Part 2
Penawaran
“Oh begitu, jadi ruangan di atas itu harusnya bisa difungsikan untuk menaruh semua barang yang tidak terpakai ini. Bisa juga kita jadikan ruang meeting bersama dan saat ada tamu ruangan itu bisa kita pergunakan,” balas Bari saat Pak Dion menjelaskan semua sudut ruangan yang ada di kantor.
“Mm ... tapi begini, Pak Bari. Oleh pemilik kantor ini sebelumnya, ruangan di atas digunakan oleh Mbak Tiara. Staf wara-wiri yang sudah dianggap Bu Husni seperti keluarga. Mbak Tiara selama dua tahun tidur di atas,” terang Pak Dion lagi hingga membuat Bari yang tengah fokus menatap laptop, kini memandang pria dewasa di depannya sambil mengerutkan kening.
“M-maksud Bapak ... staf wanita yang kemarin membelikan saya makan siang?” tanya Bari memastikan orang yang dimaksud Pak Dion.
“Betul sekali, Pak. Mbak Tiara sudah tinggal di sana selama dua tahun supaya menghemat ongkos katanya. Bukan dari kalangan orang mampu dan kami di sini tidak kebertaan. Lagian Mbak Tiara hanya memakai lampu sepuluh watt saja di atas dan kipas angin kecil, jadi tidak terlalu berpengaruh untuk biaya listrik. Namun, jika Bapak merasa—”
“Coba panggilkan wanita bernama Tiara itu ke sini!” Bari tersenyum dari balik bibirnya. Ia rasa punya sebuah tawaran untuk Tiara agar wanita itu bisa sedikit tunduk padanya.
“Baik, Pak. Saya akan segera panggilkan.” Pak Dion pun mengangguk paham, lalu keluar dari ruangan Bari. Matanya mencari sosok Tiara yang saat ini tidak ada di mejanya.
“Restu, Tiara mana?”
“Lagi disuruh beli es kopi di depan, Pak,” jawab Restu.
“Susulin deh! Pak Bari ada perlu sama Tiara, mau menanyakan ruangan di atas,” ujar Pak Dion pada Restu. Wanita muda itu pun mengangguk, lalu segera berjalan keluar untuk menyusul Tiara.
Lima menit kemudian, Tiara muncul di kantor. Ia berjalan dengan tidak bersemangat karena lagi-lagi harus bertemu dengan laki-laki yang paling ingin ia hindari. Restu yang menggantikannya menunggu pesanan es kopi.
Pak Dion yang melihat kedatangan Tiara dari meja miliknya, langsung memberi kode dengan gerakan kepala agar Tiara bergegas masuk ke ruangan Bari.
Tiara hanya mengangguk lemah tanpa semangat sama sekali. Wanita itu berdiri dengan gugup di depan pintu, lalu mengetuknya dua kali.
Tok! Tok!
“Masuk.” Tiara mulai mengatur debar di dadanya, sebelum menekan kenop pintu ruangan Bari.
Pintu ia buka perlahan, lalu tanpa sengaja, keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat.
“Apa Bapak memanggil saya?”
“Tentu saja. Tutup pintunya!” titah Bari tersenyum. Tiara menutup pintu sambil menahan mual, karena tiba-tiba saja ia mencium aroma parfum yang menyengat. Tiara menutup mata, sekaligus menahan napas.
“Ada apa, Mbak?” tanya Bari pada Tiara saat melihat wanita itu seperti tengah menahan sesuatu.
“Maaf, Pak Bari. Ini ruangan bau apa ya? Tadi pagi waktu saya bersihkan tidak seperti ini aromanya.” Tiara menutup hidung menahan mual.
“Oh, ini tadi saya pakai parfum. Apa kamu suka?” tanya Bari dengan tingkat kepercayaan diri sangat tinggi.
“Parfumnya disemprot apa diguyur? Baunya bikin pusing,” ujar Tiara lagi dengan wajah cemberut.
“Hehehe ... masa parfum diguyur? Saya baru tahu kalau istri saya lucu juga. Mbak pusing? Mau saya pijat kepalanya?”
Mata Tiara pun terbelalak dengan mulut setengah terbuka. Wanita itu kaget bukan kepalang, apakah ia tidak salah orang? Kenapa Bari medadak konyol seperti ini?
“Nggak usah, makasih! Cepat katakan ada perlu apa memanggil saya!” cecar Tiara tak sabar. Berduaan saja di dalam ruangan dengan Bari membuat dirinya seakan kekurangan oksigen dan tidak sehat untuk jantungnya.
Bari tersenyum di tempatnya, lalu berjalan sedikit mendekat pada Tiara. Wanita itu mundur perlahan.
“Stop! Jangan dekat-dekat!” tukas Tiara panik.
“Mm ... baiklah. Begini, saya dengar Mbak tinggal di gudang ya? Sayang sekali, gudang itu mau dipakai dan difungsikan sebagai ruangan meeting kantor kita. Jadi, bagaimana kalau mulai hari ini Mbak tinggal sama saya aja? Di apartemen saya tempat tidurnya besar kok, cukup untuk kita berdua.”
“Apa?!”