Tata memejamkan matanya merasakan embusan angin yang menenangkan menyapu wajahnya, terik matahari menembus daun-daun rindang pepohonan, Tata menghembuskan nafasnya kasar.
Dua hari setelah pertemuan terakhir dengan Brian Tata semakin murung bahkan Brian tidak menghubunginya, apa yang Tata harapkan.? Bukankah hubungan mereka memang sudah berakhir, untuk apa Tata mengharapkan Brian masih menghubunginya.
Tapi hati memang tidak bisa berbohong, tidak sedetik pun Tata melupakan sosok Brian dengan kelembutan dan kasih sayangnya kepada Tata.
Ke dua sahabat Tata pun merasa bingung akhir-akhir ini Tata terlihat murung, Tata memang menceritakan masalahnya tapi hanya sebagian, Tata hanya menceritakan bahwasanya perusahaan Papahnya sedang dalam masalah hanya itu penjelasan yang Tata berikan untuk ke dua sahabatnya
Di tengah pikirannya yang berkecamuk tiba-tiba.
Dddsszzzztttttt
Pipi Tata tersentuh oleh sesuatu yang dingin sontak membuat Tata kaget dan membuka matanya.
Dilihatnya Stefan dengan senyum manisnya yang menempelkan minuman kaleng dingin ke pipi Tata.
"sendirian?" tanya Stefan sambil memberikan minuman itu ke Tata.
"Tanks." ucap Tata sambil membuka minuman itu dan meminumnya.
"Ada masalah.?" tanya Stefan
"Tidak." jawab Tata.
"kalau ada lo bisa cerita sama gue, kalau lo butuh sandaran gue bahu gue siap menerimanya." ucap Stefan sambil tersenyum lebar.
Tata yang melihatnya pun tersenyum, ya tidak dipungkiri Stefan memang tampan dan incaran para siswi di sekolahnya dan Tata juga tau kalau Stefan menyukainya namun Tata tidam bisa menerimanya karena hatinya telah terjatuh terlebih dahulu terhadap Pria tuanya.
Namun Stefan tidak ambil pusing dia masih sering menggoda Tata sekedar untuk bercanda dan masih care terhadap Tata.
Stefan berpikir bahwa cinta tidak harus memiliki.
"Lo bisa aja" jawab Tata.
"ke mana dayang-dayang lo,? biasanya ngintil mulu" tanya Stefan.
"Oh mereka ada ujian susulan Fisika di lab."
"Pantesan." ucap s
Stefan sambil terus menatap wajah Tata lekat, Stefan tahu ada sesuatu yang salah dengan Tata.
"Gue serius Ta, kalau lo butuh sesuatu lo bisa bilang sama gue setidaknya lo anggap gue sahabat lo." ucap Stefan.
"Apa pak tua itu nyakitin lo.?bilang aja nanti gue hajar dia tanpa ampun." lanjut Stefan.
Tata yang melihat perkataan Stefan yang menggebu-gebu bahwasanya dia bakalan menghajar Brian habis-habisan tersenyum lebar.
"Enggak kok fan, serius, aku baik-baik saja hanya kurang fit aja." jawab Tata.
"Ya sudah kalau lo enggak bisa cerita ke gue, gue enggak maksa Ta itu hak lo tapi kalau lo butuh sandaran gu siap sangat siap."
"ya sudah gue balik kelas ya, jangan lupa minum vitamin supaya lo fit lagi" ucap Stefan sambil mengacak rambut Tata dan berlalu pergi meninggalkan Tata sendiri di taman belakang sekolah.
...................
Setibanya di rumah Tata langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan dirinya di kasur empuknya,Tata merasa amat sangat lelah
tiba tiba terdengar bunyi ketukan pintu
Tok tok tok.!!!
"masuk tidak di kunci kok” teriak Tata.
Namun entah siapa yang berada di seberang sana tidak mendengarkan ucapan Tata dan terus mengetuk pintu.
Tok tok tok
Duh siapa sih di suruh masuk juga batin Tata sambil berdiri dan berjalan kearah pintu, dibukanya pintu kamar dan langsung mata Tata membulat melihat sosok wanita yang beberapa tahun lebih tua darinya
"Cindy.!!" teriak Tata sambil memeluk sepupunya itu.
"Kapan lo dateng.? Kenapa enggak bilang-bilang...lo sombong ya sudah tidak pernah hubungi gue lagi, Gimana kuliah lo.?" tanya Tata panjang lebar.
"wait wait lo kalau nanya satu-satu." ucap cindy melepaskan pelukan Tata dan berjalan masuk ke kamar bernuansa ungu milik Tata.
Cindy duduk di meja belajar Tata dan di ikuti Tata yg duduk di atas tempa tidur.
"gue baru dateng tadi siang sama mamih." ucap Cindy.
Cindy adalah anak Fero. meskipun Fero adik alm. Papahnya Tata tapi Fero lebih dulu menikah tak ayal c
Cindy lebih tua dua tahun dari Tata.
"terus tante dinanya mana.?" tanya Tata.
"Lagi ke kantor nyusulin papi, Ta maaf ya gue enggak bisa dateng pas.." perkataan Cindy menggantung tidak tega rasanya mengungkit peristiwa yang paling menyakitkan buat Tata.
"Enggak kok cin..gue tau lo sibuk kuliahkan ada om Fero sama tante dina ya g nemenin gue disini waktu itu." ucap Tata.
"ya syukur deh lo udah ikhlas menerimanya." ucap Cindy sambil memeluk Tata.
"Duhh kangen rasanya gue sama lo udah hampir satu tahun lebih gue enggak nemuin lo." ucap Cindy yang makin mengeratkan pelukannya.
Ya Cindy memang menganggap Tata seperti adik kandungnya sendiri, Cindy sangat menyayangi Tata.
"Ah lo nya aja yang sibuk kuliah mulu dan sibuk pacaran."
ucap Tata sambil terkekeh pelan.
"iisshhh tentu dong." ucap cindy sambil tersenyum lebar.
"Gimana hubungan lo sama kak Dion.?" tanya Tata.
"ya berjalan mulus and ada kabar gembira." ucap Cindy
"apaa.?"tanya Tata penasaran.
"Dion udah ngelamar gue." teriak Cindy sambil berjingkrak-jingkram memeluk Tata.
"Serius...wah hubungan kalian memang awet ya." ucap Tata.
"Ya tapi gue terkejut mendengar lo yang duluan mau nikah dari pada gue." seketika perkataan Cindy membuat wajah Tata murung kembali.
Cindy yang merasakan perubahan raut wajah Tata langsung memeluknya.
"heyyy ada apa?” pertanyaan Cindy membuat tangis Tata yang selama ini dia tahan pecah di pelukan Cindy, Tata menumpahkan segala yang dirasanya kepada Cindy dia menceritakan tentang Brian dan perjodohannya.
"Sabar ya Ta, lo pasti bisa melalui setiap masalahnya." ucap Cindy menyemangati Tata.