Perpisahan

920 Kata
Esok harinya. Tata berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan, di sana sudah ada Fero. "Pagi sayang, sarapan dulu." ucap Fero. "Pagi Om." ucap Tata terlihat lesu karena semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan perjodohannya itu. "Kenap Ta, apa kau sakit.?" tanya Fero khawatir. "enggak kok Om, Tata cuman kurang tidur." jawab Tata. "Om." ucap Tata pelan. "Tata menerima perjodohan itu." sambung Tata. Fero pun tersenyum senang, digenggamnya tangan Tata. "o*******g dengan keputusanmu, ini juga demi kebaikanmu Ta." ucap Fero. "Ya Tata juga tahu Om, Om enggak mungkin mengambil keputusan yang bakalan bikin Tata terluka." ucap Tata. memaksakan senyumnya. ............... "Wooooyy ngelamun bae." ucap Ega yang mengagetkan Tata. "Lo kenapa sakit.? Muka lo pucet?" tanya Imel. "enggak gue cuman kurang tidur." jawab Tata. Pandangan Ega dan Imel mengarah ke atas meja di sana Ponsel Tata terus berdering namun Tata acuh tidak menghiraukan ponselnya tidak berhenti berdering. "Lo enggak angkat tuh telepon.?" tanya Ega. "Enggak penting." jawab Tata. "Ya kali enggak penting tapi tuh ponsel dari tadi geter terus" ucap Imel. Tata hanya mengangkat bahunya acuh. sedari tadi Brian terus menelepon Tata namun Tata tidak berniat mengangkat telepon Brian, antara marah, cemas, bingung semua campur aduk. Apa yang harus Tata katakan pada Brian sang kekasih bahwa dia akan di jodohkan dengan kakek tua, Tata sudah terlanjur sayang terhadap Brian.. Tapi Tata tidak bisa seperti ini terus dia harus terus terang kepada Brian sebelum Brian tahu dari orang lain. Tata pun mengirim pesan kepada Brian To:brian Apakah kau sudah kembali ke Jakarta..? Bisakah kita bertemu.? Send   From:brian   Kenapa kau tidak angkat telepon dari ku..? Ada apa.? Ya aku sudah kembali nanti aku akan menjemputmu sepulang sekolah." Tata pun memasukkan ponsel nya ke dalam saku seragam tanpa membalas pesan dari Brian. ................. "By gue duluan ya Ta." ucap Ega dan Imel. Mereka pulang dan Tata menunggu Brian datang menjemputnya. Dari jauh terlihat mobil sport mendekat ke arah Tata dan tata tau itu mobil Brian, mobil itu berhenti di depan Tata tanpa menunggu lama tata masuk ke dalam mobil. Suasana hening sedari tadi mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.. Brian memikirkan ada apa dengan Tata sedangkan Tata bingung apa yang harus dia bicarakan, Tata bingung harus mulai dari mana. "Ada apa hemmm?" tanya Brian sambil mengelus pipi Tata. "ada yang ingin aku bicarakan Bri, ini sangat penting.." ucap Tata pelan. "Baiklah kalau memang sangat penting kita bicarakan di rumah." .................. "Ada apa hemm?" tanya Brian sambil mengangkat dagu Tata agar menatap ke arahnya.. "Bri aku ingin kita putus." Ucapan Tata bagai petir disiang bolong, Brian tidak pernah menyangka Tata akan mengucapkan kata putus. "why?" tanya Brian lirih. Bulir-bulir cairan bening pun turun membasahi pipi Tata, Brian yang melihatnya langsung membawa ke dalam dekapannya, diciumnya puncak kepala Tata. "Ssttttttt kenapa.? Coba jelaskan.!" pinta Brian lembut sambil mengusap-usap punggung Tata. "Bri aku dijodohkan." ucap tata "kenapa bisa.? Apa yang terjadi." tanya Brian. Tata pun menjelaskan akar permasalahannya kepada Brian. "tidak, kau tidak boleh menikah dengan siapa pun kecuali denganku." ucap Brian meninggikan suaranya sontak membuat Tata terkejut. "enggak bisa Bri, aku sudah menerima perjodohan itu dan dalam waktu seminggu pernikahannya akan diselenggarakan." jelas Tata yang ikut meninggikan suaranya. "kenapa kau tidak mengatakannya dari awal dan malah mengambil keputusan sepihak tanpa memikirkan perasaan aku." ucap Brian sedikit membentak Tata. Tata yang tidak terima dengan tuduhan Brian pun tersulut emosinya "aku sudah mencoba untuk minta pertolonganmu tapi kau lebih mementingkan meetingmu dari pada aku bahkan kau berjanji akan menelepon sesudahnya tapi mana...? kau bahkan tidak peduli." Tata benar-benar emosi, Tata terus menangis sambil mengeluarkan semua amarahnya yang dari kemarin dia pendam. Tata pun berdiri dan hendak pergi namun Brian mencekal tangan Tata dan menariknya sontak Tata jatuh ke pelukan Brian. "Tata, honey kita bisa batalkan pernikahan itu, aku akan membantu perusahaan Papahmu..okey." ucap Brian melembut. "sudah terlambat Brian, Sudah terlambat." jawab Tata di tengah isak tangisnya. Brian memeluk tubuh Tata erat seakan tidak ingin kehilangannya, Brian menjauhkan tubuh Tata dan menangkup wajah Tata. "look at me,! Apakah semua ini akan berakhir seperti ini hem.?" lirih Brian. "aku juga tidak mau seperti ini Bri, keadaan yang memaksa kita harus berakhir seperti ini." "pleas jangan tinggalkan aku." lirih Brian sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Tata... Perlahan dilumatnya bibir Tata dengan lembut di hisapnya dengan penuh perasaan seakan ini terakhir untuk Brian menyentuh bibir Tata yang selama ini membuatnya candu. Tata pun membalas kecupan-kecupan lembut Brian, Tata membuka mulutnya memberi kesempatan lidah Brian untuk bermain dengan lidahnya, Brian menekan tengkuk Tata memperdalam ciumannya, ciuman yang awal nya lembut kini semakin menuntut... Brian mendorong tubuh Tata ke arah kursi dan menidurkannya tanpa melepas ciuman panas mereka.. Tangan Brian mulai membelai paha mulus Tata. "Mmhhhh" Tata pun tidak kuasa menahan desahannya yang tertahan karena Brian masih terus bermain dengan bibir Tata. Tangannya terus bermain di paha Tata dan berpindah ke perut mulus Tata di usapnya perut datar Tata dan mulai naik ke arah p******a Tata di remasnya pelan sontak membuat tubuh Tata bergetar hebat. Tangan Tata mulai menarik rambut Brian karena tidak tahan menahan getaran hebat ditubuhnya.. Perlahan ciuman Brian turun ke arah leher jenjang Tata di hisapnya sehingga menimbulkan tanda kepemilikannya.. Brian mulai membuka kancing kemeja Tata namun Tata menahannya Brian menatap Tata dan tata menggelengkan kepalanya pelan.. Brian pun berdiri dan mengusap wajahnya frustrasi.. "Maaf." lirih Brian. "aku tahu sekarang kau bukan lagi milikku hubungan ini sudah berakhir." ucap Brian membelakangi Tata yang terduduk di sofa.. "aku harap kau tidak melupakanku." ucap Brian sambil berlalu meninggalkan tata yang mulai menangis. Tata tidak menyangka cinta pertamanya akan berakhir seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN