Aku harus hamil.
Minggu ini Praya mengajakku pergi ke panti asuhan. Di tempat itu Praya bersama sejumlah besar petinggi Respatika Group melakukan kegiatan yang ditujukkan demi menghibur anak-anak panti. Dalam rangka merayakan hari jadi Respatika Group yang ke-30 tahun, Ir. Respatika—kakeknya Praya merasa perlu untuk melakukan kegiatan sosial.
Dan sinilah aku berada. Tak jauh dari tempatku berdiri kulihat sosok Praya yang menjelma menjadi magnet yang menghisap habis fokus anak-anak panti asuhan.
“Kak Praya, ini cara pakai topinya betul begini?”
“Kak Praya, Seruni tarik-tarik rambut aku!”
“Kak Praya, kalau nanti aku mabuk darat pas naik bus gimana?”
Praya dengan sabar menanggapi anak-anak panti asuhan yang mengerubunginya seolah-olah suamiku adalah pusat dunia bagi mereka. Kebanyakan anak yang berbicara dengan Praya berusia sekitar 5 sampai 7 tahun. Melihat jarak usia mereka dengan Praya, aku merasa bahwa Praya lebih cocok untuk dipanggil papa daripada kakak.
“Semuanya ayo naik ke bus satu per satu.” Kepala panti yang bertugas untuk mengoordinasikan rombongan anak-anak panti asuhan mulai memberikan arahan. “Masing-masing dari kalian harus duduk sesuai dengan nomor yang tercetak di kaos kalian ya.”
Anak-anak itu patuh. Mereka berjalan dengan teratur menaiki bus yang telah parkir sejak setengah jam yang lalu. Pada saat itulah Praya baru bisa mendekat ke arahku.
“Maaf ya aku enggak sempat mengajak kamu bicara lebih awal,” kata Praya merasa bersalah.
Aku memeluk lengannya sambil berjalan menuju bus di mana seharusnya kami berada. Hari ini rencananya kami akan pergi outing bersama anak-anak panti asuhan ke Museum Wayang yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara, Jakarta Barat.
“Enggak masalah kok,” jawabku enteng. Pagi ini Praya terlihat santai di dalam balutan t-shirt lengan pendek warna putih yang dipadukan dengan celana chino beige dengan potongan tailored fit. Sunglasses yang bertengger di hidung mancungnya membuat penampilan Praya terkesan gagah walaupun pilihan fesyennya sederhana. “Aku malah senang lihat kamu dikelilingi oleh anak-anak seperti tadi.”
“Kenapa begitu?”
“Anak-anak itu paling enggak bisa bohong. Kalau mereka bisa sebawel, serewel, dan sedekat itu sama kamu itu artinya kamu memberikan rasa aman kepada mereka.” Kini kesempatanku untuk membahas tentang masalah momongan muncul. “Aku jadi membayangkan kalau suatu saat nanti kita punya anak.”
Praya mempersilakanku untuk naik ke bus terlebih dahulu. Di dalam bus yang kami naiki kulihat keberadaan kakak iparku, Biantara Respatika. Walaupun antara Praya dan Biantara berbagi darah serta daging yang sama, tetapi keduanya memiliki aura yang berbeda. Biantara lebih mirip alpha otoriter yang memimpin sekawanan serigala, sedangkan Praya lebih mirip pemimpin bijak yang demokratis.
Aku yang tidak mau duduk dekat-dekat dengan Biantara menarik Praya untuk duduk di kursi paling belakang. Biantara itu entah mengapa mengingatkanku pada Dharisha.
“Bagaimana bayanganku di dalam kepalamu ketika kelak kita punya anak?” tanya Praya menyambung percakapan kami yang sempat terputus.
Aku berbisik tepat di telinganya. “Kamu akan jadi papa paling keren sedunia.”
Ucapanku agaknya berhasil menyanjung Praya karena detik itu pula suamiku terkekeh. Hal yang kuperhatikan setiap kali Praya tertawa adalah cara ketika bibirnya melengkung dan memperlihatkan senyum yang tulus. Sementara itu, matanya akan menyipit lalu memancarkan sinar yang penuh keakraban.
Aku jatuh cinta kepada Praya untuk kesekian kalinya.
“Lho, benar.” Aku menambahkan. “Kalau aku lahir sebagai anak kamu, setiap hari aku akan memamerkan kamu kepada teman-temanku di sekolah. Akan aku bilang pada mereka kalau papaku adalah seorang Abhipraya Respatika.”
“Apa kamu yakin akan begitu?” tanya Praya dengan nada setengah bercanda dan setengah penasaran. “Bagaimana kalau aku malah jadi papa yang payah?”
Aku mengangguk dengan penuh keyakinan “Iya, dong! Aku akan bilang pada mereka, papaku adalah orang yang bisa membuat segala hal terasa lebih mudah.”
Praya tersenyum kecil kemudian menatapku dalam diam sejenak. Ada kehangatan di matanya, serta sedikit kebingungan yang hilang perlahan. “Kamu selalu paling tau bagaimana membuat segala sesuatunya terdengar lebih istimewa, ya?”
Aku mengusap lembut pipi Praya. “Kamu yang membuat segalanya menjadi istimewa, Praya. Bagiku, kamu begitu mudah untuk dicintai. Enggak ada sedikit pun bagian dari dirimu yang perlu diragukan. Kamu begitu sempurna.”
Praya meraih tanganku yang berada di pipinya dan meninggalkan kecupan di punggung tanganku. Pria ini … aku ingin melahirkan sebuah jiwa yang mirip dengan Praya, seseorang yang akan memiliki hidung, mata, dan bibir yang mirip dengan Praya.
Seseorang yang dapat menahan Praya untuk meninggalkanku.
***
"Halo, teman-teman! Selamat datang di Museum Wayang. Ada yang tahu apa itu wayang?"
“Kak Praya pasti tau!” Seorang anak menunjuk Praya dengan tatapan polosnya.
Kami tiba di Museum Wayang setelah berkendara sekitar 45 menit. Di tempat ini Praya lagi-lagi tak hanya dimiliki olehku seorang. Anak-anak panti asuhan langsung mengerubuninya dan saling berlomba untuk merebut perhatian suamiku.
Sebagai orang baru, aku dengan tahu diri menyingkir dan berdiri agak di belakang.
“Lho, Kakak juga udah lupa, nih. Kamu sendiri tau enggak wayang itu apa?” Praya melempar pertanyaan ke bocah laki-laki yang tadi menunjuknya.
“Yang suka dijadikan alat pertunjukan, bukan?”
Pemandu yang bertugas membenarkan jawaban. “Benar. Wayang adalah salah satu seni pertunjukan yang sudah ada sejak zaman dahulu dan biasanya digunakan untuk bercerita. Di Indonesia, ada banyak jenis wayang, loh!"
“Apa aja, Bu?”
“Salah satunya wayang kulit yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau. Biasanya wayang kulit ini digunakan untuk pertunjukan di belakang layar, jadi hanya bayangannya saja yang terlihat. Nah, ini adalah contoh tokoh wayang kulit, yaitu Arjuna yang dikenal sebagai pahlawan dari cerita Mahabharata.”
Sesi outing di Museum Wayang siang itu diakhiri dengan menonton bersama pertunjukkan wayang boneka. Anak-anak yang mulai kelelahan tampak tenang menyaksikan pertunjukkan. Suara riuh-rendah dan celetukan ceriwis mereka untuk sementara waktu redam.
Aku menusuk-nusuk lengan Praya dengan jari telunjukku. Tindakan tersebut berhasil merebut perhatian Praya dari kegiatan menonton.
“Kenapa, Sayang?” tanyanya dengan cara berbisik.
Aku menunjuk seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang duduk di depan Praya dengan terantuk-antuk. Anak itu terlihat begitu mengantuk. Dia bahkan sesekali terlihat tak mampu menahan bobot kepalanya sendiri begitu tenggelam di dalam keinginan untuk tidur.
“Anak itu pindahkan aja ke pangkuanku. Kasihan tidurnya terantuk-antuk begitu.”
Praya setuju dengan ideku. Secara perlahan dia menggendong anak perempuan yang kumaksud dan meletakkannya tepat di pangkuanku. Anak itu sempat bingung, tetapi begitu pipinya bersandar di bahuku dia memilih untuk pasrah dan kembali melanjutkan tidur.
Aku mengeratkan pelukanku kepada anak ini. “Dia hangat dan bernapas.”
“Tentu.” Praya mengusap poni anak ini. “Dia kelihatan nyaman banget di dalam pangkuan kamu.”
Aku jadi membayangkan adegan ini sebagai adegan di mana aku menggendong anakku sendiri, sedangkan Praya duduk di samping kami.
“Jadi, kamu sudah siap untuk jadi papa?” Aku melemparkan pertanyaan yang sudah kutahan sejak terakhir kali melakukan farewell party dengan rekan-rekan kerjanya Asmira.
“Apa mungkin kita bisa mengurus anak di situasi seperti ini?” Praya terlihat ragu. “Ayesha masih koma. Ibu juga sepertinya mulai kewalahan karena harus ikut merawat Ayesha di rumah sakit. Apa mungkin hadirnya seorang anak di antara kita enggak akan membebani kamu?”
Lagi-lagi karena itu.
“Seberapa besar rasa sayangmu untuk Ayesha?”
“Apa?” Praya menampilkan ekspresi bingung.
Aku mengembuskan napas panjang supaya Praya tahu kalau percakapan tentang ‘Ayesha palsu’ yang koma selalu berhasil membuatku merasa lelah. “Setiap kali kita punya rencana tentang masa depan pasti kamu akan menyebut nama Ayesha di dalamnya. Sama seperti ketika kamu akan menunda pernikahan. Mungkinkah kalian bermain hati di belakangku?”
Sekarang Praya menatapku dengan pandangan tak percaya. “Tuduhan yang sama sekali enggak berdasar.”
“Kamu tinggal menjawab.”
“Aku bukan orang cacat moral yang berselingkuh dengan saudara dari istriku sendiri, Asmira.”
Aku tahu. Praya bukanlah seorang pengkhianat. Meskipun aku baru mengenalnya, tetapi aku dapat langsung mengetahui bahwa Praya bukanlah laki-laki yang mudah jatuh hati pada perempuan. Tuduhanku timbul karena cemburu dan obsesi semata.
Aku merasa tidak rela perhatian Praya terbagi pada orang lain meskipun itu keluargaku sendiri.
Meskipun demikian, aku menolak untuk memberikan respons. Aku bangkit dari kursi penonton bertepatan dengan lampu yang dinyalakan di ruang auditorium—pertanda bahwa pertunjukkan boneka wayang sudah sudah berakhir.
Aku berjalan duluan meninggalkan Praya dengan posisi masih menggendong anak perempuan yang tidur dengan lelap. Seingatku setelah ini rombongan akan pergi makan ke restoran yang telah ditentukan. Aku tak ingin dekat-dekat dulu dengan Praya jadi, aku berniat untuk naik ke bus yang berbeda.
“Asmira!” Praya dengan cekatan menyusulku. “Tunggu dulu, Sayang.”
Aku menghentikan langkah. Di depanku Praya berdiri dengan ekspresi bersalah.
“Kamu marah?”
Aku cemberut. “Enggak.”
“Tapi, kenapa sikapmu justru menunjukkan hal yang sebaliknya.”
“Enggak, tuh? Hanya perasaan kamu aja, sih.” Aku yakin sekali kalau nada bicaraku sekarang terdengar sangat sinis.
Praya mengerutkan kening, matanya menatapku dengan cermat. "Kamu yakin enggak marah?" tanyanya lagi, suara kali ini lebih pelan, tapi tetap terdengar penuh perhatian.
Aku mengalihkan pandangan, merasa tidak ingin bertemu mata dengannya. "Enggak ada yang perlu dimarahi, kok.”
Anak di dalam gendonganku menggeliat mungkin merasa tidurnya terusik oleh debat kami.
“Aku mau bawa anak ini masuk ke dalam bus. Kamu tunggu aja di bus kita tadi,” jelasku.
Aku tak perlu menunggu jawaban Praya. Dengan cepat aku melangkah masuk ke dalam bus yang berbeda. Sampai bus yang kunaiki melaju, aku tak pindah ke bus di mana Praya menunggu. Biar saja suamiku itu gelisah dan bertanya-tanya sendiri.
Pokoknya aku ingin ngambek.
Di restoran aku sengaja menghindar dari Praya. Begitu aku selesai mengambil makanan di meja prasmanan, aku langsung mencuri kursi kosong yang tinggal tersisa satu. Begitu menemukannya aku langsung duduk.
“Permisi, saya ikut duduk bareng ya.”
Orang pertama yang duduk di meja itu menoleh. Aku cukup terkejut saat melihat sosok Biantara. Kebetulan di restoran ini tersisa satu meja dengan dua kursi saja. Aku tidak peduli di mana Praya akan duduk. Toh, laki-laki itu sudah dewasa.
Biantara mengangguk singkat. “Silakan.” Dia lantas melirik menu di atas piringku. “Sedang diet?”
Dapat kurasakan pipiku bersemu karena malu. Tadi di perjalanan menuju restoran ini aku sempat melakukan googling. Disebutkan bahwa taoge termasuk ke dalam jenis sayur-sayuran yang dipercaya bisa membantu keberhasilan program hamil. Karena itu pula, aku hanya mengisi piringku dengan tumis taoge.
“Aku lagi mau promil, sih, Kak. Dengar-dengar taoge punya kandungan vitamin E, protein, serat, dan asam folat yang baik buat kesuburan wanita.”
Aku tidak merasa perlu menyembunyikan niatku lagi dari Biantara. Lagi pula dia kakak iparku sendiri.
Biantara mengangguk seolah-olah paham. “Dari yang kutahu kandungan vitamin E di dalam taoge bagusnya untuk meningkatkan kualitas spe-rma. Jadi, kalau bisa yang kamu cekoki taoge itu adalah dia.” Pada saat itulah Biantara menunjuk Praya yang datang menyusul ke meja kami.
“Aku mencari kamu.” Praya tak membawa makanan apapun.
“Kamu enggak ambil makan?”
Praya menggelengkan kepalanya. “Belum lapar.”
Biantara yang sepertinya enggan menjadi nyamuk di antara kami memutuskan untuk bangkit membawa piringnya. “Silakan selesaikan masalah rumah tangga kalian.”
Usai mengatakan itu kakak iparku itu meninggalkan kami.
Praya sama sekali tak merasa sungkan untuk duduk tepat di kursi bekas kakaknya. Tubuhnya dibuat condong ke arahku. “Jadi, kamu betul-betul ngambek ya?”
Diungkit begitu aku jadi merasa sebal lagi. Sambil pura-pura mengaduk tumis taogeku yang sama sekali tak menggugah selera ini, aku menimpali seadanya. “Pikir aja sendiri.”
“Asmira, lihatlah aku kalau aku sedang bicara.”
Ucapan Praya bagaikan sihir yang membuatku tak mampu menolak perintah. Dengan malas aku menatapnya. “Aku sebel dikit aja, sih karena kamu pasti apa-apa selalu mendahuluan Ayesha dan ibuku. Padahal aku ini lho, istri kamu.”
“Asmira—”
“Aku ingin punya anak dari kamu. Aku ingin melahirkan seseorang yang wajah dan sifatnya mirip dengan kamu. Tapi, kayaknya kamu enggak mau.”
“Aku mau.”
Aku melipat tangan di depan da-da. “Terus?”
“Aku takut kehamilan di kondisi seperti ini hanya semakin memberatkan kamu.”
“Praya kalau begitu kamu meremehkan aku.” Aku menimpali kali ini dengan nada yang lebih lembut. “Aku mengenal diriku cukup baik. Aku tau apa yang sanggup aku lakukan.”
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk. Sambil kusendok tumis taoge yang tadi kuambil dan mengarahkannya ke mulut Praya. “Aku ingin jadi ibu dari anak-anak kamu. Aku ingin mendengar seseorang memanggil namaku dengan gelar mama. Aku ingin melihat anak-anak kita tumbuh dengan cinta yang kamu berikan untuk mereka.”
Ketegangan di antara kami perlahan mencair. Praya secara bingung menelan tumis taoge yang kusuapi. “Aku siap jadi papa kalau begitu.”
Aku tersenyum.
Sekarang kuharap semesta berdiri di pihakku … hanya untuk kali ini saja.
[]