajahnya sudah enggak cantik lagi. Manusia itu makhluk visual. Praya adalah laki-laki normal yang sewajarnya mencintai keindahan. Kalau dia tau wajah tunangannya cacat begitu, pasti dia akan membatalkan pernikahan.” “Tapi, itu namanya pengkhianatan.” Aku menggeleng takut. Mana mungkin aku menikahi laki-laki yang dicintai oleh saudaraku sendiri? Terlebih lagi aku harus berpura-pura menjadi dirinya. “Asmira akan menjalani kehidupan yang berbeda. Dia pasti butuh waktu untuk kembali bekerja. Sedangkan, kamu? Gajimu bahkan berada jauh di bawah Asmira. Kita tetap harus bertahan hidup, Ayesha. Kita bertiga bisa mati kapan saja karena kelaparan atau karena dikeroyok rente-nir. Sekarang kamu hanya perlu memilih antara berkhianat atau bertahan hidup.” Aku melirik brankar tempat di mana Asmira berbaring. Sejak dulu saudaraku adalah harapan kami. Berbeda denganku, Asmira selalu jadi anak kebanggaan ibu. Meskipun fisik kami identik, tetapi nasib kami berbeda jauh. Asmira yang cerdas mendapatkan beasiswa untuk menempuh S1 di ITB. Begitu lulus dia langsung diterima di sebuah perusahaan properti terkemuka di Indonesia. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun Asmira sudah diangkat sebagai karyawan tetap dengan gaji yang lebih tinggi daripadaku. Keberuntungannya terus mengalir bahkan sampai ke ranah asmara. Tahun lalu Asmira dilamar oleh putra kedua Hattala Respati—seorang anak dari konglomerat terkemuka di negeri ini. Sementara aku, sebaliknya. Sudah 20 menit kami masuk IGD dan belum ada tanda-tanda Asmira akan sadarkan diri. Bersamaan dengan itu pula seorang perawat berjalan mendekati brankar kami. “Mohon maaf kami perlu salah satu dari kalian untuk mengisi beberapa berkas administrasi agar proses perawatan bisa berjalan lancar. Selain pasien di sana, Anda juga membutuhkan operasi karena terjadi fraktur kaki.” Perawat itu menunjukku. “Berkas ini termasuk data identitas seluruh pasien, informasi asuransi, dan sedikit rincian mengenai kecelakaan yang terjadi. Jadi, siapa yang berkenan untuk mengisi?” Ibu tak perlu repot-repot menunggu responsku. Dengan cepat ibu menyambar lembar berkas adminstrasi mewakili kami bertiga. “Anak Ibu kembar ya. Jadi, yang namanya Azrina Ayesha yang mana?” “Sa—” “Itu!” Ibu memotong dengan cepat. “Yang terbaring di brankar dan masih ditangani oleh dokter. Sedangkan ini kakaknya, Asmira Ardhani.” Dengan berani ibu berbohong menukar identitas kami. *** Aku memandangi layar ponsel milik Asmira. Satu jam setelah sadar dari operasi fiksasi internal—proses dikembalikannya tulang yang patah ke posisi normal melalui prosedur bedah—ibu memberikan ponsel Asmira kepadaku. Di layar ponsel yang tak terkunci aku melihat 50 notifikasi panggilan tak terjawab dan 100 pesan yang belum dibaca dari kontak bernama Mas Praya. “Mulai hari ini kamu akan hidup sebagai Asmira Ardhani,” kata ibu membuka percakapan. Sehubung ibu tidak mengalami luka yang membutuhkan perawatan khusus perempuan itu tak menjalani opname sebagaimana aku. Ibu kini duduk di samping brankarku. “Tapi, Kak Asmira bagaimana?” Ibu membuang wajahnya seolah menolak untuk memandang ekspresi bersalah di wajahku. “Dia koma. Dokter juga bilang, ada dislokasi di tulang leher bagian atas yang membuat saraf-saraf utama di sekitar tulang belakangnya mengalami tekanan. Kalau pun bangun kemungkinan besar dia akan mengalami kelumpuhan permanen.” Hatiku hancur mendengar berita yang dibawa oleh ibu. Bagaimana mungkin nasib seseorang dapat berubah hanya dalam kurun waktu 24 jam? Asmira yang seharusnya sedang berbahagia karena sebentar lagi akan menjadi pengantin justru terbaring tak berdaya di ruangan ICU. Sebelum aku sempat menemukan kalimat yang tepat untuk dikatakan ponsel di tanganku sudah terlebih dahulu bergetar panjang. Nama Mas Praya muncul. Dengan tangan bergetar aku menerima panggilan itu. “Asmira?” Terdengar suara berat yang memanggil nama saudara kembarku. Aku melirik ibu yang diam-diam mencuri pandang ke arahku. “Iya, Mas.” Embusan napas panjang terdengar di seberang sana. “Syukurlah aku bisa mendengar suaramu. Semalam Ibu sudah menghubungiku dan menjelaskan tentang peristiwa yang menimpa kalian. Aku sudah janji akan pulang hari ini, tapi semua penerbangan dari Amerika dibatalkan karena badai.” “Enggak apa-apa, Mas. Aku … baik-baik aja.” “Aku dapat informasi kemungkinan lusa badai mereda dan penerbangan akan dilakukan. Selama itu, tolong tunggu aku ya?” Aku mengangguk dengan perasaan bersalah yang memenuhi hatiku. “Iya, Mas.” “See you, Asmira. I miss you and I love you.” Aku tak sanggup membalas ungkapan cinta yang seharusnya diterima oleh saudara kembarku. Dengan hati yang kacau aku memutus panggilan tanpa mengatakan apapun. *** Ketika aku bangun pemandangan pertama yang kulihat adalah wajah Abhipraya Respati. Selama dua hari terakhir aku sudah mencari informasi mengenai Asmira dan tunangannya. Melalui pesan yang mereka kirim dan foto-foto yang ada di ponsel Asmira, aku tau kalau Praya pergi untuk urusan bisnis ke Amerika. Seharusnya dia baru pulang 5 hari lagi, tetapi kini lelaki itu duduk di samping brankarku. Praya terlihat begitu khawatir. Sweater turtleneck yang Praya kenakan serta keberadaan sebuah overcoat yang tersampir di lengan kursi menunjukkan kalau laki-laki itu langsung datang ke sini begitu tiba di bandara Soetta. “Hai,” sapa Praya dengan suara beratnya yang mulai aku hafal. Jarinya bergerak mengusap keningku. Ada cinta dari sentuhan laki-laki itu. Aku dapat merasakannya sendiri. “How was your sleep?” Aku merasa ini semua tidak pantas. Seharusnya sosok Praya berdiri di depan pintu kamar ICU menunggu Asmira yang asli. Asmira yang terbaring koma dan bukannya di sini menemani Asmira palsu. Aku telah mencuri identitas saudaraku sendiri. “Aku bermimpi buruk,” kataku. Secara mengejutkan nada suaraku bergetar. Mataku juga terasa mulai panas. “Aku merasa enggak pantas ada di sini di saat saudaraku ….” Aku tak sanggup melanjutkan. Ucapan ibu membuatku ragu untuk berkata jujur kepada Praya. Padahal seharusnya aku tak melanjutkan kebohongan ibu. Hanya saja, pada posisi ini aku tak memiliki pilihan. Praya bangkit dari duduknya sedangkan jarinya mengamit daguku dan membawa wajahku mendekat. pagi itu untuk pertama kalinya Praya meninggalkan kecupan ringan di keningku. “Kamu enggak akan melalui semua ini sendirian, Asmira. Ada aku yang akan menjaga kamu, ibu, dan juga Ayesha,” katanya kemudian. Di saat aku belum mampu memproses apa yang baru saja dia lakukan Praya sudah meraih tanganku yang bebas dari jarum infus. Di jariku kini terpasang cincin pertunangan milik Asmira. “Aku merasa berdosa karena bukan kamu yang mengalami luka fatal. Aku … bisa gila kalau sampai kamu yang terbaring koma.” Aku memandangi wajah Praya. Berbeda dariku yang tak pernah dicintai, Asmira yang asli justru mendapatkan cinta yang besar dari seorang Praya. Entah bagaimana sampai akhirnya mereka berdua bisa saling mencintai. Satu yang pasti hari ini aku memiliki calon pengantin pria. Di jari manisku tersemat cincin pertunangan yang mengikat Praya dengan diriku. Hanya perkara waktu sampai Praya mengendus kebohongan yang aku dan ibu ciptakan. []

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook