4 : Akad yang Dicuri

1103 Kata
Aku duduk di sisi Praya dengan hati yang berdebar lebih kencang daripada saat aku pertama kali memutuskan untuk menjalani kebohongan ini. Untuk sesaat aku mengedarkan pandangan ke area ballroom tempat akad nikah akan dibacakan. Di hadapanku seorang penghulu duduk dengan tegap, sedangkan di sisi kirinya paman yang menjadi wali nikahku berada. Tak jauh dari tempatku dan Praya tampak ibu di dalam balutan kebaya berwarna senada dengan yang dikenakan oleh calon ibu mertuaku. Hari ini aku akan menikah dengan identitas Asmira yang kucuri. Tanganku gemetar, meski aku mencoba menyembunyikannya dengan meremas ujung kebaya putih yang kugunakan. Praya sendiri duduk tegap di sebelahku. Berbeda denganku yang sepertinya luar biasa gugup, Praya justru terlihat tenang. Dia bahkan sempat melirik sekilas seulas senyum terbit di bibirnya. "Are you okay?" bisiknya. Suaranya rendah tapi mampu mengusir sedikit kabut di kepalaku. Aku mengangguk pelan, memaksa diriku untuk ikut tersenyum. "I’m okay. Hanya gugup.” “Aku juga gugup.” Praya meraih tanganku. Dapat kurasakan jari Praya yang membeku. “Karena takut gagal mengucap akad?” Praya mendekatkan mulutnya ke telingaku “Karena kamu sangat cantik hari ini.” Penghulu mulai membacakan kalimat ijab dan ruangan yang semula riuh dengan suara tamu undangan perlahan-lahan hening. Suara detak jantungku semakin jelas terdengar, bergemuruh di dalam da-da. Praya menarik napas dalam lalu dengan suara yang jernih dan mantap dia mengucap ijab, “Saya terima nikah dan kawinnya Asmira Ardhani binti Budianto Jaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Namaku—atau lebih tepatnya nama saudara kembarku—terucap dari bibirnya dengan begitu meyakinkan, seolah nama itu telah tertanam dalam hatinya selama ini. Aku menatap wajahnya yang begitu percaya diri, melihat senyum tipisnya saat penghulu mengulang kata-katanya untuk memastikan semuanya sah. Praya benar-benar yakin bahwa aku adalah Asmira, wanita yang dia kenal, yang dia cintai, dan yang dia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya. “Sekarang kamu adalah istriku, Asmira,” kata Praya ketika MC mengarahkannya untuk mencium keningku. “Kita bisa pulang ke rumah yang sama sekarang.” Ini bukan kecupan pertama yang kuterima dari Praya, akan tetapi aku merasa ada yang berbeda. Kecupan Praya di keningku agak lama. Waktu yang berputar di sekitar kami anehnya seperti berhenti selama beberapa detik kala itu. Tepat ketika aku mencium punggung tangan Praya pada saat itu pula aku tahu bahwa aku menginginkan laki-laki ini. Aku menyadari bahwa skenario untuk mencuri akad dari Asmira bukan lagi didasarkan atas perintah dari ibu, melainkan dari keinginanku untuk memiliki Praya. Untuk mencintai Praya dan dicintai balik oleh Praya. “Asmira, in your presence, I find my forever." Hatiku seperti terbelah dua. Di satu sisi aku ingin membeku di momen ini demi bisa merasakan kehangatan cinta yang diberikan Praya untuk waktu yang lebih lama. Namun, di sisi lain aku memahami kenyataan bahwa rahasiaku dan ibu bisa terbongkar kapan pun. “And in your arms, I find my home." Aku hanya bisa berharap sambil menguatkan senyumku semoga Asmira yang akadnya kucuri tidak segera bangun. Sekitar 2 jam setelah akad aku berganti pakaian dari kebaya putih menjadi wedding dress. Acara selanjutnya adalah resepsi. Meskipun aku belum bisa berjalan secara normal, tetapi hal tersebut sama sekali tidak mengurangi rasa bahagiaku. "Posenya, Asmira," Praya berbisik lembut di telingaku sambil mengarahkan pandangan kami ke kamera ketika sesi foto berlangsung. Sementara itu, tangannya merangkul pinggangku, membawanya mendekat ke arah tubuh Praya. Kamera terus mengambil gambar. Lambat laun aku mulai terbiasa dengan peran Asmira. Tanpa segan aku memeluk Praya, mencium pipinya ketika fotografer menyarankan untuk berganti gaya, dan menatapnya selama yang aku bisa. “Kamu cape?” tanya Praya ketika kami akhirnya bisa duduk di pelaminan setelah menyalami tamu yang datang. Siapa sangka di acara pernikahan ini keluarga Respatika mengundang banyak orang. Aku tidak terlalu mengenal teman-teman kerja Asmira, tetapi aku tahu sejumlah orang dari perusahaannya datang karena mereka menyinggung beberapa hal tentang ‘resign’, ‘sekarang jadi istri konglomerat’, dan ‘sudah enggak bisa makan bersama di kantin lagi.’ Omong-omong sejak keluar dari rumah sakit Praya memang menyarankanku untuk resign dan fokus pada proses pemulihan. Hal yang sangat aku syukuri karena aku bahkan tidak mengerti apa tugas Asmira di kantornya. “Sedikit cape, tapi seru,” jawabku sejujur mungkin. “Banyak orang yang datang. Kebanyakan, sih aku enggak kenal. Tapi, karena mereka aku merasa kalau pernikahan ini memang nyata. Gaun yang kukenakan bukanlah mimpi dan kamu … benar-benar menjadi suamiku.” Praya terkekeh. Dia juga pasti ikut merasa bahagia. "Asmira, pernikahan ini memang nyata dan kamu juga nyata. Kamu lebih dari sekadar gaun dan pesta. Lebih dari semua yang ada di sini. Kamu adalah bagian dari hidupku sekarang dan aku ingin kita menjalani ini bersama. Semua orang yang datang hanya jadi saksi dari janji yang kita buat.” “Aku akan selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu.” Setelah beberapa kali sesi foto kami akhirnya diarahkan untuk berdiri di depan meja besar yang dihiasi dengan kue bertingkat yang indah. Praya mengambil pisau tangannya menggenggam erat tanganku. “Untuk kebahagiaan kita di masa depan, Asmira … istriku.” Praya mengarahkan pisau yang berada di dalam genggaman tangan kami untuk menciptakan sedikit potongan kecil pada kue pengantin tersebut. Praya menyuapiku dan aku melakukan hal yang sama. “Kiss! Kiss! Kiss!” Pada acara resepsi kebanyakan tamu yang datang adalah rekan kerja Praya sehingga mereka dengan iseng mengatakan hal demikian sewaktu Praya mengusap sisa krim di tepi bibirku. Aku dan Praya saling berpandangan untuk sesaat seolah-olah bertanya melalui tatapan mata, haruskah kami mengikuti keinginan tersebut. Ketika aku memberikan anggukan tatapan Praya melembut. Saat itu yang kuingat adalah tangan Praya yang meraih rahangku secara hati-hati dan bagaimana bibirnya mencium bibirku. Duniaku seakan tersedot hanya pada eksistensi Praya dan sentuhannya di atas kulitku. Momentum lain yang paling berkesan dari acara pernikahan kami adalah sesi melempar bunga. Aku berdiri di tengah kerumunan dengan tangan memegang buket bunga yang cantik, sedangkan semua mata tertuju padaku. Praya ada di sampingku senyumannya menguatkan rasa percaya diriku. Di belakangku tamu-tamu tersenyum berusaha mencari posisi terbaik untuk menangkap buket yang akan aku lemparkan. “Ayo, Asmira! Lempar yang jauh!” Salah seorang dari kerumunan berseru. Aku sedikit terkejut, namun juga tersenyum mendengar sorakan ceria itu. Rasanya ini seperti pesta milikku sendiri. Hari itu aku melupakan Asmira. Hari itu aku menganggap bahwa dirikulah Asmira yang sesungguhnya. Dengan satu gerakan aku mengangkat buket itu tinggi-tingg lalu dalam hitungan ketiga aku melemparkan buket itu ke udara. Pada detik berikutnya buket bunga jatuh ke tangan seorang wanita yang berebut dengan teman-temannya. Semua orang bersorak termasuk aku dan suamiku begitu melihat kehebohan kecil yang tercipta. Aku menatap Praya. “Kamu bahagia?” Praya di dalam balutan tuksedo warna hitam mengangguk dengan begitu yakin. “Aku bahagia.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN