18 : Amarah dan Pertengkaran

1349 Kata

Kalau Praya bisa bersikap dingin kepadaku, maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Setelah kepulangan kami dari expo yang diselenggarakan oleh Respatika Group, Praya sama sekali tak berusaha untuk membujukku. Jangankan membujuk, mengajakku bicara pun hanya kalau ada yang penting saja. Di momen tersebut aku menyadari bahwa aku juga harus bersikap sebagaimana dirinya. Cuek. Meskipun peranku di sini hanyalah sebagai pengantin pengganti, tetap saja aku merasa kalau keberadaan diriku tidak akan dihargai kalau aku tidak balas melawan. “Dasiku yang biru di mana ya?” Perlawananku dimulai pagi itu. Ketika aku sedang membantu ART menyiapkan sarapan, Praya turun hanya untuk bertanya tentang keberadaan dasinya. Biasanya memang aku yang menyiapkan seragam kerjanya. Aku mengangkat bahu tak pe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN