Part 7
Sarapan Pertama
Tiara belum sempat makan sore sejak kemarin, ditambah malam harinya terjadi perampokan di kantor yang ia tinggali. Nafsu makan itu pun menguap, hingga keesokan harinya, Tiara terbangun dalam keadaan perut yang sakit.
Dengan lemas Tiara berjalan keluar dari kamar dan tertatih menuju dapur. Sebenarnya ia tidak mau makan makanan dari rumah Bari, tetapi perutnya sungguh tidak bisa diajak kompromi. Sakit lambungnya kambuh dan kini ia tidak membawa obat yang biasa diminumnya. Obat itu tertinggal di gudang kantor.
Tiara bernapas lega saat menemukan rice cooker yang tersambung ke listrik. Ia membuka dan menemuka nasi hangat dengan aroma menggoda. Tiara kini berjalan ke arah kulkas untuk melihat telur. Ia akan menggoreng telur saja untuk mengisi perutnya yang sakit. Sayang sekali, ia bingung cara membuka kulkas Bari yang besarnya seperti lemari baju.
“Ssst ...” rintih Tiara berpegang pada dinding dapur.
Ceklek!
Bari keluar dari kamar dengan baju Koko dan sarung, lengkap juga dengan pecinya.
“Ya ampun, Tiara!” Bari berlari menghampiri Tiara dan membantu wanita itu untuk duduk di kursi makan.
“Kenapa? Sakit?” tanya Bari bingung.
“Apa menurutmu aku sedang melawak? Aku sakit perut,” rintih Tiara sambil meremas bajunya.
“Kamu belum makan sejak kapan? Pasti ini maag kamu yang kambuh. Tunggu di sini, aku ambilkan obat maag di kamarku.” Bari berlari masuk ke dalam kamar, lalu keluar sekian detik kemudian sambil membawa kotak obat. Bari juga menuangkan air hangat dari dispenser ke dalam gelas yang akan ia berikan untuk Tiara.
“Ayo, minum!” Bari menuangkan obat lambung yanb berbentuk cair ke dalam wadah cup bening, lalu ia suap ke dalam mulut Tiara. Wanita itu menolak, sebelum cup obat itu sampai ke bibirnya, Tiara mengambilnya dan menuangkannya langsung ke dalam mulutnya.
“Kamu tidak bisa langsung makan nasi jika dalam keadaan sakit perut begitu. Harus minum obat dulu. Aku buatkan sarapan ya? Tunggu di sini.” Bari pun melepas sarungnya, Tiara memalingkan wajah. Kini pria itu hanya memakai celana boxer panjang sebetis dan sudah berdiri dengan gagah di depan kompor.
Bari menyalakan kompor dan meletakkan wajan anti lengket di sana. Ia mengambil telur dalam keranjang yang ada di lemari, lalu ia pecahkan dan tampung telur ke dalam mangkuk yang akan ia berikan irisan daun bawang.
Tungku sebelahnya ia nyalakan juga, lalu menaruh wajan anti lengket yang bentuknya seperti mangkuk. Bari mengeluarkan mangkuk dari dalam kulkas, lalu ia mulai membuat telur dadar dan juga menggoreng tahu yang sudah diberi tepung.
Bari memasak sambil bersenandung kecil. Seakan di dalam ruangan itu hanya ada dirinya, padahal sejak tadi Tiara tidak bisa untuk tidak melihat pemandangan subuh yang sangat sempurna di matanya.
“Apakah seorang suami terlihat gagah jika sedang memasak makanan untuk istrinya?” gumam Bari sambil menoleh ke samping.
“Aku sudah bukan istrimu,” balas Tiara telak.
“Kata siapa itu? Aku belum talak. Aku tidak mau menalak kamu juga. Sudah, tidak perlu dibahas, sekarang kamu makan, karena makanan sudah siap,” seru Bari dengan semangat.
Bari mengambilkan nasi satu centong ke piring untuk Tiara, sedang dirinya hanya mencicipi tahu goreng saja. Pukul lima pagi masih terlalu awal untuk sarapan. Ia hanya ingin menemani Tiara makan saja, maka dari itu ikut duduk di depan Tiara.
“Aku sengaja mengambil nasinya tidak banyak, karena dalam keadaan seperti Mbak ini makannya juga jangan langsung banyak. Makan sedikit-sedikit saja. Di kulkas juga ada banyak bahan makanan. Mbak boleh memasaknya kapan pun. Hari ini, Mbak tidak boleh ke kantor. Biar aku yang berangkat. Oke, Mbak?” Tiara malas menyahuti Bari. Saat ini yang terpenting adalah perutnya sudah tidak terlalu sakit walau masih terasa sedikit kaku.
Tidak ada percakapan apa pun di sana hingga Tiara menghabiskan nasinya. Bari hanya mencicipi dua buah tahu goreng dengan kecap, setelahnya pria itu hanya fokus memandangi istrinya.
Apa yang kini tengah dirasakan hatinya? Ia pun tidak tahu. Seumur hidupnya ia hanya pernah mencintai satu wanita dan itu adalah Rumi yang kini sudah menjadi ibu sambungnya. Jadi, bagaimanakah perasaan Bari yang sebenarnya terhadap Tiara? Apakah karena iba? Atau ingin sekadar membalas budi? Terlalu dini jika seorang Bari menyimpulkan bahwa ini adalah cinta, karena rasanya sangat berbeda.
“Apakah kita benar-benar tidak bisa memperbaiki semuanya, Tiara?” tanya Bari sungguh-sungguh. Tiara yang baru saja menghabiskan air mineral hangat di dalam gelas, menoleh kaget saat mendengar ucapan Bari.
“Tidak.” Singkat, padat dan jelas.
“Kenapa?” tanya Bari terheran. Tiara tidak langsung menjawab.
Jelas terlihat Tiara tengah merangkai kata di dalam otaknya, sebelum keluar manis dari bibirnya.
“Tidak mungkin. Kita bukan manusia satu server. Kamu cari saja wanita yang kamu cintai dan yang pasti sehat. Untuk apa kamu mengejar wanita yang sudah rusak rahimnya seperti saya? Iba? Ah, iya ... Pasti kamu iba. Jangan khawatir aku tidak apa-apa. Kemarin, Pak Dion mengajak saya untuk berkenalan dengan tiga anaknya. Sepertinya menjadi istri seorang duda dengan tiga anak masih lebih baik daripada saya harus kembali pada suami seperti kamu.”
“Apa? Pak Dion? Dengar, Tiara! Jika kamu berani menerima pria itu, maka aku pastikan ia berhenti bekerja! Paham? Kamu istriku. Terima atau tidak, kamu masih istriku!” tegas Bari sambil mengepalkan tangannya.