19 : Nabastala VS Praya

1723 Kata

“Aku antarkan pulang ya?” Nabastala menawarkanku tumpangan begitu tangisanku mereda. Di dalam mobilnya sebisa mungkin aku menghindari tatapan Nabastala. Terhitung sudah dua kali aku kepergok menangis di depannya. Rasanya sangat menjengkelkan karena untuk kedua kalinya aku tampak lemah di hadapan lelaki ini. “Aku enggak mau pulang dulu,” jawabku lesu. Aku tak lagi memiliki alternatif jawaban lain. Isi kepalang buntu sekadar untuk merangkai kalimat yang terdengar lebih baik. Perintah ibu untuk menggugurkan bayi di dalam kandunganku seakan menjadi tembok yang menghentikan paksa kemampuan otakku untuk menyusun kata. Beruntungnya hari itu Nabastala cukup peka untuk tidak langsung mengorek alasannya. Lelaki itu justru menawarkan pilihan lain. “Kalau begitu mau istirahat dulu di apartemenku?

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN