Detik itu juga keheningan yang dingin membungkus udara tempat aku, Praya, dan tamu kami berada. Aku sendiri berdiri di hadapan suamiku—suami yang kucuri—dengan tatapan menantang. Meskipun ujung jemariku mulai bergetar karena tekanan rasa cemas, aku tidak akan melangkah mundur begitu saja. Aku sudah sejauh ini menggenggam Praya. Aku belum siap kalau harus kehilangan suamiku. Tidak di saat aku sedang mengandung anaknya. “Asmira—” Aku menolak untuk mendengar apapun yang akan dikatakan oleh Praya. Dengan tegas aku memotong ucapannya. “Aku enggak akan menarik ucapanku, Praya. Rumah tangga kita bergantung pada keputusan kamu.” Praya terlihat putus asa. Dia melangkah mendekat hendak menyentuh lenganku, namun aku menarik satu langkah mundur setiap kali Praya berusaha memangkas jarak di antara

