“Kamu beneran enggak bisa nyusul?” Aku menggigit bibir bagian bawah dengan resah. Di bawah sana salah satu kakiku bergerak mengetuk-ngetuk lantai marmer secara berulang. Sikap tubuhku benar-benar menggambarkan perasaan yang sedang aku rasakan saat ini. Resah. “Sayang, seandainya bisa pasti aku sudah berlari ke sana. Tapi, aku benar-benar enggak bisa. Ada rapat mendadak yang harus aku datangi. Aku dan karyawan lain bahkan ragu kami bisa sekadar istirahat untuk makan siang nanti.” Okay kalau Praya yang selama ini selalu menuruti permintaanku secara tiba-tiba memberikan penolakan, maka situasi di kantor memang betulan urgent. Sebagai istri seharusnya aku menunjukkan rasa pengertian dan empati kepadanya. Aku mendesah sebagai bentuk rasa kecewa sebelum mengatakan, “Yaudah, deh enggak apa-ap

