Sekitar pukul 3 sore ibu datang berkunjung ke rumah yang kini kutempati bersama Praya. Karena harus mengurus Asmira yang masih dalam kondisi koma ibu jadi belum bisa kembali ke Surabaya. Sehubung aku juga baru pulang dari Prancis, ibu sengaja mampir sebelum kembali ke rumah sakit untuk menjaga saudara kembarku.
“Tunggu Praya pulang aja, Bu. Sekalian nanti kita makan malam bersama.” Sambil membuka koper berisi buah tangan yang Praya beli, aku menawarkan ibu untuk menunggu sedikit lebih lama. “Dia pasti juga ingin menyapa Ibu.”
Siang itu ibu duduk di tepian ranjang. Kami mengobrol di dalam kamar yang digunakan olehku dan Praya. Sejak pindah ke rumah ini aku dan Praya selalu tidur atas ranjang yang sama—suatu kebiasaan yang mulai aku sukai.
“Kamu dan Praya sudah berhubungan badan?” tanya Ibu tiba-tiba mengubah topik percakapan.
Gerakan tanganku yang sedang mengeluarkan syal sutra untuk dihadiahi kepada ibu terhenti begitu saja. “Sepertinya pertanyaan itu enggak wajib untuk aku jawab.”
“Memangnya kenapa? Ibu bukan orang lain di dalam rumah tangga kalian. Jadi, bagaimana?”
Aku bangkit dari posisi duduk di atas karpet. Pertanyaan yang dilemparkan oleh ibu menimbulkan rasa tidak nyaman di dalam hatiku. Walaupun demikian, aku tetap tidak bisa menghindar. Jadilah sebuah jawaban pendek meluncur dari bibirku, “Belum.”
“Alasan apa yang kamu gunakan kepada Praya?” Ibu menyudutkanku dengan pertanyaan kedua.
“Haid,” kataku pasrah. “Memangnya apalagi?”
“Kamu dan Praya menghabiskan bulan madu di Prancis selama seminggu. Haid ada batasnya. Kalau kamu terus menolak Praya bisa-bisa dia akan curiga.”
Aku menyugar rambutku dengan putus asa. “Aku tau. Tapi, aku enggak merasa bisa sejauh itu.”
“Apa yang membuat kamu ragu? Sekarang Praya adalah suamimu. Hanya kita yang mengetahui kebenarannya. Kamu dan Praya sama-sama manusia normal.” Ibu bangkit. Pandangannya lekat menatapku seakan aku adalah anak nakal yang pantas untuk dihukum. “Kalau kamu ingin pernikahan ini berjalan panjang maka, mainkan peran kamu dengan benar.”
Kalimat ibu menghantuiku bahkan ketika perempuan itu sudah pulang. Suara mobil Praya yang memasuki halaman memecahkan lamunanku. Di rumah dua tingkat ini aku memiliki seorang ART, tetapi sebisa mungkin aku melayani semua kebutuhan Praya dengan tanganku sendiri.
Dengan cepat aku bergegas menyambutnya di ambang pintu. Langit sudah hampir gelap ketika tubuh tinggi Praya berdiri di hadapanku. Lengan kemejanya sudah digulung sampai ke siku dan dia telah melepas dasi.
“Welcome home,” kataku menyambut kepulangannya.
Praya menarikku ke dalam pelukannya. Sejak pulang dari Paris, Praya memang menjadi lebih lengket kepadaku. Sedikit-sedikit dia akan memeluk atau mengecupku. Sama seperti sore ini. Dapat kurasakan Praya menenggelamkan wajahnya ke ceruk leherku. Bibirnya yang lembap terasa menekan lembut kulit leherku tepat di mana nadiku berdetak samar. Sementara itu, satu tangannya menelusup masuk ke balik baju yang kugunakan. Kulit Praya yang terasa sedikit dingin menyentuh kulit punggungku yang polos.
“I miss you.” Praya berbisik.
Embusan napas hangat terasa menyapu kulit leherku ketika Praya membuka mulut. Sebisa mungkin aku mengendalikan degup jantungku sendiri. Pada posisi begini satu-satunya afeksi yang bisa kuberikan hanyalah mengusap bagian belakang kepalanya. Rambut Praya terasa kala itu terasa begitu halus menyentuh telapak tanganku.
Aku jadi membayangkan bagaimana rasanya kalau Praya membaringkan kepalanya di atas da-daku.
“Cape ya?”
Praya mengangguk. “Waktu seperti berjalan dengan lambat setiap kali aku mengingat wajah kamu. Ingin rasanya aku segera pulang dan melihat kamu.”
Praya mengakhiri kalimatnya dengan mengusap tulang belikatku menggunakan ibu jarinya. Gerakan kecil itu berhasil membuat tubuhku seakan meleleh. Kedua lututku melemas, tetapi Praya menahan pinggangku dengan tangannya yang bebas. Adegan ini mengingatkanku ketika kamu menghabiskan malam di Paris dengan kecupan yang panjang dan memabukan.
Aku bahkan masih dapat mengingat rasa plum, raspberry, dan sedikit aroma rempah-rempah yang ditinggalkan oleh merlot—sejenis wine—di bibir dan lidah Praya kala itu.
Aku menggigit bibir bawahku ketika merasa desir aneh yang timbul setiap kali intensitas sentuhan Praya berubah menjadi lebih intim. Aku tahu dia menginginkanku sebanyak aku yang menginginkan Praya.
“Praya?” Aku berusaha memanggilnya dan mendorong jauh-jauh hasratku.
“Hm?”
“Kamu harus makan dan mandi dulu.”
“Sebentar lagi, please?”
Tidak bisa. Hanya butuh sekali sentuhan dari Praya untuk membuatku kehilangan akal sehat. Setidaknya untuk saat ini aku harus menjadi pihak yang mengambil kontrol. Secara perlahan kudorong bahu Praya. Saat itu kulihat pipi Praya sedikit merona.
“Makan dulu oke?” Kuharap kata-kataku mampu menghipnotis Praya untuk melupakan keinginannya sejenak.
Walaupun terlihat kecewa, tetapi Praya tidak marah. Lelaki itu mengangguk dan sempat mengusap puncak kepalaku sebelum berjalan memasuki rumah kami—rumah yang seharusnya tak pernah menjadi milikku.
***
Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Tubuhku terasa panas. Tak peduli selama apapun aku merendam diri di dalam bath tub, rasanya ada sesuatu yang membakar di dalam hati, perut, dan paru-paruku. Rasa panasnya membuatku gelisah.
“Asmira, are you okay?” Praya mengetuk pintu. Dapat kudengar nada khawatir pada vokalnya yang berat.
Wajar bagi Praya untuk merasa cemas. Setelah makan malam, aku pamit untuk mandi setelah dia mandi duluan. Setiap sentuhan baik yang sengaja maupun tidak sengaja yang tercipta antara aku dan Praya terasa bagai bara di kulitku. Terhitung sudah satu jam aku berada di dalam kamar mandi.
Rambutku lembap, jari-jari tanganku juga sudah berkerut, sedangkan rona merah muncul di pipi serta da-da.
“I’m okay!” Aku berteriak supaya Praya tahu kalau aku benar-benar dalam kondisi yang tak mengkhawatirkan. “Sebentar lagi aku keluar kok.”
“Kamu yakin?”
“Iya, Praya.”
Jawabanku sepertinya cukup untuk menenangkan Praya. Samar-samar kudengar suara langkah kakinya menjauhi pintu kamar mandi.
Aku mengembuskan napas panjang. Saat itu kulihat cincin pernikahan yang melingkar di jari manisku. Aku telah menikah dengan Praya meskipun harus menipunya dengan menggunakan identitas orang lain. Selama itu pula aku telah menghabiskan beberapa malam tidur di samping Praya. Kami saling menginginkan dan ibu benar bahwa penolakan hanya akan membuat Praya semakin curiga.
Bukan itu saja, aku tahu bahwa batas pertahananku tidak akan berlangsung lama.
Praya adalah laki-laki pertama yang menyentuhku. Seseorang yang mengenalkanku pada dunia baru yang tak bisa kubeli dengan apapun.
Dengan nekad aku meraih bath robe dan membungkusku dengan itu. Air menetes dari ujung rambutku yang setengah basah ketika aku melangkah keluar dari kamar mandi. Kulihat Praya sedang duduk dengan bersandar pada dipan kasur, sedangkan sebuah macbook tersimpan rapi di atas pahanya.
“Praya.”
Suaraku menyedot fokus Praya. Suamiku mengangkat pandangannya.
“Asmira,” panggilnya pelan dan penuh kehati-hatian.
Aku menggigit bibirku, nyaris merobeknya bahkan. Nama itu—nama saudara kembarku—meluncur dari bibirnya seperti sebuah mantra yang tak pernah benar-benar sanggup kumiliki. Setiap kali dia mengucapkannya, hatiku seperti tersayat. Tetapi, karena nama itu pula aku bisa berada di sini … berdiri di hadapannya dengan rasa gugup yang hampir membuatku merasa mual.
“Aku ….” suaraku terdengar kecil, hampir hilang di udara. Aku menunduk, menghindari tatapannya. “I want you.”
Praya mendekat. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya saat dia berdiri di depanku. Tangannya terulur, menggenggam tanganku dengan lembut. Sentuhan itu membuatku gemetar. Berbagai emosi campur aduk di dalam hatiku bagai gulungan ombak.
Saat dia mengamit daguku jantungku seakan melompat keluar. Tangannya hangat, kuat, namun tidak memaksa. Dengan begitu pandangan kami jadi sejajar. Kutemukan nyala yang sama pada sepasang matanya. Nyala yang bergemelutuk di dalam perut, hati, dan paru-paruku.
“There’s no part of me that doesn’t long for you,” balas Praya lembut.
Dia membawaku duduk di tepi ranjang, wajahnya kini sejajar denganku. Ada jeda sejenak, di mana aku merasa waktu berhenti. Hanya suara napas kami yang terdengar, satu sama lain mencoba mencari celah untuk memahami.
Ketika Praya merebahkanku secara hati-hati dan meninggalkan ciuman panjang di bibir dan da-daku. Aku menyadari bahwa tak ada kata mundur lagi. Detik ini aku ingin berada di dalam rengkuhan Praya. Merasakannya sedekat yang aku mampu.
"Kamu tegang," ujarnya, suaranya terdengar menenangkan. "Asmira …." Dia menyebut nama itu. Nama yang bukan milikku.
Aku menahan napas sejenak, berharap wajahku tidak menunjukkan apa pun. Aku memaksakan senyum kecil. "Aku hanya masih canggung.”
Dia tertawa kecil, suara yang hangat dan terdengar bagai lullabby bagiku. “Enggak apa-apa. Kita punya waktu.”
Tapi waktu itu bukan milikku. Aku meminjamnya, mencuri apa yang bukan seharusnya kumiliki.
Ketika tangannya menyentuh pahaku yang terbuka aku menutup mata, berharap bisa mengusir rasa bersalah yang menjalar. Tapi, saat Praya mengikis jarak segalanya menjadi terasa nyata. Terlalu nyata untuk sebuah kebohongan.
Aku membiarkan diriku larut—mungkin untuk sesaat, mungkin untuk melupakan, atau mungkin karena aku takut jika aku menolak, aku akan menghancurkan lebih dari sekadar diriku sendiri.
Malam itu aku larut di dalam tubuh dan jiwa Praya.
[]