Aku duduk di atas ranjang terapi, mencoba menenangkan debar jantungku yang terasa lebih kencang daripada biasanya. Sudah dua minggu sejak operasi pemasangan pen di kakiku. Luka di kulit memang sudah mengering, tetapi bayangan rasa sakit itu masih menempel di pikiranku. Hari ini adalah sesi fisioterapi pertamaku, dan meskipun aku tahu ini langkah penting untuk pulih, rasa takut tidak bisa kuhindari.
“Ibu Asmira?” Fisioterapis perempuan itu menyentuh lembut bahuku. “Ibu mendengarkan saya?”
Aku agak terlonjak mendapatkan sentuhan itu. Sampai saat ini aku belum terbiasa menjadi Asmira palsu. Setiap kali ibu atau Praya memanggilku Asmira, seringkali aku tak langsung memberikan tanggapan. Sama halnya ketika fisioterapis ini mengajakku bicara dengan membawa identitas Asmira.
“Ah, ya.” Aku agak grogi menjawab. “Kita mulai sekarang?”
"Iya. sekarang coba Ibu gerakkan pergelangan kaki kanan ke atas dan ke bawah. Pelan saja." Fisioterapis itu memulai dengan menginstruksikan gerakan sederhana.
Aku mengerutkan kening sambil menatap kakiku seolah anggota tubuh yang satu itu merupakan benda asing. Dengan ragu aku mencoba menggerakkan pergelangan kaki sebagaimana saran fisoterapis. Sakitnya memang tidak seperti tusukan tajam sebagaimana ketika kecelakaan terjadi. Meskipun demikian aku tetap merasa tidak nyaman. Selama 14 hari kakiku yang terluka dibiarkan beristirahat dan hanya melakukan gerakan terbatas. Kini sebetas menggerakan pergelangan kaki saja terasa bagai sebuah beban kerja.
“Rasanya enggak nyaman,” kataku jujur berharap sesi ini segera selesai.
“Ibu Asmira lihatlah di sana. Tunangan Ibu dengan setia menunggu. Saya dengar kalian sebentar lagi akan menikah ‘kan? Jadikanlah orang itu sebagai motivasi. Tunangan Ibu saja semangat lho mengatar Ibu terapi. Masa Ibu sendiri mudah menyerah begini?”
Aku mengikuti arah tunjuk fisoterapis tersebut. Melalui kaca yang menempel di pintu ruang terapi, aku dapat melihat keberadaan Praya. Lelaki itu terlihat menunggu di kursi besi yang berada di luar. Padahal ini adalah jam kerja, namun Praya tetap bersikukuh untuk mengantarkanku menjalani sesi terapi. Dari jarak jauh aku dapat melihat Praya yang fokus menatap layar macbook. Karena tidak bisa bekerja langsung di kantor terpaksa Praya mengajukan sistem work from anywhere.
Munngkin karena merasa ada yang memperhatikannya, Praya seketika itu juga menoleh tepat ke arahku. Seulas senyum manis terbit di bibirnya. Rupanya inilah pemandangan yang dilihat oleh kembaranku selama 5 tahun terakhir.
Pesona Praya membuatku ikut mengulas senyum.
Dan ajaibnya hal itu seakan menjadi suntikan semangat bagiku. Benar. Sebentar lagi aku akan menikah menggantikan Asmira yang asli. Tamu yang hadir pasti kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke atas. Aku ingin tampil sempurna di hadapan mereka. Aku ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa Abhipraya Respatika memang pantas bersanding denganku.
Aku melanjutkan sesi terapi lagi.
"Bagus sekali. Kalau terasa sakit, beri tahu, tapi jangan berhenti dulu.”
Aku menggigit bibir dan menahan diri untuk tidak meringis. Sakit itu membuncah, tetapi ada sesuatu yang aneh, yakni aku merasa kuat. Seperti rasa sakit ini adalah bukti bahwa aku sedang berusaha—demi Praya. Demi seseorang yang keberadaan kudapatkan dengan cara yang tak terduga—bagai mimpi.
Setelah beberapa menit, aku menyadari bahwa gerakan kakiku mulai terasa lebih alami. Fisioterapis yang membantuku bahkan memberikan pujian atas usahaku dengan nada tulus yang membuatku sedikit lega.
"Sekarang kita lanjutkan ke latihan otot paha, ya," katanya lagi sambil memposisikan kakiku dengan hati-hati. "Coba tekan lutut ke bawah seolah ingin menekan ranjang. Hanya sedikit saja."
Aku melakukannya dan kali ini rasanya lebih seperti dorongan mental daripada fisik. Setiap gerakan sederhana yang kulakukan seperti menguji batas ketakutanku sendiri—bukan hanya soal rasa sakit, tetapi juga tentang apakah aku bisa kembali berjalan seperti biasa.
"Kita bertemu lagi di sesi berikutnya, ya.”
Akhirnya 15 menit kemudian sesi terapiku selesai. Ketika membuka pintu kulihat Praya sudah berdiri dengan sigap. Dirangkulnya lenganku dengan hati-hati. Mendapat perlakuan seperti itu membuatku tak mampu menahan senyum kecil yang terbit di bibir. Kini aku tahu bagaimana rasanya ketika ribuan kupu-kupu imajiner menggelitik perut.
“You did well, Sayang,” puji Praya saat itu. “Aku harus kasih apa ya sebagai hadiah?”
Sambil berjalan dengan dibantu oleh Praya dan juga tongkat kami meninggalkan poli fisioterapi.
“Aku boleh minta apa aja?”
“Apapun.”
Aku berpikir sejenak. Sebuah ingatan tentang memori kecelakaan merayap di dalam kepalaku. Bagaimana pun peristiwa tersebut dapat terjadi karena Asmira hendak mengambil gaun pengantinnya.
“Aku mau ambil gaun pengantin di Bogor. Kamu bersedia menemani?”
“Asmira.” Praya menghentikan langkahnya membuatku yang berdiri di sebelahnya ikut melakukan hal yang sama. Dengan ekspresi menyesal Praya menatapku. “Kamu yakin akan tetap melangsungkan pernikahan ini?”
Aku yang dibuat heran tentu saja balas bertanya. “Memangnya kenapa?”
“Ayesha koma dan kamu terluka. Aku sempat berpikir mungkin pernikahan kita harus diundur.”
Aku melotot karena merasa tidak terima mendengar ide Praya. Lelaki ini memutuskan secara sepihak. Mau bagaimana pun kini peran Asmira berada di dalam genggamanku.
“Harus sampai kapan kita mengundurnya?”
“Mengingat apa yang terjadi, menurutku mungkin sampai Ayesha sadar.”
Aku menggeleng dengan tegas. Kalau begitu aku akan kehilangan Praya bahkan sebelum aku sempat untuk memilikinya. Aku tau Praya begitu mencintai kembaranku. Bukan hal yang mustahil kalau Praya sampai menerima Asmira dalam kondisi yang sudah tak cantik lagi. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatku marah.
“Enggak bisa. Dokter sendiri bilang kalau enggak ada waktu pasti kapan Ayesha akan benar-benar sadar. Dan, aku enggak mau menunggu sesuatu yang enggak pasti.” Aku berusaha menyusun opini terbaik yang tak akan membuat diriku terkesan egois. “Lagi pula, kita masih bisa menjaga Ayesha setelah menikah. Kita juga masih bisa menunggu Ayesha sampai sadar setelah kita menikah. Toh, aku juga yakin Ayesha pasti mengharapkan hal yang sama seandainya dia dapat mendengar percakapan kita.”
“Asmira—”
“Aku enggak mau, Praya,” kataku dengan tekad yang bulat. Aku harus memengaruhi Praya. Harus kubuat ia merasa sulit untuk menolak. “Aku sangat mencintai kamu. Selama 5 tahun kita bersama, aku selalu bisa bermimpi untuk menikahi kamu. Lalu, ketika kesempatan itu telah tiba kamu justru berniat untuk mundur. Apa mungkin karena kamu malu akan memiliki istri yang tak sempurna secara fisik?”
“Bukan begitu maksudku, Asmira.” Praya dengan panik menggenggam kedua tanganku. Dipandanginya wajahku lekat-lekat. “Aku juga mencintai kamu. Sangat. Aku hanya mencoba untuk menghormati keadaan.
“Kamu pikir aku enggak lebih peduli pada keluargaku dibandingkan kamu?” Tanpa kusadari volume suaraku naik. Melalui ekor mata kulihat sejumlah orang menoleh dengan penasaran, namun aku tak lagi peduli. “Aku juga sedih karena Ayesha koma. Tapi, di sini aku punya hak untuk melanjutkan hidup. Bukankah pernikahan ini seharusnya menjadi awal yang bahagia? Kenapa kita harus menundanya hanya karena Ayesha?”
Praya terdiam. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Aku belum mengenalnya terlalu lama jadi, aku belum bisa membaca seluruh ekspresi dan pola pikirnya. Peganganku saat ini hanya satu, jika Praya memang mencintai Asmira maka, dia akan mengalah.
Aku bersorak di dalam hati ketika akhirnya kulihat Praya mengangguk. “Maafkan aku. Aku salah karena sudah membuat keputusan tanpa ikut melibatkan pendapat kamu.”
Sekali lagi aku menang. Mudah sekali mengalahkan Praya di dalam permainan psikologis semacam ini.
***
“Kamu mau menjenguk Ayesha dulu?” tanya Praya ketika kami sudah mendekati bagian gedung tempat di mana para pasien yang diopname berada.
Kebetulan RS tempatku melakukan terapi masih sama dengan RS tempat Asmira dirawat.
Seminggu lalu Asmira yang asli sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa dan bukannya kamar ICU lagi. Selama itu pula ibu rutin datang menjenguk setiap hari. Walaupun ide untuk menukar identitas muncul dari kepala ibu, tetapi aku tahu di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ibu merasa berduka atas kemalangan yang menimpa putrinya.
Aku mempertimbangkan ajakan tersebut. Sepertinya akan sangat aneh kalau aku menolak, jadi kuanggukan kepala.
“Ayo.”
Berkat Praya, saudara kembarku mendapatkan kamar VIP. Di dalam kamar itu terdapat kasur kosong yang bisa digunakan oleh keluarga yang ikut menemani. Kulihat ibu duduk di samping brankar. Pandangannya tampak kosong memandang wajah Asmira yang lelap.
“Ibu.”
Ibu yang melamun baru menoleh ketika Praya menyapanya duluan. Bahkan suara pintu yang dibuka serta langkah kaki yang menapak lantai marmer tak berhasil membuatnya menyadari kehadiran kami.
“Lho, Praya dan A … Asmira. Kalian mau menjenguk?”
Praya tersenyum sopan. “Iya. Kebetulan juga setelah ini kami mau pergi ke Bogor untuk mengambil gaun pengantin Asmira di sana. Ibu enggak keberatan?”
Ibu sempat melirikku sekilas sebelum mengangguk. “Tentu boleh. Hati-hati ya di jalan.”
Saat itu aku melihat keberadaan sebuket mawar merah yang tampak masih segar. Mustahil ibu yang membawanya.
“Bunga ini dari siapa?” tanyaku heran.
Seingatku sosok ‘Ayesha’ tak memiliki seorang pun kenalan di Jakarta, selain keluarga Respatika. Itu pun hubungan kami tidak akrab.
“Tadi Biantara kemari sebentar dan membawakan ini.” Ibu menyebut anak pertama Hattala Respatika. “Kalau kalian butuh waktu untuk pamitan silakan, Ibu tunggu di luar ya.”
Sepeninggal ibu hanya ada keheningan di ruang rawat Asmira yang asli. Dengan bantuan endotracheal tube—alat yang digunakan untuk memasukkan oksigen melalui mulut ke tenggorokan—kembaranku terlihat tidak berdaya. Luka memanjang di wajahnya kini tak lagi ditutupi oleh perban sehingga siapapun dapat melihat bagaimana kulitnya yang terbuka dijahit.
Tak pernah kubayangkan sebelumnya akan melihat Asmira dalam kondisi menyedihkan seperti ini.
“Praya—”
Kata-kataku tertahan di tenggorokan ketika melihat pandangan mata Praya yang tak putus menatap saudara kembarku. Entah hanya perasaanku saja atau memang demikian adanya, namun kulihat duka menggelayut di wajahnya.
Kusentuh ujung jemarinya. Kontak fisik tersebut berhasil membuat perhatiannya teralihkan kepadaku.
“Kenapa?” tanyaku dengan pelan seakan-akan Asmira yang asli dapat menguping percakapan kami.
“Pada diri Ayesha bisa kulihat dirimu, Asmira,” jawab Praya. Sepasang matanya menatapku sendu. “Setiap kali akan tidur, aku enggak bisa menyingkirkan bayangan kalau yang berbaring di sini adalah kamu.”
Aku menelan ludahku dengan susah payah. Apa ini? Jangan-jangan Praya mulai menyadari ada yang tidak beres?
Karena tak mau semakin termakan oleh pikiran buruk, aku bergegas menggenggam tangan Praya.
“Sebaiknya kita segera pergi ke Bogor. Aku enggak mau pulang terlalu sore.”
“Sebentar, Sayang.” Praya sempat membetulkan letak selimut saudara kembarku sebelum berkata, “Kami pamit dulu ya. Semoga indah mimpimu di sana. Sampai jumpa lagi.”
Hatiku terasa sesak mendengar ucapan Praya. Jika saja Praya mengetahui kebenarannya kira-kira apa yang akan dia lakukan?
Apakah Praya akan membenciku?
***
Cermin besar di ruangan itu memantulkan sosokku yang masih mencoba terbiasa dengan gaun putih menjuntai hingga lantai. Aku menarik napas dalam-dalam sedangkan jari-jemariku bermain di kain halus yang terasa dingin dan ringan di kulitku. Tepat di sampingku, Praya duduk dengan tangan bersedekap matanya tak pernah lepas menatapku.
“Jadi, ini gaun yang akan digunakan untuk resepsi?” tanyaku pada karyawan yang tadi memabantuku memakai gaun.
Gaun yang dipilih oleh saudara kembarku merupakan gaun warna putih dengan gaya off shoulder yang klasik.
“Betul. Kalau kebaya untuk akad nikah sudah kami bungkus. Ibu mau mencobanya sekali lagi?”
Aku menggeleng dengan berat hati. “Enggak usah, deh.” Setelah itu aku berbalik menatap Praya dengan senyum bangga. “Bagaimana menurut kamu?”
“You’re heavenly, Sayang.” Praya memberikan pujian yang membuat bunga di dalam hatiku mekar.
“Pujian kamu bukan karena terpaksa ‘kan?”
Praya terkekeh pelan. Ketegangan yang sempat kami rasakan di RS kini mencair. Praya lalu bangkit dari kursinya. Langkahnya mendekat perlahan. Ketika akhirnya Praya berdiri di sampingku, dia ikut memandangi pantulan kami di cermin. Tangannya menyentuh ringan bahuku, kehangatan jemarinya menembus lapisan kain.
“Asmira, aku serius. Kamu terlihat sempurna,” katanya, dengan nada yang begitu tulus hingga membuat da-daku menghangat.
Asmira yang asli benar. Kalau pun kami bertukar pakaian, maka Praya tak akan menyadarinya. Kami bagai pinang yang dibelah dua. Untuk pertama kalinya aku bersyukur karena memiliki fisik yang identik dengan Asmira.
Karena hanya dengan begini aku dapat merasakan cinta. Cinta yang kucuri dari Asmira membawaku pada mimpi yang sempat aku lupakan. Mimpi tentang malam seribu bintang.
Kini aku memiliki bintangku sendiri. Bintang paling terang daripada seribu bintang lainnya. Dan, bintang itu adalah Praya.
[]