“Kamu ke mana emangnya?” Ibu bertanya dengan nada jengkel di balik telepon sana. Sejak sore tadi ponselku sudah banjir oleh notifikasi panggilan dari Praya, ibu, dan ART di rumah. Tanpa perlu mengangkat panggilan mereka pun aku sudah tahu tujuan mereka menghubugiku. Aku merebahkan tubuh di atas kasur. Seharian ini aku tidak keluar kamar. Terpaksa hal tersebut kulakukan. Pokoknya aku menghindari segala jenis interaksi yang bersinggungan dengan Dharisha. Hanya kepada perempuan itu aku merasa terintimidasi dan hanya Dharisha pula yang membuatku merasa bahwa aku bisa bertekuk lutu di bawah kakiku untuk mengakui semua skenario kebohongan ini. Entah bagaimana aku harus menjelaskan. Intinya Dharisha semacam punya siasat yang mampu menyudutkan lawan mainnya secara psikologis. “Praya menghubun

