Aku celingukan berusaha mencari keberadaan Tsana dan rekan-rekan kerjanya Asmira. Denah kantor Respatika Group benar-benar membingungkan. Gedung perusahaan ini memiliki belasan lantai dengan beberapa lorong dan tangga. Aku yang dulu hanya pernah bekerja di perusahaan kecil sama sekali tak terbiasa dengan lingkungan korporat semacam ini.
“Asmira?”
Aku langsung menoleh bukan karena mendengar nama saudaraku disebut, melainkan karena aku mendengar suara Praya. Sejak magang sampai menjadi karyawan tetap Asmira dan Praya memang selalu ditempatkan di Respatika Group—perusahaan inti yang menaungi sejumlah bisnis properti rakrasa milik Ir. Respatika.
“Praya.” Aku agak canggung karena Praya tidak sendirian. Tampak tiga orang karyawan yang berada satu langkah di belakangnya.
Aku tidak dapat mengenali ketiga orang itu. Wajah mereka tak pernah dicantumkan oleh Asmira di dalam folder WORK. Hanya saja, melihat pakaian dan posisi mereka berdiri tampaknya mereka adalah karyawan RG yang levelnya berada beberapa tingkat di bawah suamiku.
“Kamu sedang apa, Sayang?” Praya meraih tanganku. Dia sama herannya denganku. “Kenapa enggak mengabari dulu? Naik apa tadi ke sini? Kaki kamu enggak boleh melankah terlalu banyak, lho.”
Aku berusaha mengabaikan 3 karyawan yang diam-diam menguping percakapan kami.
“Aku harus ketemu Tsana dan teman-teman untuk perpisahan sekalian ambil barangku.” Aku menjelaskan berusaha terkesan bahwa aku dan Tsana memang sudah mengenal lama. “Aku enggak mengabari karena ini pekerjaan yang mudah kok. Lihat.” Aku menunjuk kakiku. “Aman aja ‘kan?”
“Di mana kalian janji bertemu?”
“Mereka janji untuk ketemuan di kafetaria, sih. Kayaknya aku harus buru-buru ke sana sebelum mereka berpikir kalau aku melanggar janji.”
“Ya sudah perginya sama aku.” Praya melirik karyawannya. “Saya pergi makan siang dengan istri. Kalian pergilah. Kita bahas lagi setelah ini.”
Tak perlu menunggu perintah lanjutan karena ketiga karyawan itu langsung melangkah dengan patuh meninggalkan kami hanya berdua. Aku cukup senang karena dengan adanya Praya aku jadi tidak seperti orang yang kebingungan. Praya menjadi pihak yang memimpin jalan ke tempat di mana kafetaria berada.
“Emang enggak apa-apa kamu menemani aku padahal sepertinya masih ada pekerjaan yang menunggu kamu?”
“Pekerjaan akan selalu datang, tapi kesempatan untuk menemani kamu hanya datang sekali ini saja. Setelah ini aku enggak akan melihat kamu berkeliaran di sekitar kantor ini.” Praya mengeratkan genggamannya pada tanganku.
Setiap kali berpapasan dengan karyawan RG aku selalu menemukan beragam jenis tatapan dari mereka. Ada yang memandang kami dengan aneh, bingung, dan penasaran. Hal yang membuatku sedikit heran karena entah mengapa kesan tatapan mereka seperti tak lazim. Mengingat Asmira dan Praya sudah menjalin kasih selama kurang lebih 5 tahun maka, sudah sepatutnya bukan setiap karyawan RG melihat kami menjalin kontak fisik sedekat ini?
“Sayang banget ya? Padahal aku ingin lebih banyak curi-curi pandang setiap kali kita berpapasan. Atau lebih sering pegangan tangan seperti ini setiap kali punya kesempatan.”
“Kamu yakin mengatakan itu dengan sadar?”
“Hm?” Aku menoleh. Sebuah tanda tanya samar mulai muncul di keningku. “Sadar. Emang kenapa?”
“Karena sejak dulu kamu paling anti melakukan interaksi denganku selama kita masih berada di lingkungan kantor,” jawab Praya. Ada nada bingung di balik suaranya. “Dulu kamu juga benci kalau kita berada di satu ruangan yang sama. Karena kalau sampai itu terjadi, orang-orang akan memandangi kita seolah-olah kita adalah tontonan.”
Rasanya aku ingin menampar diriku sendiri. Semakin hari aku semakin menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak kuketahui tentang Asmira. Siapa sahabatnya, di mana dia meletakkan lanyard card, apa yang Asmira pikirkan tentang teman-teman sedivisinya, dan bagaimana dia memperlakukan Praya.
Aku menghentikan langkah tepat ketika kami memasuki area kafetaria. Aroma makanan yang tercium di udara seharusnya mampu menggugah selera makanku. Hanya saja, setelah apa yang kudengar dari Praya, aku malah merasa mual.
Aku takut sedikit demi sedikit lelaki ini akan merasa ada yang janggal sebagaimana Dharisha.
“Aku ….”
“Asmiraaa!”
Dewi fortuna menyelamatkanku dari kemalangan. Pada saat itu aku mendengar seseorang memanggil nama Asmira. Suaranya mirip dengan suara perempuan yang kudengar di balik telepon. Tebakanku itu adalah Tsana.
Aku mencari kira-kira di mana dia duduk. Sekitar 6 meter dari tempat kami berdiri, aku melihat seorang perempuan yang melambai ke arahku. Wajahnya persis dengan yang kulihat di foto pada folder WORK.
Aku berupaya terlihat senatural mungkin. “Hai.”
“Kamu sudah ditunggu.” Praya menceletukuk, tampaknya eksistensi Tsana membuat Praya melupakan kata-katanya barusan.
Aku menarik tangan Praya ke meja di mana Tsana dan rekan-rekan kerja yang lain sudah menunggu.
“Wah-wah, bawa suami, nih.” Tsana yang pertama kali menyambut kami.
Sabda yang kuingat bertugas sebagai quantity surveyor menarik kursi untukku dan Praya. “Service khusus untuk pengantin baru.”
Di meja itu terdapat 8 orang yang menunggu kehadiranku. Wajah-wajah mereka berhasil kuhafal berkat file yang disusun rapi oleh Asmira. Aku harap mereka tak terlalu menyadari adanya perubahan di dalam diriku.
“Makin cantik aja deh lo sehabis nikah.” Mikaila yang kuingat berstatus sebagai urban planner memujiku sambil mengusap bahu ramah.
Tsana mencondongkan tubuhnya ikut mengamati wajahku. “Eh, iya, lho. Auranya juga agak beda. Kayak … I don’t know ya, lo kelihatan seperti Asmira yang gue kenal, tapi sekaligus juga agak asing. Apa karena udah kena angin Paris ya, lo jadi keliatan agak beda.”
“Iya, sih. Polusi Paris beda sama polusi Jakarta ya, Tsan.”
“Gue … sama aja kok,” sahutku yang tak tahu harus berkata apa.
Asmira telah bekerja di perusahaan ini selama 5 tahun. Pasti ada salah satu dari karyawan RG yang menyadari perbedaan antara Asmira dengan Ayesha. Sebuah keputusan yang bijak karena aku memilih untuk resign.
Kalau tidak, aku tidak tahu harus menanggapi pertanyaan serupa yang akan datang di masa depan dengan cara yang seperti apa.
Praya yang melihat kalau teman-temanku—yang pada faktanya adalah teman-teman Asmira—sudah memiliki masing-masing nampan berisi makanan berinisiatif untuk bangun. “Akan aku ambilkan makanan untuk kamu dulu.”
Mau tak mau aku melepaskan Praya pergi. Dari yang kuamati kafetaria ini menerapkan sistem self service di mana setiap karyawan mengambil makanan mereka sendiri yang dihidangkan secara prasmanan. Perusahaanku di Surabaya mana mungkin bisa begini. Paling mentok aku makan di warteg.
“Jadi, abis ini elo enggak akan kerja lagi, Mir?” Tsana bertanya sepeninggal Praya.
Aku memutar otak berusaha mencari jawaban yang terdengar bijak. Jawaban yang pasti akan digunakan oleh Asmira dan bukannya Ayesha. “Mungkin kalau udah pulih total, gue akan kembali kerja. Cuma, enggak di RG lagi.”
“Sangat disayangkan, dong.” Sabda berkomentar. “Lo itu salah satu arsitek paling berbakat yang dimiliki oleh RG. Jujur aja, gue rada enggak rela waktu tau lo resign. Mana project kita lagi banyak-banyaknya lagi.”
“Terus, lo mau kerja di mana nanti?” Karyawan lainnya ikut nimbrung. “Pengalaman lo di RG ‘kan bagus ya, Mir. Gue rasa lo bisa ditarik lagi sama anak perusahaan RG. Kalau lo masuk perusahaan kompetitor, waduh, agak gimana gitu ya? Apalagi sekarang posisinya lo udah nikah sama pewaris RG.”
“Itu ….” Aku berpikir sejenak. Dengan kemampuan dan pengetahuan yang kumiliki rasanya mustahil aku dapat bergabung di anak perusahaan Respatika Group. “Masih gue pikirkan.”
Praya kembali tak lama kemudian dengan dua nampan berisi makanan. Satu nampan dia letakkan tepat di depanku, sedangkan satunya lagi di depan dirinya sendiri.
“Wah, emang ini lagi honey moon phase kah?”
Praya tersenyum sopan. “Seharusnya kita bisa membuat farewell party dengan lebih layak. Saya bisa mengajak kalian untuk makan di restoran dan bukannya kafetaria kantor.”
Mikaila berdecak gemas. “Ah, susah sekarang mah ngajakin Asmira. Kita nge-chat di group aja enggak ada yang dibalas. Tsana nih, yang udah spam chat secara personal juga enggak dibalas. Ibaratnya kalau Tsana enggak nelepon sudah pasti Asmira enggak akan datang.”
Aku dapat merasakan keringat dingin yang menitik di punggungku. Kacau. Kalau sekarang Praya curiga maka itu rasanya amat wajar.
“Asmira sedang berduka karena sampai sekarang Ayesha belum menunjukkan perkembangan. Pasti karena itu juga dia enggak begitu fokus pada cowoker-nya.”
Mendengar itu membuat rekan-rekan kerja Asmira memasang tampang bersalah.
“Oh, iya. Maaf ya, Mir. Kita-kita kurang peka sama kondisi lo.” Tsana mengusap punggung tanganku.
Dengan tak enak hati aku ikut meminta maaf. “Enggak apa-apa. Maaf juga ya karena gue perginya enggak bilang-bilang. Ke depannya meskipun gue udah pindah perusahaan, kita sempetin buat ngumpul secara proper ya.”
Beruntungnya suasana makan siang terakhir ‘Asmira’ berjalan kembali cair. Praya cukup dengan mudah berbaur. Aku tidak tahu apakah Praya sebelumnya sudah pernah ikut ngumpul-ngumpul begini dengan divisi Asmira atau ini kali pertama. Pada kesempatan kali ini aku tak berani mengajukan pertanyaan apapun.
“Kalian ada keinginan buat nunda punya momongan enggak?” Mikaila bertanya ketika aku sedang menelan makananku.
Pertanyaan yang tak terduga itu membuatku tersedak. Praya dengan cekatan menyodorkan air mineral kepadaku. Tangannya juga secara lembut menepuk punggungku.
“Eh, Mir. Itu mulut lo ibarat bajaj, anjir. Nyerocos mulu.” Sabda memperingatkan.
“Ya, maaf, sih. Abisnya gue kepo Asmira sama Praya kalau punya anak bentuknya bakal kayak gimana.”
Praya tak menanggapi mereka. Lelaki ini malah fokus mengelap sisa-sisa air dan makann di tepian bibirku dengan ibu jarinya. Setiap kali ibu jari Praya menekan ujung bibirku, bayangan akan malam itu kembali terulang.
Anak ya?
Apakah hadirnya anak di antara kami dapat membuat Praya memilihku bahkan ketika kebenaran kelak terungkap?
***
“Tapi, Asmira agak aneh enggak sih? Apa karena udah nikah ya?”
Di balik toilet aku mendengar suara langkah kaki mendekat bersamaan dengan suara yang terdengar mirip dengan Mikaila.
“Eh, gue kira gue doang yang merasa begitu. Masa tiba-tiba dia jadi akrab sama lo? Dari dulu ‘kan elo sama dia kayak anjing sama kucing.”
Suara lain menanggapi. Aku kenal suaranya. Dia juga salah satu coworker Asmira.
“Tumben-tumbenan juga ya si Asmira mau mesra-mesraan sama Praya di depan kita-kita.”
“Mau pamer kali.”
Kudengar Mikaila terbahak. “Apa gue bilang? Asmira tuh pasti jual diri ke Praya. Makanya dia enggak mau keliatan terlalu menonjol punya hubungan sama lakinya. Sekarang aja pas udah jadi suami istri dia baru berani.”
“Masih aja lo percaya sama gosip kayak gitu.”
Di balik bilik toilet aku termangu. Setelah makan siang Tsana mengajakku untuk mengambil barang-barang Asmira di meja kerjanya. Karena keinginan untuk buang air kecil timbul aku sempat pamit untuk pergi ke toilet yang berada di lantai yang sama dengan divisi property development berada.
Di sinilah aku kembali salah mengambil langkah.
Aku melirik cincin pernikahan di jari manisku.
Mungkin … mungkin aku harus memberikan Praya seorang anak supaya kelak ketika dia mengetahui kebenaran yang ada, Praya akan menyadari bahwa sudah terlalu terlambat baginya untuk melepaskanku dan kembali kepada Asmira yang asli.
[]