Chapter 5

786 Kata
Bab 5 Pertolongan Prak! Tiara melemparkan sebuah buku besar jauh darinya. Fokus dua perampok itu pun terpecah dan segera berlari menuju arah suara yang ditangkap oleh mereka. Ruangan yang dalam keadaan remang dan memang berantakan penuh buku, membuat dua perampok itu tak sadar bahwa dari belakang tubuh mereka ada Tiara yang berjalan dengan kaki telanjang secara cepat dengan mengendap-ngendap keluar dari gudang. Tiara berlari cepat menuruni anak tangga dengan keringat bercucuran. Sayang sekali ia tidak bisa keluar dari pintu depan, Tiarapun berbalik dan berlari menuju pintu belakang yang ternyata sudah didobrak. Tiara masih berlari ke jalan raya dan berhenti tepat di depan gedung kantornya. Mang Parjo yang biasanya bertugas jaga malam tidak ada dan sangat tumben sekali jalanan juga sangat sepi. Tanpa sengaja, Tiara menoleh ke arah jendela lantai empat tempat gudang berada dan dari jendela, Tiara melihat salah satu orang perampok juga tengah melihat ke arahnya. Tiara menahan napas sesaat, lalu kemudian berlari dengan cepat untuk meminta pertolongan. “Pak, tolong! Di sana ...” Tiara mendekat pada tiga laki-laki yang tengah duduk di depan ruko kosong sambil bermain kartu. “Apa, Sayang?” Napas Tiara tercekat, ketika sadar jika ia meminta tolong pada orang yang salah. Tiga pria dewasa di depannya tengah mabuk dan berwajah sangat mengerikan. “Tidak jadi!” Tiara berlari secepat kilat dengan tubuh gemetar ketakutan. “Hai, mau ke mana?!” teriak salah satu dari tiga pemabuk itu. Tiara semakin menggigil ketakutan. Kepalanya menoleh ke arah kafe yang biasa ia kunjungi. Ada seorang petugas parkir di sana dan juga pedagang ketoprak malam yang menunggu pembeli. Tiara memutuskan untuk meminta tolong pada mereka. Tiiin! Ckiit! Bugh! “Sst ... argh!” Tiara terjatuh di aspal. Untung saja ujung mobil tidak mengenai kaki atau tubuhnya. Wanita itu terjatuh karena kaget tiba-tiba ada mobil di dekatnya. “Mbak, gak papah? Maaf ya, Mbak?” Pria itu berjongkok menghampirinya. “Ayo, saya antar ke rumah sakit atau klinik!” ajaknya lagi masih dengan posisi berjongkok di dekat Tiara. “K-kamu ... Tiara? Hei, ada apa? Ayo, bangun!” Bari pun membantu Tiara bangun dari duduknya. Namun, Tiara menepis tangan Bari. “Kantor kemasukan rampok,” cicit Tiara meringis menahan sakit. “Apa? Rampok? Kan, aku bilang apa? Dah, ayo, cepat!” Bari menarik tangan Tiara untuk masuk ke dalam mobil dan dengan tidak sabar, Bari pun menyetir menuju kantornya. “Kamu yakin?” “Kalau tidak yakin, kenapa malam-malam aku harus keluyuran? Cepat! Aku takut barang-barang di kantor habis digasak rampok,” seru Tiara yang benar-benar ketakutan. Bari memarkirkan mobilnya di depan kantor. “Kamu tidak boleh turun, paham? Biar aku saja. Kalau dalam sepuluh menit aku tidak melambaikan tangan dari jendela atas, maka kamu masuk dan bawa pukulan baseball ini.” Bari memberikan satu buah pukulan baseball pada Tiara. Wanita itu pun mengangguk paham, lalu ia mencengkeram benda itu dengan kuat. Bari turun, lalu dengan kunci yang ia miliki, ia masuk dan langsung berlari ke atas. Bari mengecek ruangannya yang aman. Laptopnya juga masih berada di tempatnya. Pria itu menyalakan semua lampu kantor dan mulai berjalan menyusuri setiap ruangan yang ada dari lantai satu sampai lantai empat. Gudang yang ditinggali Tiara memang berantakan, tetapi sudah tidak ada siapa-siapa di sana. Bari berjalan ke jendela dan melihat Tiara di bawah sana yang tengah menunggunya. Tiara pun mengusap d**a dengan lega, lalu ia meletakkan punggungnya di sandaran jok mobil empuk milik Bari. Tak lama kemudian, Bari turun membawa tas jinjing berukuran besar milik Tiara, lalu dengan santainya ia memasukkan ke dalam bagasi mobil. Tiara mengerutkan kening memperhatikan apa yang dilakukan oleh Bari. “Hei, kenapa membawa tasku?” tegur Tiara tidak terima. “Kamu mau tidur di atas? Berani? Pintu belakang sudah didobrak dan aku baru menelepon Pak Dion, bahwa besok membawa tukang untuk memperbaikinya. Malam ini kamu ikut aku dulu. Besok baru terserah kamu mau ke mana.” Bari menyalakan mesin mobil, lalu mengendarai mobilnya menuju jalanan ibu kota. Tiara hanya mampu menghela napas tanpa berani protes. “Kenapa tidak memanggil orang untuk membantu kamu?” tanya Tiara heran. Wanita itu curiga ini adalah bagian dari rencana Bari untuk membawa dirinya tinggal bersamanya. “Apa kamu gak takut semua berkas kantor nanti ada yang hilang jika terlalu banyak orang yang masuk? Laptop, komputer, bisa saja hilang. Ah, iya, sepertinya aku tidak menemukan dompet dan juga ponselmu di gudang,” ujar Bari sedikit tegang. “Ya Tuhan, jadi—” “Tidak perlu khawatir ada aku, suamimu yang akan mengatur segalanya,” kata Bari sambil menyeringai lebar. Seringai yang membuat Tiara sangat muak, “Akhirnya, setelah sekian lama, aku bisa tidur bareng istriku juga,” gumam Bari tapi masih dapat ditangkap oleh telinga Tiara dengan baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN