Menginap 2

1015 Kata
"Kalau kau mau, aku tidak memaksa," ucap Brian. Tata ragu-ragu. Masa gue panggil nama tu pak tua, kan enggak sopan, ah bodo amat dia yang nyuruh ini batin Tata. "O oke, Tata setuju" jawab Tata. Brian pun tersenyum, senyum yang tidak dapat di artikan ............... Brian pov Shit , aku sudah beberapa kali berciuman dengan wanita tapi tidak ada yang sampai membuat ku candu seperti ini. Berbeda saat aku merasakan bibir manis Tata, ada rasa berbeda bagai nikotin yang membuatku ingin terus merasakan nya. Saat aku masuk ke dalam kamar tempatnya tidur. Aku melihat dia sudah terbangun, aku bertanya dan membuatnya sedikit terkejut... Aku mendekat dan seseorang entah siapa menelepon Tata. Dia sempat terkejut melihat ponselnya entah siapa yang menelepon aku terus mendengarkan dan memperhatikannya. Aku memperhatikan setip inci mukanya, ya Tata memang cantik sangat cantik, gadis kecil ini mempunyai hidung kecil yang mancung...bulu mata yang indah...dengan mata beriiris abu kebiruan, kulit yang putih bersih. Pikiran ku terhenti saat Tata mulai bertanya... Sepertinya dia akan pulang mengingat ini sudah malam.. Tapi aku melihat ada sedikit keraguan, entah apa tadi yang di bicarakan saat dia menerima telpon, dia keluar kamar dan menuju ruang tengah sambil mengambil tas nya.. Aku mengikutinya dan terus memperhatikannya sepertinya ada yang tidak beres dengan Tata setelah itu dia sepertinya menelpon temannya entah untuk apa, aku hanya memperhatikan Sampai Tata berpamitan untuk pulang dan keluar rumah.. Aku lihat gerak geriknya dari jendela dan ternyata dia enggan pulang, ada rasa senang, entah apa alasannya Tata enggan pulang ke rumahnya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menghampirinya yang masih diam di teras rumah. Aku bertanya dan memang benar ada masalah dengan mobil dan tidak ada orang di rumahnya Jadi dia tidak bisa tinggal sendirian di rumahnya batinku saat itu... Lalu aku berpikir kemana kedua orang tuanya aku sedikit terkejut dengan perubahan ekspresi wajahnya menjadi sedih, apa aku salah menanyakan kedua orang tuanya dan ternyata Tata sudah tidak memiliki kedua orang tua, entah kenapa ada rasa sesak dalam hatiku saat mengetahuinya.. Aku berpikir cara untuk sekedar menghibur dirinya. Terbesit cara untuk menggodanya, ada satu ide aku ingin Tata manggil namaku, bukan om atau kakak, panggilan itu terlalu tua buat ku Aku terus mendekat kearah Tata otomatis dia pun terus mundur, aku terus mengikis jarak antara aku dan Tata, aroma vanila langsung menyeruak indra penciumanku...aroma yang membuat candu dan memabukkan, perlahan aku membisikan kata demi kata ke telinganya dan aku akhiri dengan gigitan kecil ke telinganya aku merasakan tubuhnya menegang sambil mencengkeram bajuku... Aku menjauh dan s**t dia sangat lucu dengan wajah yang memerah ingin rasanya aku mendekap nya dengan erat dan sekali lagi merasakan bibirnya yang membuat aku candu. ................. Author pov Tata berjalan mengikuti Brian ke dalam rumah... "Om eh maksudnya Brian makasih" ucap Tata ragu, rasanya gatal sekali bibir ini menyebut lnhsung namanya batin Tata. Brian hanya tersenyum menanggapi kegugupan Tata saat memanggil namanya, Mereka berjalan menuju lantai dua dimana letak kamar yang akan Brian tunjukan kepada Tata, mereka bediri didepan pintu bercat putih. "kau bisa tidur di kamar ini” ucap Brian. Tata berjalan dan membuka pintu kamar itu, kamar dengan nuansa putih mendominasi, ya sangat nyaman. "Ganti lah pakaianmu, di dalam lemari ada beberapa pakaian yang bisa Kau gunakan" ucap Brian dan hendak pergi. "Ouh iya 15 menit lagi turun ke bawah, kita makan malam" lanjut Brian. Tata hanya mengangguk dan menutup pintu kamar setelah Brian turun ke bawah. Dilihatnya kamar bernuansa putih ini sambil berjalan menuju lemari... "Wow banyak baju perempuan, seingat gue enggak ada perempuan yang tinggal disini, baju siapa ya.?" tanya Tata pada dirinya sendiri. "Ah bodo pakai saja." ucap Tata yng kemudian memilih baju yang hendak dia gunakan. "enggak ada piyama ya, gue pakai baju yang mana dong." Tata bingung memilih-milih baju karena isi lemari kebanyakan dress pesta dan baju kasual. "Ok yang ini aja deh" pilih Tata sambil masuk ke dalam kamar mandi. Setelah siap Tata turun ke bawah karena perutnya memang sudah memberontak dari tadi minta di isi... Setelah sampai Tata melihat Brian sedang sibuk dengan alat masaknya, rambutnya sedikit berantakan, keringat meluncur di pelipisnya. Wah so sexy batin Tata, di Tatapnya Brian tanpa berkedip. Nih om om makan apaan sih, bentuknya bisa sempurna begitu dalam ke adaan apapun, ayo lah jantung kondisikan denyutmu itu batin Tata sambil memegang dadanya. Tata menghampiri Brian yang sedang asik dengan alat masak ditangannya. "Ada yang bisa aku bantu.?" tanya Tata setelah sampai di dekat Brian. "tidak usah, sebentar lagi selesai, kau tunggu saja dan duduk manis disana" jawab Brian. "Ok" jawab Tata sambil berjalan ke arah Pantry yang berseberangan dengan Brian. "kau bisa memasak.?" tanya Tata. "tidak, ini pertama kalinya aku memasak" jawab Brian datar. "Kok bisa, yakin itu masakan bisa di makan nanti.?" ucap Tata ragu dengan masakan Brian. Tanpa menjawab Brian membereskan alat masaknya dan mencuci tangan, Brian berjalan ke arah Pantry dan meletakan beberapa hidangan di meja "finish...kau tidak usah ragu, rasanya di jamin enak" jawab Brian. "yakin nih, kelihatannya enak sih tapi belum tentukan rasanya" ucap Tata. "makannya Kau harus mencobanya.!" ucap Brian sambil duduk di samping Tata. Tata pun mulai menyendok makanan yang dibuat Brian dan langsung membeku. "Bagaimana?" tanya Brian. "Lumayan rasanya tidak terlalu buruk." ucap Tata bohong, sebenarnya rasanya memang enak. Brian hanya tersenyum menanggapinya. "Yakin nih baru pertama kali memasak,? aku ragu” tanya Tata sambil menyipitkan matanya ke arah Brian. "terserah kau mau percaya atau tidak." ucap Brian sambil melahap makanan didepanya. Tata melahap semua makanan yang dihidangkan tanpa tertinggal sedikit pun. "Wow untuk tubuh sekecil ini ternyata kau cukup rakus "ucap Brian heran. "kalau soal makanan aku jagonya" ucap Tata sambil tersenyum manis ke arah Brian Deg deg   Jantung Brian seketika berdegup kencang dilihatnya Tata lekat-lekat mulai dari mata, hidung dan bibirnya. Tata yang diperhatikan seperti itu oleh Brian mencoba mengalihkan pandangannya agar jantungnya tidak melompat keluar. Tapi Brian memegang dagu Tata dan mengarahkan ke arahnya agar wajah Tata berhadapan degannya, perlahan lahan Brian mendekatkan wajahnya ke arah Tata dekat, semakin mendekat. Tata seketika menahan napasnya Ibu jari Brian mulai mengelus bibir Tata yang menggoda, Tata langsung memejamkan matanya saat Brian semakin mengikis jarak antara mereka dan Cup
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN