Tata beserta keluarga Fero sedang menikmati makan malam mereka tanpa mengeluarkan suara, suasana sangat hening hanya terdengar bunyi sendok garpu, sebelum Fero memecahkan keheningan itu.
"Cindy sayang, kapan Dion datang kesini...?"
"Mungkin sehari sebelum pernikahan Tata Pih."
"Oh ya Tata apakah Calon Suamimu tidak menghubungi mu?" tanya Fero.
"Tidak Om." jawab Tata heran.
"Dia tidak bisa bertemu dengan mu menjelang hari Pernikahan kalian, karena dia sibuk mengurus bisnisnya di Luar Negri, makannya dia meminta nomor mu untuk sekedar menelepon." ucap Fero.
"Oh, mungkin nanti dia akan menghubungi Tata." jawab Tata.
"Sayang besok kau ke butik di temani Cindy ya, Tante harus mengurus persiapan lain." ucap Dina.
"Iya Tante, lagi pula kenapa harus banyak persiapan.? Acaranya kan cuman dihadiri Kerabat dekat Saja bahkan Tata tidak mengundang satu orang pun teman-teman Tata.." ucap Tata.
"Tetap saja masih harus ada yang di urus sayang, meskipun sederhana tapi harus tetap berkesan, menikah itu sekali seumur hidup loh." ucap Dina.
Tata hanya mengangguk, Tata berpikir apakah pernikahannya akan terjadi sekali seumur hidup, bahkan dia tidak tahu calon suaminya seperti apa, apakah Tata bisa menjalaninya kelak.
"Tata ke kamar dulu ya." ucap Tata sambil berlalu menuju kamarnya.
.............
Tata berbaring di Atas tempat tidur empuk miliknya sambil menatap fotonya bersama Brian dilayar ponselnya, Tata sangat Merindukan pelukan hangat Brian, rasanya tidak sanggup Tata harus berpisah dengan belahan jiwanya bahkan ratusan Foto nya bersama Brian masih terpampang di ponselnya...
Air mata pun mulai jatuh mengalir di pipi mulus Tata.
"Bri aku merindukanmu." ucap Tata sambil membenamkan wajahnya ke bantal, Tata menangis terisak tidak sanggup menahan rindunya kepada Brian...
Tiba tiba ponsel Tata berdering...
No tak dikenal
Calling
No siapa ini batin Tata.? Tata pun mengangkat telepon nya.
"Hallo.?"
"ya Hallo dengan Averta Zuliana"
Deg deg deg
Jantung Tata berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya, suara ini, suara yang sangat dia rindukan...
"Hallo apa benar ini Averta.?"
"I iya saya sendiri," ucap Tata gugup.
"Selamat malam, apakah aku mengganggu?"
"Tidak, maaf ini dengan siapa.?" Tata bertanya ingin memastikan apakah orang di seberang sana adalah Brian atau hanya suaranya saja yang mirip.
"Saya Alex, calon suamimu"
Seketika hati Tata seakan diremas, Tata menghembuskan nafas kasarnya.
"Oh." ucap tata
"Maaf saya tidak bisa bertemu denganmu sampai hari pernikahan kita diselenggarakan, saya harus mengurus beberapa bisnis yang sangat penting." ucap Alex.
"Its ok." jawab Tata
Lagi pula siapa yang ingin bertemu denganmu Kakek tua batin Tata.
"bagaimana persiapan pernikahan kita, maaf tidak bisa ikut membantu.! " ucap Alex.
"Sudah hampir Tujuh puluh persen" ucap Tata singkat.
"Bagus, saya tidak sabar menunggu hari itu tiba." ucap Alex.
Dan gue berharap hari itu tidak akan pernah ada batin Tata.
"Kenapa diam." tanya Alex.
"Saya bingung harus bicara apa" jawab Tata.
"Apakah kau tidak penasaran denganku.?" tanya Alex.
"Sedikit" ucap Tata.
"Tanyakanlah apa yang ingin kau ketahui.!"
"berpa umur Anda.?" tanya Tata ragu.
"Coba tebak.!" ucap Alex
"Iisshhhh" ucap Tata sedikit kesal.
"Ayolah tebak saja..! biar obrolan kita tidak kaku." ucap Alex.
"Limapuluh tahun.?" jawab Tata.
"Ya kurang lebih." jawab Alex.
What the jadi beneran gue menikah dengan kakek-kakek batin Tata meringis.
"Apakah Anda sudah mempunyai Istri dan Anak.?" tanya Tata kembali.
"Saya tidak mempunyai Istri tapi saya mempunyai seorang Anak." jawab Alex.
Ya Tuhanku cobaan berat apa lagi
Ini batin Tata sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi.
"Kenapa Anda ingin menikah dengan saya yang hanya anak SMA...?" tanya Tata.
"Karena kau adalah belahan jiwaku." jawab Alex yang membuat jantung Tata berdegup kencang.
Deg deg deg
Ya Tuhan perasaan apa ini begitu familiar batin Tata.
Tata sering merasakan perasaan seperti ini saat bersama Brian.
"Apakah Anda tidak penasaran dengan saya.?" ucap Tata.
"Tidak, saya sudah mengetahui semua tentang mu." jawab Alex.
"Apakah saya boleh meminta sesuatu.?" tanya Tata.
"Ya tentu"
"Saya minta pernikahan kita dirahasiakan dari publik sampai saya lulus Sekolah.!" pinta Tata.
"ya tentu, itu sudah jadi kesepakatan awal antara kita." jawab Alex.
"Ya sudah istirahatlah...!! ini sudah malam, sampai ketemu di hari pernikahan sweet heart." ucap Alex lalu sambungan telepon terputus.
Tata hanya diam membeku mencoba menerima takdirnya.
............
Tok tok tok..!!!
"Taaaaaaa Tata....!!!" Teriak Cindy dari luar kamar.
Namun Tata tidak kunjung bangun, Cindy akhirnya memaksa masuk.
"Ta Tata, come on wake up, sudah jam berapa ini, kita harus ke Butik.!" ucap Cindy.
"Cin lima menit lagi ya, gue semalaman enggak bisa tidur."
"enggak, enggak ada cerita lima menit lagi, bangun dan cepat mandi kita harus cepat.!" ucap Cindy sembari menarik Tata bangun dan mengarahkannya ke kamar mandi, Tata pun mengikuti apa yang Cindy perintahkan.
Tata mandi dan siap-siap setelah itu Tata langsung ke Butik untuk memilih Gaun Pernikahannya.
.............
"Ooh my.....Tata lihat gaun nya cantik-cantik, kau harus coba satu-satu ok." ucap Cindy menggebu-gebu saking semangatnya.
Ya memang di banding Tata yang biasa saja Cindy begitu antusias dengan pernikahan sepupunya ini.
"Cin terserah lo deh, gue ikut menurut lo yang bagus yang mana," ucap Tata.
"Come on honey, ini pernikahan lo, setidaknya semangat sedikit dong." ucap Cindy.
Tata pun terpaksa memilih-milih gaun dan cincin yang benar-benar dia sukai, Tata berharap ini benar-benar pernikahan pertama dan terakhirnya.