“Saudaramu tadi menggerakan jarinya.”
Aku mendapatkan telepon dari ibu tepat ketika Praya baru saja berangkat ke kantor. Dengan emosi yang campur aduk aku segera pergi ke rumah sakit. Aku tidak tahu apakah informasi itu pertanda baik atau buruk. Aku tak dapat mendengar penjelasan lebih lanjut dari ibu karena ibu langsung berbicara dengan seseorang di seberang telepon sana sebelum kemudian telepon dimatikan.
Di lorong rumah sakit yang akan mengantarkanku untuk bertemu dengan Asmira, aku menautkan tangan dengan perasaan gugup yang menekan jiwaku. Rasanya begitu tidak nyaman. Sebelum datang ke sini aku sudah mencari tahu arti dari gerakan jari dari orang yang terbaring koma. Ada banyak kemungkinan mengapa hal tersebut dapat terjadi pada Asmira dan yang paling aku takutkan adalah kondisi tersebut menunjukkan kemajuan menuju kesadaran.
Aku tahu aku sangat jahat, tetapi aku berharap Asmira tak mengalami perkembangan secepat ini. Sebab jika iya, maka aku harus mengakhiri permainan kebohongan yang aku ciptakan.
Di depan pintu ruang rawat Asmira—atau sekarang dengan identitas Ayesha—aku sempat termangu sejenak.
Kalau Asmira mengklaim kembali apa yang seharusnya menjadi haknya lantas aku harus bagaimana?
Pertanyaan itu tak dapat kutemukan jawabannya. Satu-satunya hal yang dapat kulakukan adalah mengetuk pintu.
“Masuk.”
Kudengar suara ibu menyahut dari dalam. Dengan perlahan aku mendorong pintu. Di dalam sana ibu tak hanya menunggu sendirian. Seorang perempuan yang wajahnya tak asing ikut menoleh menyambut kehadiranku.
“Kamu datang,” kata ibu sekali lagi.
Aku mengangguk bingung. Kulihat Asmira masih terbaring dalam posisi yang sama. Tak ada yang berubah sedikit pun darinya. Alat penunjang kehidupan berupa endotracheal tube dan monitor vital signs masih menempel di tubuhnya yang tampak ringkih.
“Apa kata dokter?” tanyaku sesaat kemudian.
“Gerakan jari dapat menunjukkan adanya aktivitas di otak. Jika pasien sebelumnya tidak menunjukkan gerakan sama sekali, ini bisa menjadi tanda bahwa otaknya mulai memproses sinyal.” Yang menjawab bukanlah ibu, melainkan perempuan yang berdiri di sampingnya. Melihatku yang sepertinya menampilkan ekspresi heran perempuan itu melanjutkan ucapan, “Aku datang bertepatan dengan Ayesha yang menggerakan jarinya. Aku bahkan jadi orang pertama yang menyadari itu sebelum memberitahu yang lain.”
Perempuan ini. Siapa dia?
Mengapa aku seakan mengenalnya, tetapi memori di dalam kepalaku tak dapat dengan jelas menemukan siapa namanya.
“Akhir-akhir ini Dharisha memang sering datang dan menemani Ibu untuk ikut serta menjaga Ayesha.” Ibu menambahkan informasi tersebut.
Dharisha?
“Aku sudah menganggap Ayesha sebagai saudaraku sendiri.”
“Kenapa begitu?” tanyaku sepenuhnya heran.
Pertanyaanku sebenarnya adalah, memangnya siapa kamu? Tetapi, aku sadar betul bahwa pertanyaan semacam itu hanya akan menjadi bumerang yang membuatku terperangkap di dalam kebohongan sendiri.
Untuk beberapa detik dapat kulihat keterkejutan pada wajah cantik Dharisha sebelum perempuan itu mampu mengendalikan emosinya supaya tak terbaca olehku. Dengan senyum kecil yang Dharisha memberikan sebuah clue. “Sepertinya kamu terlalu sibuk dengan status baru sebagai istri sampai lupa kalau selama ini kita telah berbagi banyak rahasia.”
Jantungku seakan mencelos begitu sosok Dharisha menyelesaikan kalimat terakhirnya.
Dia adalah sahabat Asmira yang asli! Ya, ampun. Bagaimana mungkin aku melupakan bagian paling penting dari penyamaran ini.
Aku mencoba memasang wajah datar, meskipun da-daku terasa seperti akan meledak. “Aku ingat, aku hanya enggak menyangka kalau kamu akan sepeduli itu dengan Ayesha.”
“Aneh.” Dharisha memiringkan kepalanya sedikit sambil memandangiku. Entah mengapa aku merasa begitu terintimidasi hanya karena gestur sekecil itu. “Padahal Asmira yang kukenal tahu betul kalau aku sangat peduli pada keluarganya.”
Ibu terbatuk-batuk. Dharisha yang sepertinya betul-betul peduli pada keluargaku segera menepuk ringan punggungnya. Pada kesempatan itu ibu sempat melirikku melalui ekor matanya. Aku tahu bahwa ibu hanya pura-pura. Jelas ibu juga menyadari bahwa Dharisha sedang melakukan sesuatu yang dapat membahayakan posisi kami.
“Mungkin karena AC,” ucap ibu begitu batuknya mereda. “Dharisha, mau kamu temani Ibu sejenak untuk jalan-jalan di taman RS? Mungkin kalau kena cahaya matahari pagi, Ibu bisa merasa agak lebih baik.”
Dharisha tidak perlu repot-repot menolak.
“Ayo.” Dia membantu ibu berdiri dan menatapku sekilas. “Habis ini aku langsung ke RS ya. Jadi, sekalian aja pamit. Sampai nanti, Asmira.”
Aku mengangguk kikuk. “Iya, sampai nanti.”
Sepeninggal Dharisha aku baru bisa bernapas dengan lega. Sebuah fakta pahit menghantam kesadaranku. Dharisha tahu sesuatu atau setidaknya dia curiga. Aku harus segera memutar otak untuk menjaga kebohongan ini tetap terkubur.
Pada saat itulah ponsel di tasku terasa bergetar panjang. Ada dua ponsel yang selalu kubawa kemana-mana. Satu ponsel milikku sebagai Ayesha dan satu lagi ponsel milik Asmira. Sejak hari kecelakaan aku hanya menggunakan ponsel Asmira sesekali. Kulihat nama Tsana muncul sebagai kontak yang memanggil.
Sial. Ini pasti orang yang dikenal oleh Asmira, tetapi sekaligus bukan orang yang kukenal.
Dengan cemas aku menerima panggilan masuk tersebut.
“Halo?” Aku menyapa dengan takut-takut.
Kuharap orang bernama Tsana ini tak seperti Dharisha.
“Miraaa, gue denger dari suami lo katanya lo udah mendingan banget ya?”
Oh. Dia juga mengenal Praya.
“Hah … iya, sih. Lumayan. Tapi, masih harus terapi beberapa kali lagi. Kenapa?”
“Lo bisa ke kantor enggak siang ini? Sekalian perpisahan sama anak-anak lain dan ngambil barang-barang lo. Praya udah usul supaya dia yang ngambil, tapi gue nahan banget soalnya pengen ketemu lo dulu.”
“Itu ….” Aku berusaha mencari alasan untuk menolak.
Tsana yang sepertinya menyadari hal itu terus memaksa. “Ayolah. Bentaran doang, Mir. Jangan sombong-sombong bangetlah sama kita mentang-mentang sekarang lo udah jadi istri konglomerat.”
“Mir, masa lo disambut pas jadi karyawan ramean giliran resign lo enggak ada pamitnya sama sekali?” Suara lain yang mirip dengan bariton pria menimpali di balik telepon sana. Entah siapa.
Matilah aku! Mana mungkin aku menolak kalau sudah begini.
Dengan setengah hati aku menyanggupi. “Okay. Nanti siang gue ke sana.”
Apapun akan kulakukan demi mengulur waktu supaya rahasia ini tak merangkak naik ke permukaan.
Aku menatap wajah Asmira untuk yang terakhir kalinya sebelum pergi meninggalkan ruang rawat itu.
***
“Apa yang harus kita cari?”
Dua jam sebelum jam makan siang tiba, aku dan ibu bergegas ke apartemen yang ditempati oleh Asmira.
Sambil membuka-buka laci yang diletakkan di ruang tengah aku menjawab, “Apapun yang bisa aku jadikan petunjuk tentang kantor dan pekerjaan Asmira.”
Setelah memberitahu ibu tentang ajakan teman-teman kantor Asmira, ibu langsung menyarankan kami untuk pergi ke apartemen. Di tempat Asmira tinggal ini pasti ada petunjuk yang dapat kujadikan modal untuk mengulur sandiwara kami.
“Aduh.” Ibu terlihat sama tertekannya denganku. Perempuan itu meletakkan ponsel dan dompetnya di atas meja lalu berkacak pinggang. “Lagian kenapa teman-temannya Asmira ribet sekali, sih? Sudah bagus Praya mau ambil barang-barangnya.”
Aku menghentikan kegiatanku sejenak. “Enggak ada waktu untuk mengeluh. Lebih baik Ibu bantu aku cari apapun yang bisa membantu. Misalnya lanyard card Asmira.”
“Ibu akan cari di ruang kerjanya. Kamu carilah di kamar Asmira. Pasti dia lebih banyak meletakkan barang pribadi di sana.”
Ah ya. Kenapa aku baru kepikiran sekarang?
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi aku melangkah memasuki kamar Asmira. Belum ada yang berubah dari ruangan ini. Baik itu dari tata letak maupun barang-barang. Semuanya masih tersimpan apik pada posisi semula, kecuali keberadaan berkas-berkas pendukung yang seharusnya kugunakan untuk melamar pekerjaan sebagai Ayesha.
Aku sedikit membungkuk berusaha mencari apapun yang disimpan di dalam laci nakas. Kutemukan sebuah OTG flash drive di dalam sana. Instingku mengatakan bahwa OTG flash drive tersebut dapat menjadi barang yang berguna.
Dengan segera aku memasukan flash drive langsung ke port lightning ponsel milikku. Hanya butuh waktu kurang dari semenit sampai akhirnya ponsel membaca sejumlah file yang tersebar di dalam 5 folder.
Folder dengan nama WORK menyedot seluruh perhatianku.
Melalui folder itu juga aku dapat tahu kalau Asmira—kembaranku, sekaligus seseorang yang identitas yang kucuri—bekerja di divisi property development Respatika Group sebagai staf architectural coordinator. Sosok Tsana yang tadi menghubungi menjabat sebagai project manager sejak awal Asmira magang di perusahaan itu.
Selama ini aku dan Asmira memang jarang membicarakan tentang pekerjaan. Yang kutahu Asmira adalah salah satu arsitek kebanggaan Respatika Group karena itu juga dia diangkat sebagai karyawan tetap dalam jangka waktu yang cepat.
Sekitar 20 menit aku mempelajari isi folder sampai aku cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa sekarang aku sudah mengenal Asmira lebih dekat daripada sebelumnya.
“Ibu ….” Aku kembali ke ruang tengah untuk melaporkan penemuanku kepada ibu, di saat yang bersamaan aku mendengar ponsel ibu berteriak nyaring.
Kutemukan nama Praya muncul. Nama suamiku hanya muncul sebentar sebelum berubah menjadi notifikasi panggilan tak terjawab. Menyusul dari itu muncul notifikasi pesan dari Praya.
From: Praya
Ibu, aku sudah transfer uangnya ya. Jangan ibu pikirkan cara untuk mengembalikannya. Anggap saja sebagai bantuan dari keluarga.
Aku menghafal pin m-banking ibu. Tanpa perlu meminta izinnya aku membuka laporan mutasi dan menemukan nama Praya sebagai pengirim uang.
Pengirim: Abhipraya Respatika
Jumlah: Rp 100.000.000
“Ibu menemukan staff ID-nya Asmira—”
Bersamaan dengan itu pula ibu kembali dengan membawa lanyard card berisi kartu pegawai milik Asmira. Namun, benda itu tak lagi menjadi fokus utamaku.
“Ibu menghubungi Praya untuk meminta uang?” tanyaku seakan merasa dikhianati. “Tanpa memberitahu aku terlebih dahulu.”
Ibu yang kepergok melakukan perbuatan rendahan dengan salah tingkah merebut ponselnya dari genggamanku. “Praya yang bertanya apakah Ibu butuh uang, ya … Ibu, sih jawab jujur aja.”
“Uang mahar aku aja udah Ibu ambil. Terus uang yang sekarang dari Praya mau Ibu pakai buat apalagi? Kalau untuk membiayai pengobatan Asmira, seharusnya Ibu enggak perlu terima karena sejak awal Praya yang menanggung semua biayanya.”
“Ibu adalah mertuanya, jadi wajar aja kalau ikut merasakan uang milik Praya.”
Dengan keras kepala aku menyahut, “Tapi, aku istrinya.”
“Kamu enggak punya hak untuk menggurui Ibu.” Ibu dengan nada tersinggung membalas ucapanku. “Kamu bukan Asmira yang sesungguhnya. Mau Ibu apakan uang mahar bukan lagi urusan kamu.”
“Ibu ….” Aku kehilangan kata-kata.
Bagaimana mungkin perempuan yang melahirkanku tega mengatakan hal semacam itu?
Ibu meletakkan lanyard card yang dia bawa. “Jangan terlalu besar kepala, Ayesha. Hanya karena kamu sedang berpura-pura menjadi Asmira bukan berarti kamu benar-benar mengambil seluruh perannya. Sampai kapan pun kamu hanyalah bidak.”
Setelah mengatakan itu ibu berlalu pergi meninggalkanku terlebih dahulu.
Bidak, katanya.
Benar. Ibu bisa dengan mudah mengkhianati Asmira, anak yang selama ini dia banggakan hanya demi uang. Maka, bukan tak mungkin ibu juga mengkhianatiku.
[]