“Perfect. Lihatlah.”
MUA yang sengaja kupanggil ke rumah memberikan ruang supaya aku bisa melihat pantulan diriku di cermin secara lebih leluasa. Secara takjub aku memandangi pantulan diriku. Gaun satin emerald yang membalut tubuhku terasa seperti dibuat khusus untukku. Potongan v-neck yang rendah menonjolkan tulang selangkaku, sementara draping di bagian pinggang memberikan sentuhan elegan tanpa berlebihan. Tambahan detail berupa bela-han tinggi di bagian depan memperlihatkan sedikit kakiku saat aku bergerak—cukup untuk memancarkan keanggunan tanpa terlihat terlalu berani.
Rambutku sudah ditata dalam gulungan chignon sederhana, memperlihatkan tengkukku yang dihiasi sebuah kalung berlian mungil yang pernah dikenakan oleh Asmira pada hari lamarannya.
“Tanganmu ajaib sekali.” Aku memuji MUA yang bertugas untuk merias.
Aku memeriksa riasanku sekali lagi. Gaya smokey eyes yang lembut dan lipstick nude ini benar-benar menonjolkan sisi dewasa dan anggunku.
“Kemampuanku hanya pendukung saja. Pada dasarnya kamu memang sudah cantik.” MUA itu membawa tasnya. “Kalau gitu, goodluck ya.”
Kalimatnya terdengar agak ambigu. Akan tetapi, ketika aku sengaja berbalik untuk mengambil clutch di atas kasur, aku mendapati Praya berdiri di ambang pintu. Tatapan matanya menghentikan gerakanku.
Dia terdiam sesaat, memandangku dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kamu … luar biasa," katanya akhirnya, suaranya terdengar rendah tapi penuh kekaguman.
Aku tersenyum kecil, tetapi jantungku berdetak lebih kencang. Aku tahu aku tampak memukau malam ini, namun mendengar pengakuan itu langsung dari Praya, dengan nada tulus seperti itu, membuatku sedikit gugup.
"Jelas. Aku harus tampak sebagaimana istri seorang Abhipraya Respatika," jawabku pelan, mencoba terdengar santai meskipun aku bisa merasakan panas merambat di pipiku.
Dia melangkah mendekat, matanya tidak berpaling sedikit pun dariku. “Gimana, ya? Aku malah enggak rela rasanya membayangkan ada lelaki lain yang memandangi kamu.”
Aku menaikkan salah satu sudut bibirku membentuk senyum mengejek. "Kamu tau ini pesta formal ‘kan? Semua orang pasti tampil maksimal. Aku cuma mengikuti dress code. Atau aku ganti aja jadi piama supaya kamu enggak merasa resah setiap kali ada laki-laki yang memandangiku di pesta?”
Malam ini Respatika Group merayakan hari jadi dengan agenda kedua. Setelah sebelumnya mereka menciptakan kegiatan sosial yang menunjukkan kepedulian, maka sekarang waktunya RG menunjukkan power mereka di dunia bisnis dengan menghelat night party. Tentunya aku dan Praya ikut diundang.
Praya menggelengkan kepalanya, tampak tidak setuju dengan ideku. Perlahan lelaki itu mendekat. Dalam hitungan detik tatapan Praya melembut. “Nope. Dunia harus tau kalau aku punya istri seindah kamu, Sayang.”
Istri. Aku jatuh cinta pada Praya untuk kesejuta kalinya setiap kali kata itu meluncur dari bibirnya.
Malam ini Praya juga tak kalah memukau. Suamiku memilih untuk mengenakan jas berbahan velvet hitam yang membungkus tubuhnya dengan sempurna, memancarkan aura kemewahan tanpa terlihat berlebihan. Dasi kupu-kupu hijau emerald di kerah kemeja putihnya menjadi aksen sempurna yang menyelaraskan penampilannya denganku. Sepatu loafers hitamnya yang berkilauan memantulkan cahaya lampu kamar kami dan menambah kesan elegan pada setiap langkahnya yang mantap.
Aku menggigit bibir bawahku dengan malu-malu sebelum melempar tanya yang sejak tadi muncul. “Kalau gitu, can I get a kiss sebelum kita pergi?”
Praya menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. "Kamu benar-benar tau cara membuatku jatuh lebih dalam, ya?"
Aku memangkas jarak di antara kami dan melingkarkan tanganku di pinggang Praya. Pada jarak sedekat ini aku harus sedikit mengangkat pandangan mengingat tinggi badan kami cukup jomplang. “Kalau begitu boleh atau enggak?”
"Kalau kamu minta dengan cara seperti ini," katanya pelan, suaranya hampir berbisik, "Aku rasa enggak ada cara yang lebih baik daripada memberikan ciuman sebelum kita pergi."
Praya meraih rahangku dan memiringkan sedikit wajahnya. Kemudian dengan lembut, dia mencondongkan tubuhnya ke arahku dan ciumannya jatuh dengan penuh kelembutan di bibirku—hangat dan penuh rasa sayang.
Ketika tangan Praya bergerak menarikku lebih dekat dengannya pada saat itu aku tahu bahwa kami akan tiba sedikit terlambat.
***
Ruangan penuh dengan kilau lampu kristal yang menggantung di langit-langit tinggi menciptakan atmosfer mewah yang menyelimuti setiap sudut ballroom. Musik orkestra yang lembut mengalun di latar belakang, sementara itu tamu-tamu mengenakan pakaian formal dan berdiri dengan anggun di antara meja-meja yang dihiasi dengan bunga-bunga segar.
Aku yang berjalan di samping Praya dapat merasakan tatapan orang-orang yang mulai mengalihkan pandangan mereka ke arah kami. Aneh rasanya pusat perhatian seperti ini. Berbeda dengan Asmira yang sejak dulu sudah tampil penuh percaya diri di muka publik, maka aku sebaliknya.
Asmira banyak mendapatkan perhatian, sedangkan ini kali pertama bagiku. Bukan hanya akad Asmira saja yang kucuri, tetapi sinar yang selama ini menerangi dirinya.
Praya sendiri tampak tenang. Setiap kali berpapasan dengan tamu yang dikenalnya, Praya akan menyentuh pinggangku dengan lembut seakan memberi isyarat bahwa kami berdua kini tampil sebagai pasangan yang sempurna.
Kami berhenti di dekat meja minuman. Praya mengambilkan segelas champagne untukku. “Aku enggak bisa berhenti memandangi kamu.”
“Gawat karena bisa-bisa kamu jatuh tersandung kalau berjalan sambil memandangi aku terus.”
Praya tersenyum tipis, matanya menyipit dengan tatapan penuh arti. “That’s not a bad idea. I'd rather fall for you repeatedly if that was necessary.”
Melalui ekor mataku, aku dapat menemukan keberadaan Dharisha. Perempuan itu datang bersama Biantara. Sama halnya sepertiku, Dharisha juga menyadari kehadiran diriku. Meskipun demikian, tak ada satu pun dari kami yang berusaha menyapa.
Kejadian di RS tempo lalu membuatku sungkan untuk berinteraksi dengannya.
Aku kembali memfokuskan perhatian kepada Praya. Kusentil pelan ujung hidungnya yang tinggi. “Such a sweet talker.”
“Ewh, get a room.”
Pada saat itulah baik aku maupun Praya sama-sama menoleh. Kulihat sosok Mahawira Respatika berjalan mendekat. Mahawira adalah anak bungsu Hattala yang berarti dia adik iparku.
Berbeda dari Praya dan Biantara yang memiliki pembawaan serius, sosok Mahawira tampak sedikit lebih bersahabat. Sambil memasukan salah satu tangannya ke dalam kantong celana dia berjalan mendekati kami.
“Aku pikir fase honey moon itu akan selesai enggak lama setelah resepsi. Ternyata untuk kasus kalian, fase honey moon-nya agak awet, ya,” kata Mahawira menyindir kami yang mungkin terlihat terlalu mesra di matanya.
Praya mengangkat bahu dan menyandarkan tangannya ke pinggangku dengan gaya yang santai namun penuh rasa bangga. "Fase honey moon kami enggak punya batas waktu. Kamu segera menikahlah supaya tau rasanya.”
“Pacar aja enggak punya, Mas. Mau nikah sama siapa aku? Angin?”
“Kamu lihat di pesta ini banyak tamu perempuan. Pasti salah satu ada kamu suka. Tapi, ya belum tentu ada yang suka balik pada kamu.”
Aku terkekeh pelan mendengar kalimat balasan Praya, sedangkan Mahawira malah mendengkus.
“Cape aku dikira penyuka sesama jenis karena kelamaan jomblo.” Mahawira celingukan. “Nah, ini orang yang sering dikira sebagai pasanganku.”
Aku mengikuti arah pandang Mahawira. Pada saat itulah dari jarak sekutar 3 meter aku dapat melihat figur yang selama ini namanya aku simpan di masalalu.
“Lho, Ayesha?” Nabastala—seseorang yang kukenal di masa lampau—bahkan mampu mengenaliku di pertemuan pertama kami setelah belasan tahun lamanya.
“Bukan, Bas. Ini Asmira, kembarannya Ayesha. Sekarang dia sudah menikah sama kakak gue.” Mahawira yang merasa memiliki kewajiban untuk menjelaskan identitasku berkata demikian. “Tapi, lho, kok lo kenal sama Ayesha?”
Nabastala memandangiku sejenak seolah berusaha mengenaliku. Pada saat itulah aku merasa mulai gugup. Kenangan lama akan kisah cinta yang menyakitkan tanpa mampu dicegah ikut mencekoki memoriku.
“Kami dulu satu SMP. Gue, Ayesha, dan Asmira,” jawab Nabastala kemudian.
“Kalau begitu dulu lo tinggal di Surabaya?”
Nabastala mengangguk. Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat banyak perubahan pada laki-laki yang pernah menjadi sumber patah hatiku. Nabastala telah tumbuh menjadi lelaki dewasa. Gambaran wajah remaja berusia 15 tahun kini telah sirna. Jika dibandingkan dengan Praya, maka Nabastala terlihat sebanding.
“Iya. Gue lahir dan tinggal di Surabaya sampai umur 15 tahun. Begitu lulus SMP, gue sekeluarga langsung pindah ke Jakarta. Karena itu juga, maaf saya enggak mengenali kamu, Asmira.” Nabastala menampilkan senyum sopan.
Aku tidak tahu harus bereaksi apa. Pertemuan dengan Nabastala benar-benar berada di luar dugaanku.
“Kalian satu kantor?” Praya buka suara. Dia menunjuk adiknya dan Nabastala secara bergantian dengan lirikkan mata.
“Iya, Mas. Nabastala ini rekan kerjaku di Respatika Development.”
Dari yang kutahu Respatika Development adalah salah satu anak perusahaan yang masih berada di bawah naungan Respatika Group.
“Omong-omong, Asmira. Maaf, tapi bagaimana kabar Ayesha sekarang?” Nabastala sepertinya tak ingin kehilangan kesempatan untuk bertanya tentang sosok Ayesha.
Akulah Ayesha yang dia maksud. Namun, kondisi saat ini sama sekali tak memungkinkanku untuk mengatakannya.
Aku berusaha terlihat santai ketika membalas, “Kondisinya lagi kurang sehat.”
“Dia kenapa—”
“Kami harus bertemu dengan Papa.” Praya memotong apapun yang akan dikatakan oleh Nabastala terhadapku. Dengan ekspresi menyesal yang kuketahui hanya kamuflase Praya menambahkan. “Sebagai menantu, Asmira harus bersamaku. Kalau begitu, kami duluan.”
Tanpa perlu menunggu respons dari Nabastala dan Mahawira, Praya menarikku untuk menjauhi mereka berdua.
Aku tahu Praya cemburu. Tanpa perlu bertanya pun sudah jelas. Sikap tubuhnya membuatku cukup tahu diri untuk tidak protes.
Toh, kisah tentang Nabastala telah lama usang. Lelaki itu hanya bagian dari masalaluku yang tidak lagi memainkan peran penting di dalam kehidupan ini.
[]