Part 3
Tiara Tak Punya Pilihan
“Em ... baiklah kalau Mbak tidak mau, mungkin dengan menemani suamimu ini makan siang, dia akan berubah pikiran,” kata Bari lagi sambil memperlihatkan seringai tampannya.
Jika dulu kala lelaki di depannya ini bisa tersenyum seperti itu, mungkin ia akan meleleh seketika. Namun, sekarang seringai itu sangat memuakkan bagi Tiara.
“Bersikaplah profesional karena ini di kantor. Jika tidak ada yang ingin—” Tiara merasa tubuhnya melayang saat diseret paksa oleh Bari keluar dari ruangannya.
“Pak Dion, Rafli, saya ada meeting sebentar. Saya pinjam Tiara untuk saya suruh-suruh di sana nanti. Ayo, Tiara!” Wanita itu tak bisa mengelak karena semua mata tengah memandangnya, termasuk Restu yang baru saja kembali sambil membawa beberapa bungkus es kopi.
Ceklek!
“Mau masuk sendiri atau saya gendong!” ancam Bari sambil berbisik. Ia sudah membukakan pintu mobil untuk Tiara, tetapi wanita itu masih memaku kedua kakinya, enggan untuk masuk ke dalam mobil mewah Bari,“Tiara,” panggilnya lagi dengan menekan suara.
Mau tidak mau, Tiara masuk ke dalam mobil, lalu menutup pintu dengan kasar. Wanita itu tidak enak hati karena diperhatikan oleh Mang Parjo, petugas parkir kantornya. Bari mengulum senyum, lalu menyusul Tiara duduk di depan kemudi.
“Mau pasang sendiri seatbelt itu atau saya yang pasangkan?” tanya Bari lagi dengan wajah super manis.
Tiara memutar bola mata malasnya, lalu dengan gerakan serampangan ia memasang sendiri pengaman jok mobil tersebut.
Mobil meluncur meninggalkan area kantor. Jalanan cukup lancar sehingga Bari mengemudikan kendaraan roda empat mewahnya dengan santai. Tiara merasa ada yang aneh dengan jalan yang ia lewati, kenapa malah masuk ke dalam tol? Pikir Tiara.
“Memangnya kamu mau makan di mana? Kenapa masuk tol? Kita sudah terlalu jauh dari kantor. Kenapa tidak ke tempat yang dekat saja? Aku masih banyak pekerjaan, jangan seenaknya dengan status yang kini kamu dapat!” cecar Tiara dengan wajah sangat masam.
“Mbak Tiara, apa kamu lupa siapa bos di kantor? Apa perlu aku ingatkan lagi?” tanya Bari dengan suara mencemooh.
“Katakan dulu kita mau ke mana? Kalau tidak, aku aku turun di sini!” Ancam Tiara dengan mata melotot pada Bari.
“Turunlah kalau Mbak bisa membuka pintu mobil ini,” kata Bari lagi sambil tertawa.
Tiara melipat kedua tangannya di dadanya sambil membuang pandangan. Bari pasti sangat tahu bahwa ia tidak terbiasa dengan mobil, apalagi mobil mewah.
“Apa yang harus aku lakukan supaya Mbak bisa memaafkanku?” tanya Bari saat lima menit berlalu dengan keheningan.
“Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Tidak perlu diungkit, anggap saja tidak terjadi apa pun di antara kita. Soal gudang di atas, kamu jangan khawatir aku akan segera mencari kontrakan,” sahut Tiara masih enggan menatap Bari.
“Bagaimana bisa melupakannya? Gara-gara Mbak, aku jadi banyak menolak wanita yang terang-terangan mengejarku,” rengek lelaki itu membuat Tiara menoleh dengan tak percaya.
“Bukan urusanku!” tukas Tiara tak peduli.
“Aku katakan pada mereka, maaf ya para wanita, aku sudah punya istri,” kata Bari tanpa memedulikan ucapan Tiara. Wanita yang tengah duduk di sampingnya sudah merasakan mual yang luar bisa mendengar ucapan Bari yang sangat menggelikan menurutnya.
Tiara pasti sudah salah orang atau bisa jadi, otak Bari sudah ditukar dengan otak laki-laki lain yang baik hati dan penggombal. Ini bukan Bari. Pria di sampingnya ini adalah orang lain.
Mereka sudah sampai di sebuah restoran mewah. Tiara sebenarnya sangat malas menemani Bari makan, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia termakan ucapannya sendiri yang mengatakan bahwa dirinya harus berlaku profesional dan menemani bos makan termasuk dalam list tugas staf wara-wiri seperti dirinya.
Sama seperti ketika masih Bu Husni yang memiliki kantor itu. Wanita setengah baya tersebut rajin sekali memintanya untuk keluar kantor menemaninya rapat atau bernegosiasi dengan rekan bisnis mereka.
“Jangan bengong saja! Mbak mau makan apa?” tanya Bari sambil menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Tiara yang tengah melamun.
“Aku tidak ingin makan,” jawab Tiara enggan.
“Aku pesankan jus buah dan martabak telur jumbo kesukaan Mbak aja ya? Aku dulu suka membawakannya untuk Mbak, bahkan aku masih ingat nama pedangan martabak telur yang biasa aku pesan,” kata Bari dengan senyuman senang.
Tiara menunduk sambil mengepalkan tangannya. Tiba-tiba tubuhnya gemetar dan suara isakan terdengar pelan di sana.
“Mbak, kenapa?” tanya Bari kebingungan. Lelaki itu bangun dari duduknya, lalu berpindah dengan cepat di sebelah Tiara.
“Apa maksud kamu, Bari? Sekeras apa pun kamu mencoba, aku tidak akan mungkin kembali pada seorang ayah yang tega membunuh buah hatinya. Bukan hanya satu, tapi membunuh dua bayi kembar laki-laki sekaligus.”