“Aku akan menikah!”
Sekitar 6 bulan yang lalu Asmira pulang kampung. Sejak lulus kuliah Asmira memutuskan untuk menetap di Jakarta—tempat di mana perusahaannya berada. Sementara itu, aku tetap tinggal di Surabaya bersama dengan ibu.
Sewaktu mendengar berita itu aku bingung harus bereaksi seperti apa. Pada satu sisi aku ikut merasa bahagia atas saudara kembarku. Namun, tak dapat dipungkiri ada bagian dari diriku yang merasa iri. Sepanjang hampir 25 tahun hidup belum pernah sekalipun aku merasa dicintai oleh seorang laki-laki.
Sejak duduk di bangku SMP cintaku selalu bertepuk sebelah tangan. Nasib yang berbeda 180 derajat dengan Asmira. Walaupun wajah kami mirip entah mengapa kisah asmaraku tak pernah semulus Asmira.
“Dengan Praya?” Ibu yang pertama kali memecah keheningan.
Asmira mengangguk dengan antusias. Diangkatnya tangan kiri Asmira sejajar dengan wajah. Sekali pandang saja aku dapat menemukan keberadaan cincin bermatakan berlian yang melingkar di jari manisnya. Perlahan pipi Asmira bersemu. “Minggu lalu Mas Praya melamarku secara enggak resmi. Tujuan aku pulang dan mengajak Ibu serta Ayesha untuk makan keluar malam ini ya … untuk memberitahu kalian soal ini. Kalau Ibu merestui bulan depan Mas Praya ingin datang untuk melamar secara resmi.”
“Mana mungkin Ibu enggak merestui? Calon suamimu itu salah satu penerus RG. Kalau kamu menikah sama dia otomatis keluarga kita akan kecipratan uangnya.”
Perlahan binar ceria di wajah Asmira luntur. Sudah menjadi rahasia kami berdua kalau keluarga Praya tak pernah merestui hubungan anaknya. Bukan tanpa alasan status ekonomi yang bagaikan langit dan bumi membuat mereka tak sudi untuk mengakui. Bukan hanya itu saja, pernah sekali ibu menggunakan nama Praya sebagai jaminan untuk mengajukan pinjaman. Beruntungnya masalah tersebut selesai dengan Praya yang melunasi semua utang kami. Sesuatu yang sangat memalukan.
“Aku harap Ibu enggak menjadikan Mas Praya sebagai mesin uang,” kata Asmira dengan nada suara pelan, namun tegas. “Semua utang kita biarlah menjadi tanggung jawabku. Jangan pernah libatkan Mas Praya di dalam masalah ini lagi. Cukup sekali aku kehilangan harga diri depan keluarganya.”
Ibu yang tak mau merusak suasana untungnya dengan cepat mengalah. “Iya-iya. Pokoknya Ibu merestui kalian. Jadi, kapan keluarganya mau datang?”
Sebagaimana janji Asmira kepada kami keluarga Praya datang satu bulan kemudian untuk melamar. Mereka datang jauh-jauh dari Jakarta ke Surabaya demi meminang saudara kembarku. Lagi-lagi rasa iri menelusup di dalam hatiku.
“Ayesha?”
Lamunanku langsung buyar ketika Asmira menjentikkan jarinya tepat di depan wajahku.
Asmira mencondongkan tubuhnya sedikit ke arahku detik itu juga. “Kamu melamun?”
Seakan kembali ditarik ke realita aku langsung memfokuskan diri pada keadaan saat ini. Di hadapanku Asmira terlihat cantik di dalam balutan kebaya kutu baru berwarna soft blue. Sebuah kalung dengan liotin berlian kecil menambah kesan anggun pada dirinya.
“Aku hanya sedikit mengantuk,” jawabku bohong. “Kamu cantik banget.”
Asmira tampaknya suka mendengar pujianku. Sebuah cengiran langsung terbit di bibirnya yang dipoles lipstick warna peach. Dengan segera dia menggandeng lengannku dan membawaku berjalan menuju ke depan cermin setinggi pintu yang berada di sudut kamar.
“Lihatlah. Kita amat mirip di sini.”
Aku memperhatikan pantulan diriku dan Asmira di cermin. Seorang perempuan dalam balutan kebaya kutu baru warna krem tampil berdiri di sebelah Asmira. Perempuan itu adalah aku. Sekilas kami memang terlihat seperti pinang yang dibelah dua. Bagaimana cara Asmira tersenyum, suara tawanya, dan lekuk tubuhnya—semua itu mirip denganku. Kami adalah kembar identik.
“Tapi, kamu lebih cantik,” kataku dengan nada muram yang sialnya tak bisa kututupi.
Asmira menoleh dengan raut wajah tak setuju. “Lho, kok begitu?”
Aku mengangkat bahu dengan tak acuh. “Buktinya kamu menemukan cinta lebih dulu. Seseorang lelaki yang berasal dari keluarga konglomerat bahkan rela terbang sejauh 600 KM lebih hanya demi bisa menjadikan kamu sebagai istrinya. Sedangkan aku?” Kusadari da-daku terasa berat oleh himpitan emosi. “Pacaran sekalipun belum pernah. Itu jadi bukti kalau sejak dulu kamu lebih cantik daripada aku. Kalau kita memang semirip itu harusnya nasib percintaan kita enggak beda jauh.”
“Aku enggak suka kamu ngomong gitu. Kamu itu cantik juga, Ayesha.” Jari Asmira yang lentik bergerak mengamit daguku membuatku yang semula menunduk kini jadi memandangnya dengan lurus. “Kamu hanya belum menemukan seseorang yang tepat. Cinta itu datang dengan sendirinya, Ayesha. Hanya karena kamu belum pernah pacaran bukan berarti kamu enggak lebih cantik daripada aku. Timing kita aja yang beda.”
“Benarkah?”
“Kapan aku berbohong?” Asmira menunjuk cermin yang berdiri kaku di hadapan kami. “Perhatikanlah baik-baik. Mas Praya belum pernah bertemu dengan kamu ‘kan sebelumnya? Kalau pun kamu mendatanginya sekarang dan mengaku bahwa kamu adalah diriku, maka aku yakin dia akan percaya.”
“Masa, sih?”
“Kita ini kembar identik, Ayesha. Warna mata kita, bentuk hidung, lekung bibir. Semua yang ada pada diriku juga ada pada dirimu. Kita adalah satu jiwa yang dilahirkan di dalam dua tubuh. Aku percaya suatu saat nanti akan ada laki-laki yang seberani Praya untuk datang melamarmu.”
Selama ini kisah tentang Praya hanya kudengar dari Asmira saja. Asmira mulai getol membicarakan Praya sejak dia berumur 20 tahun atau tepatnya ketika Asmira menjadi karyawan magang di Respatika Group. Pun, selama 5 tahun berkencan dengan Praya tak pernah sekalipun aku berjumpa langsung dengan laki-laki itu. Jarak antara Jakarta dan Surabaya yang jauh selalu menjadi alasan yang dipilih oleh Asmira setiap kali ibu meminta calon menantunya untuk datang ke sini.
Jadi, aku hanya tahu sosok Praya dari cerita Asmira. Bagaimana rupa laki-laki itu hanya kutahu dari tangkapan gambar atau video yang Asmira tunjukkan. Itu artinya, acara lamaran hari ini akan menjadi kali pertama bagiku untuk melihat figur seorang Praya Respatika secara langsung.
“Asmira, rombongan Praya sudah datang. Ayo.”
Di tengah percakapan itu ibu datang menginterupsi. Seketika itu juga Asmira berubah menjadi gugup. Sambil menggenggam tanganku erat-erat Asmira melangkah ke tempat di mana rombongan Praya sudah menunggu.
Acara lamaran hari ini digelar secara sederhana di rumah kami. Ruang tengah dipilih oleh ibu sebagai tempat acara. Secara heboh ibu menyulap ruangan sederhana itu menjadi tempat yang indah dengan dekorasi bunga mawar hidup.
Ternyata rombongan Praya hanya terdiri dari 3 orang. Seorang pria berusia 60an tampaknya adalah Hattala—ayahnya Praya, sedangkan dua lainnya adalah Biantara dan Mahawira—saudara kandung Praya. Aku pernah melihat mereka melalui foto yang ditunjukkan oleh Asmira.
Sementara itu, aku tak melihat tanda-tanda kehadiran Cempaka Anindya. Bukan rahasia lagi kalau ibunya Praya membenci kehadiran Asmira di dalam hidup anaknya. Sudah pasti perempuan itu tak merestui lamaran ini.
Harus kuakui kalau sosok keluarga Respatika memiliki paras yang luar biasa sempurna. Ketampanan Praya dan kedua saudaranya yang selama ini aku saksikan melalui layar ponsel seakan tak sebanding ketika aku melihat mereka secara langsung.
Sekali lagi kulirik Asmira. Bagaimana mungkin saudaraku itu mampu memiliki segala hal yang aku dambakan?
Prestasi, pujian, dan kekasih. Asmira memiliki segalanya, sedangkan aku satu pun tak pernah mendapatkannya.
“Asmira silakan sambut calon tunanganmu.”
Aku baru melepaskan pegangan pada tangan Asmira ketika MC meminta Asmira untuk berdiri menghadap Praya tepat di tengah ruangan. Hari itu Praya tampil dengan batik. Rambutnya disisir rapi dan ketika dia tersenyum, aku tak dapat menahan diri untuk tidak terperosok ke dalam pesonanya.
Praya tak hanya tampan, tetapi juga indah. Keindahawan surgawi yang tak nyata.
“Hai,” sapa Praya. Suaranya gugup.
“Hai.”
“Aku datang ke sini bersama keluargaku untuk melamar kamu, Asmira Ardhani. Aku ingin menjadikan kamu sebagai istriku. Aku ingin membawa kamu pulang ke rumah tempat di mana kita bisa beristirahat bersama. Aku ingin menjadikan perasaanku kepada kamu sebagai sesuatu yang halal.”
Asmira pasti berkaca-kaca mendengar ucapan Praya. Sejak kecil aku dan Asmira tak pernah dicintai oleh ayah kami. Hilangnya figur laki-laki di dalam hidup kami berdua jelas berpengaruh besar terhadap cara pandang kami terhadap dunia. Kemudian kini, seorang Praya menawarkan dunia yang penuh akan cinta dan keindahan kepada Asmira.
Aku benar-benar cemburu.
Bagaimana rasanya menjadi Asmira?
Kulihat Asmira mengangguk sebelum berkata, “Aku menerima lamaran Mas Praya. Aku juga ingin pulang ke rumah yang sama dengan Mas Praya. Aku ingin mencintai dan merawat Mas Praya dengan cara yang halal.”
Keduanya melakukan tukar cincin. Praya membelikan Asmira cincin yang berbeda untuk acara lamaran resmi. Cincin kedua ini memiliki mata berlian yang sedikit lebih besar. Kutebak harganya bisa setara dengan mobil kami.
Aku melihat Praya mengecup kening Asmira cukup lama. Ada kelembutan yang hangat dari bagaimana cara Praya memperlakukan Asmira. Entah apa yang dilihat oleh laki-laki itu dari saudara kembarku.
***
“Sayang?”
Aku dapat merasakan Praya menyentuh ujung jemariku. Seketika itu juga lamunanku tentang kenangan masalalu buyar. Aku yang belum terbiasa melakukan skinship dengan Praya secara refleks menarik tanganku menjauh dari jangkauannya.
Di dalam mobil yang akan membawaku dan ibu menuju ke apartemen milik Asmira, Praya yang sedang mengemudi tampak cukup terkejut melihat reaksiku. Pasti Praya tak akan menyangkan kalau sosok Asmira yang selama 5 tahun dia kenal dapat bersikap sedefensif itu.
Hanya saja, tentu Praya tidak tahu kalau sosok yang baru saja dia sentuh bukanlah Asmira, melainkan Ayesha—kembaran dari tunangannya sendiri.
“Asmira—”
“Maaf,” potongku cepat. Aku melirik ibu yang duduk di kursi belakang melalui view rear mirror. Perempuan itu tampak agak gugup. Ibu pasti khawatir Praya menyadari ada yang aneh. “Sejak kecelakaan aku jadi sering melamun. Aku masih terbayang peristiwa hari itu.”
“Kamu mau aku antar bertemu dengan psikolog? Aku khawatir kamu mengalami PTSD pasca kecelakaan.”
Tidak-tidak. Mendatangi psikolog hanya akan membuat kebohonganku terbongkar.
Secara terpaksa aku meraih satu tangan Praya yang bebas dari kemudi mobil. Kulit lelaki itu terasa hangat sewaktu bersentuhan dengan kulit tanganku. Di jari manisnya tersemat cincin pertunangan yang menunjukkan statusnya. Jantungku berdegup luar biasa riuh saat kugenggam tangan Praya.
“Aku akan baik-baik aja kok setelah ini. Kamu enggak perlu khawatir. Aku hanya perlu membiasakan diri dengan situasi yang ada sekarang.” Aku berkilah.
Praya balas menggenggam tanganku. Jari-jemari yang lebih besar dariku seakan menelan jari-jemariku yang kecil. Anehnya kala itu aku merasa Praya ikut serta menggenggam hatiku. Hanya butuh waktu singkat sampai laki-laki ini berhasil menempati titik buta di dalam hatiku.
Titik di mana aku juga ingin merasa dicintai dan mencintai.
“Kalau butuh apapun bilang saja padaku ya? Aku enggak mau kamu menyimpan rasa sakitmu sendirian.” Praya mengakhiri kalimatnya dengan meninggalkan kecupan ringan di punggung tanganku.
Ya Tuhan …
Berdosakah aku apabila mulai menginginkan lelaki ini?
“Aku ….” Suaraku tercekat, seperti ada sesuatu yang besar menahan di tenggorokan. “Makasih.”
Sekitar 20 menit kemudian kami tiba di apartemen milik Asmira. Seminggu lalu Asmira yang mengetahui bahwa aku barus saja dipecat dari perusahaan menyarankanku supaya melanjutkan karier di Jakarta. Ibu yang kebetulan tak lama bertemu dengan Asmira akhirnya ikut serta ke Jakarta.
Tadinya kehidupan kami cukup nyaman. Aku menyiapkan CV dan potofolio untuk melamar ke perusahaan baru, Asmira yang sibuk dengan persiapan pernikahannya, dan ibu yang tak sabar akan memiliki menantu. Sayangnya, semua itu harus berubah karena kecelakaan tragis kala itu.
Hanya dalam kurun 6 hari aku memiliki semua yang selama ini kudambakan.
“Ada yang bisa kubantu?”
Aku sedang duduk melamun di tepian kasur sewaktu tahu-tahu Praya menyembul di balik pintu yang terbuka.
Aku melihat tumpukan kertas CV atas nama Azrina Ayesha. Mau dibuat seperti apapun CV-ku tak akan pernah sebagus milik Asmira. Kampus yang kupilih dan perjalanan karier yang kutempuh semua itu masih tak sanggup membuatku tembus di Respatika Group. Dan, aku muak melihatnya.
“Bisa tolong kamu masukan CV Ayesha ke dalam kardus dan membuatnya?”
Praya melangkah dengan heran. Diliriknya kertas-kertas yang saling bertumpuk. Praya juga sempat mengambil selembar. “Ini milik Ayesha. Kenapa mau kamu buang?”
Karena aku ingin melupakan bagian dari diriku yang payah. Karena sekarang aku adalah Asmira yang tiba-tiba bergelar S.Ars—sarjana arsitekstur—dari universitas ternama. Aku adalah Asmira yang memiliki tunangan.
Ibu benar. Toh Asmira yang asli masih koma. Entah kapan saudara kembarku akan sadar. Satu yang pasti kali ini aku memiliki kesempatan untuk mengubah nasib.
“Karena kertas-kertas itu hanya membuatku sedih. Ayesha datang ke kota ini untuk bekerja atas dasar saranku sendiri. Tapi, dia malah kecelakaan. Seandainya Ayesha enggak datang ke sini pasti dia akan baik-baik aja. Iya ‘kan?”
Aku berusaha sebisa mungkin memasang ekspresi sedih. Kuharap Praya dapat tertipu. Hanya dengan begitu aku dapat membuatnya perlahan melupakan sosok Asmira yang asli.
Benar saja. Tak perlu menunggu lebih dari 5 detik ketika akhirnya Praya menarikku ke dalam dekapannya. Aroma parfum Praya tercium di jarak sedekat itu. Aroma yang kusuka.
“That’s not your fault,” kata Praya sesuai dengan perkiraanku. “Kamu memintanya untuk datang dengan maksud yang baik. Aku tau Ayesha pasti enggak akan menyalahkan kamu atas musibah kemarin.”
Aku menyandarkan dagu ke bahu Praya. Selama menjalani opname di rumah sakit berulang kali Praya memelukku. Hasilnya sekarang aku jadi selalu menunggu momen seperti ini. Saat di mana jarak tubuh kami begitu tipis. Ketika jantungku dan jantungnya hanya berjarak rusuk.
Aku tahu apa yang kulakukan adalah sebuah kejahatan, tetapi sosok Praya bukanlah sesuatu yang mampu kutolak.
Kini aku pun mendambakan seorang Praya.
[]