Chapter 6

833 Kata
Part 6 Apartemen “Bisa tolong bukakan pintu apartemennya? Kunci kartunya sedang rusak, jadi harus ditekan,” ujar Bari yang meminta tolong pada Tiara. “Memangnya aku siapa? Mana aku tahu kode masuk ke apartemenmu,” balas Tiara sambil memutar bola mata malasnya. Bari pun sedikit mendekat, membuat jantung Tiara kembali pada keadaan tidak sehat. Wanita itu bergeser karena canggung. “Tanggal lahir, bulan dan tahun kelahiran Mbak,” bisik Bari sontak membuat Tiara menatap lelaki itu dengan tidak percaya. “Ya Tuhan, bualan apa ini? Sudahlah, aku mau pergi, cari penginapan biasa saja.” Tiara merampas tas jinjing dari tangan Bari, tetapi tangan lelaki itu berayun hingga tas Tiara berada di atas kepalanya. Sosok Bari yang memiliki tinggi 177 sentimeter, tentulah tak sebanding dengannya yang hanya memiliki tinggi 157 centimeter. Tiara tidak bisa meraih kembali tasnya. “Kamu mau menginap di mana? Ini sudah jam setengah dua malam. Kamu juga gak ada uang, kan? Lagian saya hanya minta tolong pencet kodenya, kenapa susah sekali, sih?” Tiara tidak punya pilihan. Ucapan Bari semua benar. Dengan malas ia memencet tanggal lahir, bulan dan tahun kelahiran. Ceklek! “Yuk, masuk!” ajak Bari dengan senyuman lebar. Tiara berusaha untuk tidak goyah dengan kejutan yang laki-laki itu beri. Hanya sebuah kode apartemen dengan tanggal lahirnya, tidaklah lantas membuatnya GR dan juga menerima Bari. Ceklek! Pintu kembali tertutup. Bari melepas sepatunya, lalu memakai sandal tipis berbulu seperti sandal hotel. Di sebelah sandal berbulu warna hitam milik Bari, ada sepasang sandal bulu juga berwarna merah muda. “Hei, kenapa diam saja? Lepas sepatumu, lalu pakai sandal itu! Saya rasa, saya tidak salah memilih nomor kakinya.” Lagi-lagi Bari tersenyum lebar. Apartemen besar milik Bari tersebut, bukan seperti apartemen yang ada di dalam pikirannya. Apartemen ini sangat luas dengan ruang tamu yang minimalis dan sofa berwarna abu-abu besar mengisi ruang. Ada juga ruang tengah yang sepertinya digunakan Bari untuk menonton. Sebuah TV layar besar menempel di dinding bercat putih. Belum lagi jika kita menoleh ke kiri, maka kita akan menemukan dapur super maskulin dengan design kitchen set berwarna abu-abu. Tiara tersenyum dalam hati, semua barang yang ada di apartemen Bari bernuansa warna favoritnya. “Mbak pilih, mau tidur di kamar saya atau di kamar tamu?” tanya Bari sambil menyeringai. “Daripada aku tidur di kamar kamu, mending aku tidur di kandang buaya,” balas Tiara sinis dan Bari hanya mampu tertawa melihat ekspresi kesal Tiara. Lalu dengan langkah sok tahunya, Tiara berjalan ke sebuah pintu yang ia yakini adalah kamar tamu. Ceklek! “Ternyata memilih di kamar saya, ayo masuk!” Tiara melotot tajam saat menyadari kekeliruannya membuka pintu kamar. Ruangan yang begitu besar dan beraroma lelaki tangguh adalah kamar tidur Bari. Tubuhnya tak bisa menahan lengan Bari yang sudah menariknya masuk ke dalam kamar. Seketika itu juga Tiara gemetar dan terdiam di tempatnya. Bari yang baru saja meletakkan tas Tiara di dekat lemarinya, mendengar suara napas yang memburu, ia segera berbalik dan mendapati Tiara tengah berdiri mematung sambil memeluk tubuhnya dengan kedua tangan. “Hei, kenapa? Saya menakuti Mbak ya? Ya ampun, maafin saya. Saya hanya bercanda. Ayo, saya antar ke kamar sebelah.” Tanpa menunggu jawaban Tiara, Bari langsung keluar dari kamar sambil membawa tas milik Tiara tadi, membuka pintu itu lebar dan berjalan ke kamar sebelah yang berjarak sepuluh langkah saja dari kamarnya. Tiara menyusul Bari dan terdiam di depan pintu kamar kedua. Di dalam ruangan itu sudah ada tulisan ‘Selamat pulang istriku, semoga betah ya?’ Sebuah tulisan besar dari balon huruf berwarna marun. Ada juga balon warna-warni yang menempel di tembok. Kedua kaki Tiara gemetar saat memasuki kamar itu. Ia tidak mau menatap Bari karena khawatir perasaannya akan kalah. Ia belum sepenuhnya memaafkan Bari, lelaki itu harus menerima pembalasan dari dirinya cepat atau lambat. “Ini kamar Mbak. Kalau Mbak takut berada di dalam satu ruangan bersama saya. Kamar ini sudah beberapa hari yang lalu saya siapkan. Bagaimana, suka tidak?” Jika saat ini posisi keduanya berada dalam keadaan penuh kasih dan cinta, tentu Tiara akan memekik senang, bahkan mungkin juga melompat saat diberikan kejutan super manis seperti ini. Namun, ia harus berhadapan pada lelaki yang merenggut nyawa anaknya, bagaimana bisa ia bergembira di atas makam putra-putrinya? “Bari, aku lelah dan juga mengantuk. Bolehkah aku istirahat sekarang?” ucap Tiara pelan yang masih saja memperhatikan kamar miliknya. “Boleh, selamat beristirahat.” Bari berjalan hendak keluar kamar dan Tiara sedikit bergeser agar laki-laki itu bisa jalan dengan leluasa, tetapi langkahnya malah berhenti tepat di sebelahnya. Lalu tanpa Tiara sadari, tangan Bari terangkat, lalu mengusap pucuk kepala itu dengan lembut. “Saya akan berusaha untuk kita. Saya tidak akan menyerah.” Pria itu pun keluar dari kamar Tiara, lalu menutup pintu dengan rapat. Tiara terduduk lemas di atas tempat tidur sambil terisak. Seandainya ... seandainya ... Tiara begitu kesal dan membenci sepotong daging dalam tubuhnya yang disebut hati, karena ia tidak pernah benar-benar bisa membenci makhluk yang bernama Bari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN