Part 4
Penawaran Bari
Bari nyaris sampai di depan gudang ketika pintu gudang itu dibuka dengan kasar. Bari langsung terdiam di tempat, memikirkan apakah Tiara memiliki telepati atau CCTV yang terpasang hingga bisa melihat pergerakannya di dalam gelap seperti ini.
Rupanya Tiara tak benar-benar melihatnya, wanita itu baru saja mengeluarkan satu kantong kresek, lalu ia masukkan ke dalam tempat sampah yang ada di depan gudang.
“Ehm!” Bari berdeham.
“Astaghfirullah!” pekik Tiara yang tiba-tiba sudah terlonjak kaget. Matanya melotot lebar saat mengetahui siapa yang ada di depannya malam-malam seperti ini. Ditambah keadaan kantor sudah sepi dan tidak ada penjaga selain Mang Parjo.
Lekas Tiara mundur, lalu segera menutup pintu, tapi sayang, kedua tangan kekar Bari sudah terlebih dahulu menahan pintu. Keduanya pun terlibat aksi saling dorong dan sudah jelas siapa yang kalah, tentulah Tiara.
“Kamu mau apa? Pergi dari sini!” teriak Tiara dengan amarah yang perlahan memuncak.
“Apa kamu lupa siapa pemilik kantor ini, Mbak? Ada berkas yang tertinggal di bawah, jadi aku mengambilnya. Ya, sekalian juga melihat keadaan gudang yang ternyata cukup besar,” jawab Bari cuek sambil memanjangkan lehernya untuk melihat keadaan di dalam Gudang, “Saya lihat-lihat sebentar ya? Tidak lama. Besok akan ada penata ruang yang datang ke sini dan membantu saya membenahi ruangan ini dengan baik,” kata Bari lagi dengan sebelah tangan saja mampu membuat Tiara gagal menahan pintu. Wanita itu pun menghela napas kasar sekaligus memutar bola mata malasnya.
“Cepatlah, aku mau tidur,” kata Tiara sebal. Bari pun berjalan perlahan dengan kedua netra tajam miliknya memperhatikan setiap sudut ruangan di dalam gudang.
Hatinya iba saat melihat hanya satu buah kasur busa tipis yang dijadikan alas tidur Tiara. Tak ada barang lainnya di sana, kecuali jinjingan besar dan juga sebuah kipas angin kecil yang menemani Tiarabermalam dari hari ke hari sekian tahun lamanya.
“Kenapa kamu tidak menyimpan benda seperti ini dengan baik? Merusak pemandangan saja,” tegur Bari sambil mengangkat bra maroon milik Tiara. Wanita itu merasa wajahnya bak kepiting rebus. Ia berjalan dengan setengah berlari, lalu merampas bra favoritnya dari tangan Bari.
“Cepat keluar jika sudah selesai!” ketus Tiara tanpa mau melihat wajah pria di depannya.
“Ya, baiklah. Aku akan pergi. Hati-hati di dalam sini sendirian. Aku melihat berita di TV, bahwa ada perampok yang sedang beroperasi malam hari, merampok kantor-kantor sederhana seperti ini. Pastikan kamu memukul kepala perampok tersebut dengan tumpukan kertas yang banyak.” Bari keluar dari ruangan itu, lalu ia mengulum senyum.
Brak!
Tiara pun menutup pintu dengan kasar, lalu kedua kakinya terasa begitu lemah bagaikan tak bertulang. Ia terduduk sambil mengatur napasnya yang memburu. Kehadiran Bari di dekatnya benar-benar membuat hari tenangnya kini sudah tidak ada lagi.
Tiara pergi ke kamar mandi kecil yang terletak di dalam gudang untuk mencuci wajahnya. Besok, pagi-pagi sekali ia berencana untuk membereskan barang dan akan mencari kontrakan secepatnya.
Krak! Krak!
Krek! Krek!
Tiara yang baru saja memejamkan mata terpaksa membuka mata dengan tiba-tiba. Suara dari luar gudang ditangkap oleh telinganya dengan sangat jelas. Awalnya ia abaikan, tetapi suara itu kian dekat dan terdengar seperti bukan hanya suara langkah, melainkan orang berbicara. Siapa? Pikirnya mulai takut. Tiara menggeser tubuhnya, lalu berjalan dengan kaki telanjang untuk bersembunyi di balik rak buku besar yang ada di dalam gudang.
Tubuhnya gemetar sekaligus berkeringat. Ucapan Bari yang ia kira omong kosong, ternyata benar adanya. Apa kantornya saat ini sedang dirampok? Tiara menyesal tidak membawa ponsel saat bersembunyi, jika tidak ia bisa saja menelepon Mang Parjo atau Rafli untuk melihat keadaan kantor.
Brak! Brak! Brak!
Suara kenop pintu tengah ditekan paksa berkali-kali. Tiara semakin menggigil ketakutan. Ia meringkuk sambil memeluk kedua lututnya yang lemas.
Prak!
Pintunya terbuka lebar dan Tiara menutup mulutnya agar suara isakan dan helaan napasnya tidak terdengar. Dua orang laki-laki berpakaian serba hitam dan memakai masker hitam masuk ke dalam gudang sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Lu yakin di sini ada barang bagus?”
“Iya, kata teman gue yang mengintai, di dalam sini ada karyawan cewek yang suka nginap. Tuh, lihat. Ada kasur dan kipas angin. Sepertinya wanita itu bersembunyi. Nggak bakalan ada yang tahu kalau kita main-main sama karyawati di atas sini.”
“Bener juga lu! Yuk, kita susuri tempat ini, cari pakai mata yang jeli. Jangan sampai wanita itu kabur!”