Aku mandul. Detik itu juga tubuhku seakan baru saja dihantam oleh debur ombak paling keras. Kedua kaki yang kugunakan untuk berpijak seolah kehilangan fungsinya. Dengan lemas aku berpegangan pada tepian meja, sedangkan dunia di mana aku berada terasa membisu. Karena bosan menunggu Praya, aku memutuskan untuk memeriksa barang-barang kerja milik Asmira yang tempo hari kubawa dari Respatika Group. Pada saat itu aku menemukan sesuatu yang menarik. Di antara tumpukan barang yang membosankan terdapat sebuah notebook ukuran kecil berwarna cokelat tua. Milik Asmira. Tertulis demikian pada lembar pertama kertas. Semula kupikir itu adalah buku catatan biasa karena di hampir 10 lembar pertama buku tersebut hanya berisi inti materi dari rapat, material bangunan yang harus Asmira perhitungkan, da

