“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ada peluang bagi Ibu untuk hamil. Namun, saya harus memberi penjelasan yang mungkin sulit Anda dengar.” dr. Naura membuka suaranya.
Seminggu lalu aku sengaja datang untuk menemui dokter obgyn di RS yang sama dengan tempat Asmira dirawat. Tujuan kedatanganku untuk mengetahui apakah aku memiliki peluang untuk hamil. Aku memilih datang ke sini tanpa memberitahu Praya. Aku hanya merasa takut seandainya hasil pemeriksaannya tidak sesuai dengan harapan. Setidaknya hanya aku yang akan kecewa, sedangkan Praya tak perlu tahu.
“Saya enggak bisa hamil?” Aku menarik kesimpulan seorang diri. Di pangkuanku dapat kurasakan tanganku yang mulai bergetar karena gugup.
“Setelah melakukan serangkaian tes fisik dan histeroskopi rahim, saya melihat bahwa Ibu mengalami kondisi inkompetensi serviks. Sebetulnya situasi ini jarang terjadi pada wanita yang belum pernah hamil. Tetapi, pada intinya hal ini bisa menambah risiko pada masa kehamilan nanti, seperti keguguran atau kelahiran prematur. Inkompetensi serviks sendiri memang tidak memberikan dampak langsung pada kesuburan atau kemampuan Ibu untuk hamil, tetapi dapat memengaruhi keberhasilan kehamilan.”
Selama sesaat aku terdiam. Kata-kata dokter Naura itu berputar-putar di kepalaku bagai kaset butut yang sama sekali tak ingin aku dengar.
“Jadi, dokter ingin mengatakan kalau saya tetap bisa hamil, tapi peluangnya rendah?” Aku cukup terkejut karena mendapati suaraku terdengar begitu rapuh—bahkan seperti akan menangis.
Tanpa anak di dalam rumah tanggaku dan Praya … mustahil. Aku kehilangan satu-satunya kunci untuk mempertahankan lelaki yang kucintai.
Dokter itu mengangguk perlahan. Di wajahnya tersirat rasa perhatian. “Ibu masih memiliki peluang untuk hamil, namun kondisi serviks Ibu bisa membuat kehamilan lebih berisiko. Tanpa penanganan khusus, seperti pemasangan jahitan serviks pada trimester pertama atau pengawasan yang lebih intensif, kemungkinan untuk mempertahankan kehamilan tetap rendah.”
Aku menundukkan kepala, berusaha mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan. Semua harapan yang sempat menyala kini terasa jauh.
Apakah aku tak bisa benar-benar memiliki cahaya bintang milik Asmira?
Pada akhirnya aku tidak dapat mengatakan apapun. Aku keluar ruangan setelah diam termenung selama kurang lebih 2 menit. Setiap langkah yang kuciptakan terasa begitu berat dan hampa. Rasa-rasanya aku seperti terdampar di planet asing.
Kalau sudah begini harus bagaimana?
Aku berjalan dalam kondisi kepala tertunduk berusaha menyembunyikan airmata kecewa yang menetes tanpa izinku. Pada saat itulah aku menabrak seseorang.
Dengan tak enak hati aku mengangkat pandangan dan berusaha meminta maaf. “Maaf—”
Sayangnya, kalimatku tertahan di pangkal lidah sewaktu aku menemukan wajah Nabastala.
Aku tidak pernah menyangka akan bertemu Nabastala di sini, di rumah sakit tempat Asmira dirawat. Udara dingin dari AC kala itu terasa menusuk lebih dalam saat Nabastala balik memandangaku. Aku menarik satu langkah mundur. Nabastala terlihat mengenakan kemeja putih yang rapi dengan lengan tergulung hingga siku.
“Ayesha?” Nada suara Nabastala terdengar khawatir. “Kamu enggak apa-apa?”
“Aku enggak apa-apa—” Aku hendak menjawab saat kurasakan pipiku basah oleh airmata. Oh, sial. Ini pasti karena percakapan tadi. Dengan kasar aku mengusap linangan airmata di pipi lantas tersenyum malu. “Sorry, ini … bukan karena tadi kita tabrakan kok.”
Nabastala yang sejak dulu kukenal memiliki hati lembut tanpa diminta merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam sana.
“Silakan,” katanya sambil menyodorkan sapu tangan itu.
Aku tidak dapat menahan senyumku melihat sikapnya. Tetapi, tak ayal aku tetap menerima bantuan dari Nabastala. “Ternyata masih ada orang yang membawa sapu tangan ke mana-mana daripada tisu yang jelas-jelas lebih praktis.”
Ketegangan yang sempat aku rasakan ketika pertama kali bertemu dengan Nabastala di pesta tempo hari mendadak terlupakan. Rasa-rasanya aku seperti kembali ke tubuh seorang Ayesha saat berusia 15 tahun.
“Hanya untuk situasi tertentu.” Nabastala menjawab dengan santai. “Aku enggak menyangka akan bertemu kamu lagi di sini. Apa ada keluarga yang sakit?”
“Enggak, kok. Aku habis kontrol aja ketemu dokter,” jawabku cepat, berharap dia tidak akan bertanya lebih jauh. "Kamu sendiri? Lagi apa di sini?"
"Baru selesai medical check-up rutin," katanya sambil menunjuk berkas di tangannya. “Omong-omong soal waktu itu … Ayesha sakit kah? Kamu sempat menyinggung kalau kondisinya kurang sehat.”
Ayesha sehat. Aku ingin mengatakan itu. Yang sakit justru Asmira.
Tetapi, lagi-lagi harus kutelan kejujuran itu.
“Dia memang sakit,” jawabku setengah berharap dia tidak menanyakan lebih lanjut. Tetapi, Nabastala selalu punya cara untuk menggali lebih dalam tanpa terdengar memaksa.
“Sakit apa?”
Aku ragu sejenak. Apakah aku harus memberitahunya? Tapi sebelum aku bisa memutuskan, kata-kata sudah keluar dari mulutku. “Dia koma.”
Nabastala tampak terguncang setelah mendengar jawabanku. Hal yang sama sekali berada di luar prediksiku adalah bagaimana sorot matanya meredup seakan-akan kabar komanya ‘Ayesha Palsu’ ikut menjadi beban duka bagi Nabastala.
Nabastala menatapku lama, lalu bertanya, "Di mana dia dirawat?”
“Di rumah sakit ini.”
“Boleh aku menjenguknya?”
Aku ingin mengatakan tidak. Aku ingin menolak dan pergi dari situ. Akan tetapi, tatapan tulus Nabastala, dipadu dengan rasa bersalah yang menghantuiku, membuatku tidak punya keberanian untuk menolak.
"Tentu," kataku akhirnya. "Ayo, aku antar."
Kami berjalan dalam diam menuju ruang perawatan Asmira. Langkahku terasa berat, sementara Nabastala tampak serius, mungkin mencoba mempersiapkan dirinya.
Saat aku membuka pintu, aroma khas rumah sakit menyambut kami. Di dalam, Asmira terbaring diam dengan berbagai alat medis yang terhubung ke tubuhnya. Di sini tidak kutemukan jejak keberadaan ibu. Mungkin perempuan itu belum sempat untuk datang. Nabastala sendiri mengikuti intuisinya untuk berjalan mendekat perlahan. Tatapannya lekat menatap wajah ‘Ayesha Palsu’ dengan ekspresi yang sulit kuterjemahkan.
“Ayesha … terlihat agak berbeda.” Adalah apa yang Nabastala setelah tenggelam di dalam keheningan yang panjang. Dia menoleh ke arahku. “Maaf, aku agak sulit membedakan kalian sejak kita berpisah di Surabaya dulu.”
Bagaimana mungkin Nabastala yang telah berpisah lama dengan kami mampu menyadari hal tersebut?
“Di pesta waktu itu kamu juga sempat mengira kalau aku adalah Ayesha.” Aku menelan ludah gugup. “Apa yang sebenarnya membuat kamu bisa begitu yakin kalau saat itu aku adalah Ayesha?”
Nabastala terdiam sejenak, matanya menyiratkan sebuah pemikiran mendalam. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit aku pahami, seolah-olah ada sesuatu yang terpendam di balik pandangannya. “Karena aku mengenal kalian. Walaupun kalian mirip, tapi di dalam ingatanku kalian memiliki cara berbicara dan gerak tubuh yang berbeda. Tapi, tentu ingatan aku bisa salah karena kita sudah lama enggak bertemu. Mungkin karena terlalu bisa berharap bertemu dengan Ayesha, jadi jauh di dalam alam bawah sadarku, aku melihat kamu sebagai Ayesha.”
Aku memberanikan diri untuk bertanya, “Do you miss her?”
“I think about her all the time. It’s not just missing her in the way you might miss someone you care about. It’s more like feeling like there’s a part of me that’s still tied to her.”
Kata-kata itu menghantamku dengan keras. Aku mencoba menahan perasaan yang mulai mengaduk-aduk di dalam da-daku. Nabastala berbicara seperti ini tentang Ayesha—yang seharusnya adalah aku.
Lelaki yang pernah menjadi cinta pertamaku mengatakan secara tidak langsung bahwa dia merindukan sosok Ayesha.
“Tapi, dulu kamu menolak cinta dia. Kalau Ayesha bisa dengar percakapan ini dia pasti akan ngambek.”
Aku mengungkit peristiwa lama.
Anehnya Nabastala malah terlihat bingung. “Kapan aku menolak cintanya Ayesha?”
Lho?
“Waktu SMP dia memberikan kamu surat melalui aku lalu kamu bilang kamu sudah punya pacar.”
“Asmira, aku meragukan ingatan kamu tentang hal yang satu itu. Faktanya kamu enggak pernah memberiku surat yang ditulis oleh Ayesha. Meskipun kita sudah enggak bertemu selama hampir 10 tahun lamanya, tapi mustahil bagiku untuk melupakan bagian penting itu karena Ayesha adalah cinta pertamaku. Sepanjang duduk di bangku SMP belum pernah sekalipun aku menjalin hubungan dengan orang lain. Kamu yakin dengan ingatan yang kamu miliki?”
Tubuhku bagai diguyur oleh air es.
“Dia cinta pertama kamu?”
Nabastala mengangguk penuh rasa berani. “Iya.”
Apa-apaan ini? Aku melirik Asmira yang terbaring dengan tak berdaya. Aku ingat betul ketika umur 15 tahun aku pernah menulis surat yang kutujukan demi Nabastala, sang cinta pertamaku. Melalui surat itu aku menuangkan segala perasaan sukaku kepadanya.
Hanya saja, karena aku belum seberani itu aku menitipkan surat tersebut kepada Asmira. Kembaranku selanjutnya datang hanya untuk memberitahu bahwa cintaku ditolak oleh Nabastala. Katanya, Nabastala sudah memiliki pacar.
Jadi, siapa di sini yang berbohong?
[]