2 bulan kemudian
Hubungan Tata dan Brian terbilang lancar tanpa hambatan, mereka belajar mengerti satu sama lain.Namun hubungan mereka masih backtsreet, dari teman dan keluarga Tata.
Tata tidak ingin hubungannya diketahui oleh teman-temannya, Tata takut mereka berpikir yang tidak-tidak.Karena Tata menjalin hubungan dengan pria yang terpaut sebelas tahun jarak umurnya tapi tidak bagi Stefan, dia mengetahui bahwa Brian bukan Om nya Tata, dia sudah mengetahui bahwa Brian kekasih Tata.
Tapi itu tidak menyurutkan niat nya untuk Tetap mendapatkan hati Tata bahkan terang-terangan meskipun di hadapan Brian sekalipun.
Namun kabar mengejutkan akan segera membuat hubungan Tata dan Brian akan berubah, entah kearah baik atau sebaliknya.
..................
Tata sedang berada di salah satu Mall pusat kota, dia sedang bersama ke dua sahabatnya Imel dan Ega. Tiba-tiba Fero meneleponnya.
"Tunggu ya Om fero nelpon nih, gue angkat dulu." ucap Tata ke pada ke dua sahabatnya itu.
"Ya hallo Om."
"Tata kamu dimana.?"
"Tata lagi jalan sama Imel dan Ega Om, ada apa.?" tanya Tata.
"om sedang berada di rumah mu, bisakah kau pulang sekarang.?"
"Oh tentu Om, memangnya ada apa?" tanya Tata penasaran , karena tidak biasnya Om Fero tidak mengabarinya saat datang ke Indonesia.
"sebaiknya kau segera pulang. Nanti kita bicarakan di rumah,"
Telpon pun terputus, Tata berjalan ke arah ke dua sahabatnya
"Guys kayak nya gue pulang duluan, Om Fero ada di rumah gue."
"Loh kapan Om Fero ke Jakarta.?" tanya Imel.
"Gue juga enggak tau, tau-tau Om Fero sekarang udah berada di rumah gue." jawab Tata.
"Ya udah gue cabut duluan ya, by girls." sambung Tata.
"By, hati-hati Ta.!" ucap Ega.
.................
Setibanya di rumah, Tata sudah melihat Fero di ruang keluarga.
"Om" sahut Tata.
"Sayang, sini duduk.!" jawab Fero.
Tata pun duduk di dekat Fero.
"Ada apa Om, apa ada masalah.?" tanya Tata yang melihat raut muka Fero sedikit kusut.
"Tata Om mau membicarakan hal penting." ucap Fero.
"Ya Om katakan.!"
"ada satu masalah dengan perusahaan Papahmu yang sekarang Om kelola." jelas Fero.
Seketika membuat tubuh Tata membeku.
"Apa yang bisa Tata bantu Om.?" tawar Tata.
Fero membuang napasnya kasar.
"Om sebenarnya tidak bisa bekerja maksimal dengan memegang dua perusahaan besar sekaligus Ta, sampai berefek pada hasil dan saham perusahaan yang anjlok." jelas Fero.
Tata masih mendengarkan dengan seksama.
"kalau tidak segera ditangani, perusahaan yang dibangun Papahmu dari nol dengan susah payah lama-lama akan bangkrut." jelas Fero.
Satu tetes air mata jatuh ke pipi Tata, Tata tidak menginginkan perusahaan yang di bangun dengan kerja keras oleh Papahnya hancur begitu saja.
"Jadi apa yang harus kita lakukan Om?" tanya Tata sambil terisak.
"Tenang sayang, Om pasti akan mencari cara agar perusahaan Papahmu tidak jatuh, tapi itu perlu bantuanmu sayang." jelas Fero.
"Tentu Om tentu Tata akan bantu, apa yang harus Tata lakukan.?" tanya Tata cepat.
"ada salah satu perusahaan besar yang mau membantu perusahaan kita tapi dengan satu syarat." jelas Fero.
"syarat.? Syarat apa itu Om.?" tanya Tata.
"kau harus bersedia menikah dengan pemilik perusahaan itu.!!"
Ucapan Fero bagaikan petir disiang bolong Tata berharap bahwa ucapan Fero hanya gurauan semata tapi tidak dari raut wajah Fero mengatakan bahwa dia serius, Tata semakin terisak dalam tangisnya.
"Sayang, ini demi perusahaan kita, kalau kau mau menikah dengan orang itu, perusahaan yang Papahmu bangun bisa selamat." bujuk Fero.
"lagi pula Om juga berharap kau menikah dengannya supaya kau tidak sendiri lagi ada yang menjagamu, ada yang memperhatikanmu."
Tata masih hening mendengarkan perkataan Fero
"bukannya Om tidak mau menjagamu tapi kondisinya sayang, kau di Indonesia dan om di Singapura, Om tidak bisa dua puluh empat jam mengawasimu, menjagamu." sambung Fero.
"Tapi om Tata masih sekolah, tidak bisakah di tunda satu tahun lagi sampai Tata lulus sekolah.?" tanya Tata.
"tidak bisa Tata sayang." ucap Fero sambil membelai rambut Tata lembut.
"Tata butuh waktu buat memikirkan itu Om, Tata minta waktu Om."
"Baiklah, pikirkanlah malam ini besok Om tunggu jawabannya, sekarang mandi dan makan, sehabis itu beristirahatlah." ucap Fero sambil mengecup kening Tata dan berlalu pergi ke lantai dua.
................
Pikiran Tata sangat kalut, apa yang harus Tata lakukan sekarang, Brian..
Ya nama Brian seketika terlintas dipikirkannya, Tata akan meminta bantuan Brian kekasihnya.
Tata pun mencoba menelepon Brian.
Tuut tuttt
"Halo honey"
"Halo, kau sedang apa Bri?" tanya Tata.
"aku sedang meeting honey, ada apa.? Apa terjadi sesuatu.? Apa bocah tengil itu mengganggumu lagi?" tanya Brian panjang lebar, bocah tengil yang Brian maksud adalah Stefan.
"Tidak Bri, Stefan tidak menggangguku, kapan kau pulang.?" tanya Tata.
Ya sekarang Brian memang berada di milan, dia ada perkerjaan di sana.
"mungkin dua hari lagi, ada apa,? Apa kau merindukanku.?" ucap Brian menggoda Tata.
"Ya aku merindukanmu" lirih Tata.
Dan itu membuat Brian yang di seberang sana bingung, biasanya dia akan berdebat dengan Tata jika Brian mencoba menggodanya.
"Hei honey ada apa.?Coba cerita aku ini kekasihmu.!" ucap Brian.
"Bri aku " perkataan Tata terpotong karena Brian langsung berkata
"honey masalahnya bisa kita bahas setelah aku selesai metting kan, aku janji akan langsung meneleponmu." ucap Brian langsung menutup telepon secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Tata.
Tut tut
Bahkan meetingnya lebih penting dari masalahku lirih Tata
"Mah Pah, apa yang harus t
Tata lakukan, apa Tata harus menerima perjodohan ini." lirih Tata dalam tangisnya.
Tata pun merebahkan dirinya mencoba untuk tidur tapi tidak bisa.
Ya Tuhan apa iya nasibku jadinya harus di jodohin kayak gini dengan pemilik perusahaan tunggu-tunggu pemilik perusahaan jangan bilang aku harus menikah dengan kakek tua umur enam puluh tahun dan jadi istri ke dua, oh ya Tuhan miris banget hidupku harus menikah dengan kakek tua, punya pacar yang umurnya cuman beda sebelas tahun saja udah bikin aku nutup-nutpin hubungan ini apalagi ini aku menikah sama kakek-kakek, bisa-bisa aku tidak berani keluar rumah.
Ya semalaman pikiran Tata berkecamuk tentang perjodohan dengan Kakek-kakek tapi Tata sudah pasrah dan siap Menerimanya demi perusahaan Papahnya.
Tadinya Tata ingin meminta bantuan Brian tapi Tata rasa Brian tidak peduli, bahkan Brian tidak menelepon Tata kembali setelah selesai meeting.