5 : Paris dan Kebohongan yang Disembunyikan

1816 Kata
Praya menawarkan pegangan ketika aku hendak melompat turun dari perahu wisata bateaux mouches. Tangannya terasa hangat sewaktu kami berpegangan mengambil langkah pertama menelusuri Île Saint-Louis, sebuah pulau kecil yang terletak di distrik Arrondissement yang tak jauh dari jantung kota Paris. Praya tidak menyia-nyiakan waktu cuti yang diberikan oleh perusahaan. Dengan segera lelaki ini memboyongku untuk bulan madu ke tempat yang dikenal dengan kota cahaya ini. Bangunan-bangunan tua berjajar di kanan dan kiri kami dengan fasad bergaya klasik yang menceritakan keanggunan kota Paris.Jendela-jendelanya yang tinggi dan ramping seakan menyimpan rahasia dari ribuan musim yang telah berlalu. Ini adalah tempat di mana aku bahkan tidak berani untuk bermimpi. “Aku suka kota ini,” kataku membuka percakapan di antara suara langkah kaki kami. “Indah dan romantis. Sepertinya setiap sudut di kota ini bisa diromantisasi olehku.” Praya mengeratkan pegangannya padaku sewaktu segerombolan turis dari arah yang berlawanan berjalan melewati kami. Sikapnya menunjukkan bahwa aku bisa saja hilang ditelan kerumunan. “Aku senang karena kamu menyukai pilihanku. Sebetulnya aku agak bingung sewaktu memilih tempat untuk honeymoon.” “Kenapa?” “Karena aku ingin memberikan kamu pengalaman terbaik. Waktu cuti pernikahanku enggak banyak. Sedangkan, aku ingin mengajak kamu ke tempat yang bisa membentuk kenangan paling indah untuk kita berdua.” “That’s so sweet.” Aku menceletuk. Gigiku sekarang pasti sudah kering karena sedari tadi tersenyum. Berada di sisi Praya menghabiskan waktu di negara yang asing benar-benar menjadi pengalaman yang luar biasa. “Aku, sih mau ke mana pun asal sama kamu.” Aroma roti segar dari boulangerie lokal menyelinap ke udara, menggelitik perutku. Praya, dengan gaya santainya, menunjuk ke sebuah kafe kecil di sudut jalan. “Kalau begitu bagaimana kalau kita menjadikan tempat itu sebagai first stop?” “Let’s go!” Praya mengajakku untuk memasuki kedai es krim kedai es krim Berthillon. Aroma manis karamel, vanila, dan cokelat menguar ketika pintu dibuka dari luar. Selama Praya memesan aku menunggu di balik kursi. Suasana di dalam sini terasa hangat dan menyenangkan. Design kedai yang vintage seakan membawaku pada satu waktu yang sama sekali asing. “Here you go.” Praya kembali sambil meletakkan dua mangkuk es krim untuk kami. “Vanila untukku dan pistachio untuk kamu.” Aku menelan ludah gugup ketika mendengar rasa yang dipilihkan oleh Praya untukku. Pistachio. Aku alergi pada jenis kacang tersebut. Sebuah ironi karena aku dan Asmira memiliki banyak kemiripan dari segi fisik, tetapi ada banyak perbedaan dari cara kami menjalani hidup. “Apa yang kamu pikirkan?” tanya Praya tiba-tiba, matanya memandangku lekat. Sebisa mungkin aku menampilkan ekspresi biasa. “Enggak ada. Aku penasaran aja kenapa tempat ini bisa rame banget padahal hanya menjual es krim.” “Kalau di negara kita mungkin sudah dikira pakai penglaris.” Celetukan asal Praya membuat keteganganku sedikit mencair. Tanganku bergerak mengusap sudut bibirnya yang sedikit kotor oleh lelehan es krim. “Kalau penglaris adalah manusia maka, penglarisnya pasti kamu.” Kali ini Praya terkekeh geli. Sambil menatapku dia menimpali, “Kenapa? Apa karena auraku seperti makhluk astral?” “Bukan, tapi kamu itu ….” Aku memandangi Praya untuk sesaat. Sepasang matanya, lekuk bibirnya, hidungnya yang tinggi. Semua yang ada pada Praya begitu lekat dengan kesempurnaan. “You are perfect. Semua yang ada pada kamu indah, persis seperti kota ini.” “Kamu mungkin lupa di beberapa sudut di kota ini bau pesing.” Giliran aku yang tertawa karena Praya baru saja mengacaukan sesi romantis yang aku ciptakan. “Well, kecuali yang satu itu.” Praya mengangguk. Dia sempat mengedarkan pandangan seolah ingin merekam momen ini di dalam pikirannya. “Aku suka jalan-jalan seperti ini bersamamu. Enggak perlu terburu-buru, enggak ada agenda. Hanya kita saja. Semoga pengalaman kali ini bisa memenuhi ekspetasi kamu tentang Kota Paris. Sejak dulu kamu ingin sekali datang ke sini ‘kan?” Aku kembali dihantam oleh realita. Ada banyak detail tentang Asmira yang belum aku ketahui. Mau seberapa pandai pun aku berpura-pura menjadi dirinya pasti akan ada hal-hal kecil yang luput dari perhatianku terutama tentang keinginannya untuk mendatangi negara ini. Aku mengangguk canggung. “I … iya. Siapa yang enggak mau datang ke sini?” “Kalau begitu segera habiskan es krim kamu. Setelah itu kita pergi melanjutkan perjalanan.” Aku bisa mati jika menelan habis semangkuk es krim pistachio. Aku mungkin selamat dari kecelakaan di tol Jagorawi, tetapi aku bisa mati kapan saja hanya karena menelan olahan kacang ini. Dengan takut aku menyuap es krim sekali. Sengaja aku tidak menelannya, melainkan meletakkannya di bawah lidah. Pada detik itu kuharap semesta membantu. Di detik yang sama Praya mendapatkan telepon. Kerutan di keningnya muncul begitu membaca nama kontak yang memanggil. “Ini telepon dari kantor. Sebentar ya?” Aku buru-buru mengangguk. Aku tak berani bicara karena takut es krim tertelan. Begitu Praya berjalan keluar aku segera meraih tisu yang disimpan di dalam tas dan meludah. Rasa gatal yang tak nyaman menguasai lidahku yang hampir kebas. Aku tak mau mati konyol di sini, jadi aku segera menyusul Praya keluar. “Lho, sudah habis es krimnya?” tanya Praya begitu menutup panggilan dan baru menyadari bahwa aku menunggu di belakang punggunya. Aku berbohong. “Sudah. Yuk, kita mau ke mana lagi?” Semoga siang itu Praya tidak menyadari ruam yang mulai muncul di sekitar leherku. *** “Indah sekali.” Aku bergumam mengagumi betapa indahnya kota Paris pada malam hari. Kami melanjutkan perjalanan sampai matahari terbenam Di atas kapal cruise yang membawaku bersama Praya, kami berdiri di tepian dek dalam jarak yang aman. Sungai Seine sepanjang 776 KM di bawah kami menampilkan riak berupa cahaya dari lampu-lampu kota yang memantul di permukaan air. Dari jarak jauh aku bisa melihat Menara Eiffel yang berkilau dengan cahaya gemerlap, menerangi langit dengan kilatan-kilatan seperti bintang yang terjuntai dari angkasa. “Akhirnya aku bisa membawa kamu ke sini sebagai istriku,” kata Praya memecahkan lamunanku. “Masih sulit kupercaya kalau mimpi-mimpiku yang dulunya seperti mustahil kini satu persatu mulai terwujud.” Sorot lampu yang lembut malam itu menyorot wajah Praya. Kulihat anak bintang di sepasang iris Praya yang gelap. “Apa saja mimpi-mimpimu yang lain, Praya?” Praya menatap jauh ke arah The Pont Alexandre III—sebuah jembatan lengkung yang membentang di atas sungai. “Sebelum mengenal kamu, sejujurnya aku enggak punya mimpi apapun, Asmira.” Praya menoleh. Sepasang matanya bagai magis yang menarikku jauh ke dalam pesona miliknya. “Dulu aku hanya karyawan baru yang diangkat karena kebetulan perusahaan itu adalah milik kakekku. Di antara cucu-cucu kakek yang lain, akulah yang paling lambat. Terutama jika dibandingkan dengan Mas Bian. Sepertinya saat itu hanya kamu yang percaya bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri.” “Oh ya?” Aku sepenuhnya penasaran. Cerita tentang awal pertemuan Praya dengan saudara kembarku sama sekali belum pernah kudengar. “Kenapa kamu seperti kaget begitu?” Praya menatapku geli. Angin malam itu terasa sejuk menyentuh kulit kami. Suasana di sekitar kami begitu tenang di mana hanya terdengar gemericik air yang mengalir di bawah kapal dan suara lembut percakapan pasangan lain yang menikmati keindahan malam. “Padahal dulu kamu adalah sumber kekuatanku.” “Aku … hanya ingin tau dari perspektif kamu.” “Tapi, kalau begitu artinya kamu akan mendengar banyak pujian dariku.” Aku tertawa. Asmira pasti juga akan bereaksi sama. “Oh, ayo, dong. Aku penasaran.” “Okay.” Praya mengubah posisi menjadi memelukku dari belakang. Kedua tangannya digunakan untuk berpegangan pada besi pembatas. “Dulu di antara seluruh anak magang sepertinya hanya kamu yang belum tau kalau aku adalah salah satu penerus Respatika Group. Meskipun kamu anak magang, tetapi kemampuan kamu setara denganku. Karena itu pula, kamu mengajariku banyak hal. Enggak jarang kamu juga mengomeliku setiap kali aku salah mengambil langkah.” “Kedengarannya dulu aku sok tau banget,” komentarku. “Memang, tapi kamu punya kapasitas untuk jadi sok tau. Karena itu pula kamu berhasil menarikku ke dalam duniamu yang berbeda dari duniaku.” “Apa hal yang enggak bisa kamu lupakan di masa itu?” “Saat kamu baru gajian dan mengajakku naik TransJakarta lalu kita turun di monas. Kita melihat pemandangan monas pada malam hari. Saat itu juga kamu menyatakan keinginan untuk melihat Menara Effiel yang katanya memiliki tinggi hampir 3 kali lipat dari monas. Untuk pertama kalinya malam itu aku menyadari bahwa perasaanku kepadamu adalah cinta. Padahal aku enggak punya apapun. Uangku belum sebanyak sekarang. Jabatanku juga masih di level entry, tapi ketika kamu duduk di sampingku … aku merasa sudah memiliki segala hal yang ada di dunia ini.” Praya mengakhiri ceritanya dengan menumpuk tangan kanannya di atas tangan kananku. Ibu jarinya bergerak mengusap cincin bermatakan berlian yang melingkar di jari manisku. Di balik cincin yang kukenakan tertulis nama Praya, sedangkan cincin yang melingkar di jari manis Praya tertulis nama Asmira. Aku merasakan jantungku berdegup lebih cepat. Kata-katanya, meskipun tulus terdengar seperti pisau yang mengiris hati. Aku ingin bisa menjadi Asmira—wanita yang dia inginkan, yang dia cintai. Tapi aku bukan dia. Aku hanya Ayesha, seseorang yang terjebak di dalam kebohongan. “Apa yang itu yang membuat kamu mencintaiku?” “Kamu membuatku bermimpi. Itu salah satu alasannya. Masih ada alasan lain.” Aku membalik tubuh. Ketika sedang berdua dengan Praya, aku lebih suka berada pada posisi berhadapan begini. Hanya ketika seperti ini aku bisa memandangi wajahnya lama-lama. “Apa lagi?” “Kebaikan hatimu. Padahal kamu juga sama-sama sedang berada di dalam fase yang sulit. Tetapi, kamu selalu memandang kehidupan dengan cara yang optimis. Kamu enggak menganggap tanggung jawab untuk menafkahi keluargamu sebagai beban. Alih-alih begitu, kamu malah melihatnya sebagai kesempatan untuk mengekspresikan rasa cinta. Aku juga ingin dicintai seperti itu oleh kamu, Asmira. Aku ingin dicintai ketika kamu kesulitan, ketika kamu merasa berduka, dan ketika dunia seperti enggak punya harapan lagi. Kamu membuatku ingin dicintai dengan cara yang paling berani.” “Aku … enggak menyangka kalau aku sekeren itu di mata kamu,” jawabku sejujur mungkin. Rupanya itulah alasan mengapa Asmira bisa mencuri hati salah satu pewaris Respatika Group. Mendengar cerita Praya membuatku berasumsi bahwa Asmira hadir di saat Praya kehilangan harapan di dalam hidupnya. Praya menangkup kedua pipiku. “Karenanya saat mendengar berita tentang kecelakaan yang menimpa kamu, aku sempat takut. Seandainya kamu meninggalkanku, lantas apa artinya hidupku? Kamu adalah salah satu orang yang membentuk diriku, Asmira. Semua mimpiku enggak akan ada artinya tanpa kamu.” Aku memaksakan diri untuk tetap tersenyum, meskipun di dalam hati aku tahu aku bukanlah Asmira yang Praya pikirkan. Aku bukan perempuan yang seharusnya berada di sisinya. Karena tak ingin tenggelam lebih jauh ke dalam ingatan akan kebohongan yang kuciptakan, aku menarik wajah Praya mendekat dan berjinjit begitu jarak kami semakin tipis. Aku belum pernah berciuman, tetapi dari Praya aku belajar bagaimana cara melakukannya. Malam itu di bawah langit Paris aku mencumbu Praya. Aku sempat khawatir Praya tidak akan bisa menikmati kontak fisik di antara kami karena gerakanku yang berantakan dan tergesa-gesa. Akan tetapi, dugaanku meleset begitu Praya menarikku semakin mendekat. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN