Chapter 1
Part 1
Pertemuan
“Kita mulai semua dari awal sebagai suami istri, Mbak mau, kan?”
“Tidak! Urusan kita sudah selesai!”
“Sejak kapan selesainya? Saya tidak merasa pernah menyelesaikannya.”
“Sejak kamu membunuh bayi-bayiku!”
“Hah ... hah!”
Tiara terbangun dan duduk di atas kasur Bersama banyaknya keringat yang membanjiri tubuhnya. Mimpi berdebat dengan Bari—mantan suaminya yang tiba-tiba muncul sebagai bos di kantornya. Bukan mantan, mungkin masih suaminya, karena lelaki itu memang tidak pernah mengucapkan talak untuknya. Namun, waktu dua tahun yang sudah ia lewati sendiri, bukankah menggugurkan statusnya sebagai istri?
Tiara meremas rambutnya yang basah. Kepalanya menoleh ke kanan, melihat sebuah kipas angin kecil kesayangannya tidak berputar lagi. Pantas saja udara di dalam ruangan sangat sesak.
“Ya ampun, baru jam tiga subuh,” gumam Tiara sambil beranjak turun dari kasur busa yang memang sudah ada di lantai. Tidak ada dipan sebagai alasnya dan Tiara tak pernah keberatan untuk menempati gudang di kantornya, walau keadaannya sangat memprihatinkan.
Tiara menuangk air putih di botol ke dalam gelasnya. Ia meneguk air bening itu hingga tak bersisa. Disekanya keringat yang membanjiri leher dan dahinya. Diambilnya dua lembar kertas bekas yang ada di dalam tumpukan lalu ia lipat dua dan ia ayunkan di depan wajahnya.
Tiara kembali berbaring sambil mengibaskan kertas di depan wajahnya, tepat saat ponselnya berkelap-kelip.
“Siapa?” tanyanya heran, lalu meraih benda pipih itu dan melihat nomor yang tidak ada dalam kontaknya.
08116783XXXX
Kamu lagi apa? Kenapa belum tidur? Mikirin saya ya? Apa tadi udah tidur, terus karena mimpiin saya jadi bangun lagi? Hehehe ...